"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Mereka Generasi Penerus Bangsa

>> Friday, August 29, 2008




Seorang anak kecil berlari tanpa alas kaki di atas aspal ibu kota. Mengejar metro yang sesekali berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Berbekal krecekan atau botol aqua yang di dalamnya ada beras atau pasir, si kecil melantunkan lagu-lagu, yang seharusnya bukan untuk mereka. Berbalut pakaian yang tak layak pakai, si kecil terus bernyanyi. Tanpa peduli apakah suaranya layak di dengar atau tidak. Tak peduli dia hafal lagu itu atau tidak. Bahkan tak jarang lendir keluar dari hidungnya. Dia terus bernyanyi. Sampai akhirnya, mengambil kembali amplop-amplop yang sebelumnya dibagikan kepada para penumpang atau menengadahkkan tangan, kantung permen untuk meminta imbalan atas lagu mereka. Mungkin tepatnya menminta suimpati / belas kasihan dari para penumpang.

Di sudut kota lain, gadis belia berdiri di pinggir jalan. Tak peduili malam telah memayungi bumi. Dengan make-up tebal, rambut yang ditata sedemikian rupa, lipstick yang mengisyaratkan sensualitas bibirnya, alas kaki berhak tinggi, dan berbalut pakaian yang sangat seksi, dia tetap berdiri di sana. Senyum menawan tak pernah hilang dari bibirnya. Sungguh pemandangan malam sangat kontras dengan pagi sebelumnya. Pada waktu pagi, dia masih mengebnakan seragam. Layaknya anak-anak lain yang bersekolah. Tak ada make-up, pemulas bibir, aksesoris rambut pada dirinya. Yang ada hanyalah potret seorang gadis ayu, polos, dan terkesan belum mengerti apa-apa tentang hidup.

Tentu kita sepakat, bahwa kedua ilustrasi di atas adalah gambaran yang sudah pernah atau sering kita dengar / lihat. Ya, kedua ilustrasi di atas memang merupakan sebagian kecil dari potret buram ‘kekerasan’ terhadap anak. Adanya UU Perlindungan Anak tidak lantas menghilangkan fenomena di atas. Kekerasan fisik, eksploitasi anak, menjadikannya mesin uang (penyanyi jalanan/pekerja seks) tetap menghantui hari-hari mereka. Terutama bagi mereka yang hidup di lingkungan menengah ke bawah sekali.
Saya pernah melihat berita di Televisi yang menayangkan tentang kekerasan terhadap anak. Tepatnya anak dijadikan pekerja seks di Kota Cianjur. Selain itu dijelaskan pula 43 juta anak mengalami kekerasan, yakni dijadikan sebagai pekerja seks. Berdasarkan data KOMNAS juga disebutkan 400 juta anak mengalami berbagai kekerasan dalam hidupnya. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, setengah tahun ini jumlah kekerasan pada anak meningkat 54 %. Sungguh miris memang. Setiap tahun kita memperingati Hari Anak. Namun, setiap tahun pula persentase anak-anak korban kekerasan semakin bertambah.

Pada saat diwawancarai, Pemerintah hanya mengatakan sudah ada UU Perlindungan Anak. Padahal kita ketahui bersama bahwa UU hanyalah aturan tertulis (Benda mati). Berjalan atau tidaknya, itu tergantung pada pihak-pihak terkait atau aparatnya. Dalam hal supremasi hukum, dalam hal ini UU Perlindungan anak, semua pihak harus terlibat secara aktif. Mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, Masyarakat, KOMNAS Perlindungan Anak, Psikolog, Agamawan, Guru, Keluarga, dan yang paling utama adalah orang tua. Jika semua item di atas sudah sinergis, niscaya kekerasan terhadap anak sedikit demi sedikit dapat diminimalisasi.



Berbicara tentang anak juga tidak terlepas dari sosok-sosok generasi penerus bangsa. Ya, sosok-sosok kecil yang kini mayoritas menjadi korban kekerasan, boleh jadi merupakan salah satu orang yang nantinya berjaya di masa depan, sebagai agen perubahan bangsa. Atas kehendak Allah (Izin dari Allah), Dzat Maha segalanya, mereka bisa mengubah bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu, yuk kita sama-sama membimbing dan membina mereka, sesuai dengan kemampuan kita. Untuk masa depan bangsa lebih baik lagi.


Bogor, 21 Agustus 2008

0 comments:

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP