"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Al-Qiyadah Wal Jundiyah (Sudahkah terealisasi dalam tubuh KAMMI???!!!)

>> Monday, August 18, 2008

Karakter Dakwah Islamiyah pada saat ini mewajibkan setiap Muslim untuk bergerak dan berusaha mewujudkan seluruh tuntutan Islam. Setiap Muslim wajib berusaha mewujudkan dan menegakkan kembali Daulah Islamiyah Alamiyah, suatu negara Islam yang bersifat internasional. Tujuan besar ini merupakan kewajiban setiap Muslim untuk mewujudkannya, dan tujuan ini hanya dapat dicapai dengan adanya jamaah dan harus melalui Amal Jama’i. Jika kita menatap kembali Sirah Rasulullah s.a.w. yang merupakan pengalaman praktis bagi seluruh Dakwah Islamiyah, niscaya kita tahu bagaimana Rasulullah memimpin kaum Muslimin dalam satu jamaah. Karena itu, Hasan Al-Banna mengawali langkahnya dengan mengikuti jalan Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya.



Setiap jamaah yang akan mencapai tujuannya harus memiliki manhaj yang jelas dan bergerak menurut manhaj tersebut. Jamaah harus mempunyai pimpinan.. Satu jamaah tidak mungkin dapat bergerak tanpa pimpinan yang mengatur seluruh gerakannya, menentukan tujuan dan sasaran serta sarana, mengawasi dan mengontrol pelaksanaaan programnya. Sedangkan dalam beberapa hal yang memerlukan penjelasan, jamaah dapat merujuk kepada pimpinan tersebut. Selain itu, pemimpin juga berfungsi menghapus perselisihann yang timbul.



Pimpinan dalam satu jamaah ibarat kepala bagi tubuh. Inilah yang menentukan tujuan dan di sini pula tempat berkumpulnya segala macam informasi. Pemimpin dalam satu jamaah, juga merupakan lambang kekuatan, persatuan, keutuhan dan disiplin shaff. Sedangkan persatuan adalah lambang kekuatan. Karena itu kedudukan pimpinan dalam satu jamaah amat penting dan utama. Pemimpin harus membawahi para anggotanya.



Pada dasarnya kaum Muslimin merupakan satu angkatan yang bergerak dan berjuang bersama untuk Islam. Karena itu setiap Pribadi Muslim menjadi anggota yang berguna dan aktivis yang berhasil guna dalam mewujudkan kesatuan umat dan menegakkan Daulah Islamiyah. Dalam Sirah Rasulullah s.a.w. tampak jelas bahwa beliau mendidik dan membentuk generasi Muslim pertama dengan ajaran Al-Qur’an di dalam madrasahnya. Mereka menjadi tiang dan fondasi kuat bagi tegaknya Daulah Islamiyah. Kemudian Rasulullah mempersaudarakan mereka dengan ikatan aqidah.

Apapun kedudukan, jabatan dan peringkatnya, seorang pemimpin tetap dibebani amanah dan berbagai tanggung jawab. Beban ini bukan suatukemegahan dan kebanggaan. Sebab pemimpin di gelanggang amal islami mempunyai tanggung jawab yang lebih berat karena ia bergerak dalam gelanggang yang luas dan penting. Karena itu setiap anggota dn pimpinan jamaah harus menyadari betapa beratnya amanah dan beban tersebut.

Beban ini akan bertambah berat sejalan dengan berkembangnya gelanggang pergerakan dan bertambahnya cabang jamaah.



Adapun hal-hal yang membantu terlaksaanya tugas pimpinan adalah sebagai berikut:

1) Ikhlas karena Allah semata, 2) Peka terhadap pengawasan dan penjagaan Allah yang terus-menerus di setiap waktu, 3) Memohon pertolongan dan perlindungan Allah, 4) Pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar, 5) Pemimpin harus memberikan perhatian yang cukup kepada masalah tarbiyah, 6) Terjalinnya rasa kasih sayang dan ukhuwah yang tulus, 7) Pemimpin harus benar-benar merencanakan program yang tepat, menentukan tujuan, tahapan, cara, sarana, persiapan-persiapan sesuai kemampuan, 8) Pemimpin harus turut merasakan beratnya amanah dan beban yang dipikul oleh pimpinan pusat ( di atasnya), 9) Pemimpin harus bersungguh-sungguh menyalakan cita-cita, mengukuhkan tekad, dan membangkitkan harapan.



Selain hal-hal di atas, Pemimpin juga harus memiliki sifat dan akhlak yang baik. Di antaranya adalah:



1. Senantiasa mengharapkan akhirat denganikhlas karena Allah semata.

2. Berdaya ingat kuat, bijak, cerdas, berpengalaman luas, berpandangan jauh dan tajam, berwawasan luas, dan mampu menganalisis masalah dengan baik.

3. Berperangai penyantun, kasih sayang, lemah lembut dan ramah.

4. Memiliki sifat bersahabat.

5. Berani dan sportif.

6. Shidiq, benar dalam berkata, sikap dan perbuatan.

7. Tawadhu’, merendahkan diri dan tidak membanggakan diri kepada manusia.

8. Memaafkan, menahan amarah, dan berlaku ihsan.

9. Menepati janji dan sumpah setia.

10. Sabar.

11. ‘Iffah dan kiram. Sifat ini melambangkan kesucian jiwa dan tidak mudah tunduk kepada hawa nafsu dan kecenderungan mengotori jiwa.

12. Wara’ dan zuhud. Dua sifat ini dapat menjauhkan seseoranmg dari hal-hal syubhat dan meninggalkan hal-hal yang mengandung dosa, karena takut terjebak.

13. Adil dan jujur, termasuk pada diri sendiri.

14. Tidak mengungkit-ungkit dan menyombongkan diri.

15. Memelihara hal-hal yang dimuliakan Allah.

16. Berlapang dada dan tidak melayani pengumpat dan pengadu domba.

17. Tekad bulat, tawakal dan yakin.

18. Sederhana dalam segala hal.

19. Bertahan dalam kebenaran dengan teguh dan pantang mundur.

20. Menjauhi sikap pesimistis dan over estimasi.



Dalam melaksanakan kewajibannya, pemimpin tidak dapat berjalan sendiri. Seorang pemimpin harus didampingi oleh patnernya, dalam hal ini adalah anggota. Maka sudah sewajarnya apabila pemimpin dan anggota ibarat sebuah keluarga. Dalam pergaulannya sehari-hari, ada beberapa petunjuk yng harus diperhatikan oleh pemimpin. Di antaranya adalah pemimpin harus pandai memilih orang yang layak, pemimpin tidak boleh berburuk sangka dan pesimis, akrab dengan anggotanya, adil dalam pembagian tugas, membuat dan memudahkan jarkom, harus bersungguh-sungguh meningkatkan posisi kepemimpinannya dan melatih anggotanya, harus membangkitkan semangat, membiasakan musyawarah dalam mengambil keputusan, melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, dsb.

Seperti Guru dengan murid harus ada timbal baliknya (take and give), begitu pula dengan pemimpin dan anggota harus ada kontribusinya. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan anggota dalam membina hubungan dengan pemimpinnya adalah berusaha menjadi mukmin yang teguh dan yakin terhadap amal jama’I, mengetahui ketemtuan jamaah, melengkapi diri dengan berbagia kemampuan, menyerahkan hidupnya untuk berjuang di jalan Allah, Setia terhadap jamaah, Harus beriltizam dengan cara gerakan dan langkahnya sebagaimana telah ditentukan jamaah, menjadi pelindung terpercaya terhadap tujuan jamaah, dsb.



Apabila hal-hal di atas telah dipenuhi, niscaya akan terjalin hubungan yang harmonis di antara pemimpin dan anggotanya. Sehingga tujuan jamaah akan tercapai.



Saudaraku, apakah dalam tubuh KAMMI Al-Qiyadah Wal-Jundiyah benar-benar sudah terealisasikan dengan baik???!



Now, mari kita bercermin apakah organisasi KAMMI yang selama ini menjadi salah satu wadah perjuangan kita sudah membangun rumah itu? Rumah yang dikenal dengan Al- Qiyadah Wal-Jundiyah. Walaupun baru fondasinya saja.



Ikhwah fillah, disadari atau tidak. Suka atau tidak. Dipungkiri atau tidak KAMMI belum sepenuhnya membangun rumah itu. Mungkin fondasinya sudah, tapi belum menjadi rumah yang sempurna. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak berjalannya atau kurang suksesnya kegiatan KAMMI. Memang, mungkin kita bisa mengatakan: ‘Tapi kan banyak faktor yang menjadi kendala. Banyak faktor yang menyebabkan kegiatan KAMMI tidak sukses.’ (semoga bukan dalam rangka mencari kambing hitam). Mungkin memang benar banyak faktor, bahkan amat sangat banyak. Dan salah satunyanya adalah Al-Qiyadah Wal- Jundiyah yang belum diaplikasikan secara total. Sepakat???



Dalam tubuh KAMMI, Al-Qiyadah Wal Jundiyah dibagi secara srutkural, yaitu:

1. Kader thd jama’ah (KAMMI)
2. Staf thd Kepala/Ketua Departemen
3. Kepala/Ketua Departemen dan Biro thd Ketua Komsat/Daerah/Pusat
4. Komsat thd KAMMI Daerah
5. KAMMI Daerah thd Pusat

Begitu pula dalam kepanitiaan.



Jika hal di atas sudah direalisasikan, tentu akan terjalin alur komunikasi dan koordinasi yang baik. Tidak ada lagi hal-hal /statement yang menjatuhkan satu sama lain. Yang ada hanyalah saling memotivasi, saran, dan kritik yang membangun (kritik positif).



KAMMI masih belajar dan akan terus belajar untuk merealisasikan hal itu, agar KAMMI menjadi lebih baik lagi. Mungkin jika KAMMI diberikan kesempatan untuk berbicara, ia akan berkata: ‘Jangan jadikan Aku katak dalam tempurung. Biarkan Aku dengan bebas mempelajari apa yang ada di dunia ini. Apa pun itu. Dan sudah jelas tertera dalam Al-Quran. Biarkan Aku seperti burung, bebas terbang di angkasa luas.’

Ikhwah fillah, apakah kita akan membiarkan KAMMI menjadi seperti katak?? Atau Burung?? Hanya kita yang dapat menjawabnya dengan Komitmen dan Kontribusi Konkret kita untuk KAMMI!!!





Ada Jundullah yang mengatakan:



“Aktivis yg bukan Dai tak peka dng masalah umat sekitarnya, maka kerjanya tak efektif.

Jadwal rapatnya padat membuat ia tidak menapak bumi. Ia hanya berpikir Proker dan Tugas pada jabatannya. Dimanakah Dai yang Aktivis?”





Disarikan dari buku ‘Al-Qiyadah Wal-Jundiyah: Musthafha Yusuf Mansyur’

0 comments:

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP