"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Inilah Nama-nama Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II

>> Friday, October 23, 2009


Rabu, 21 Oktober 2009 | 22:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengumumkan susunan kabinet yang dinamai Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Rabu (21/10) di Istana Negara.

Tampaknya, nama-nama yang selama ini disebut-sebut untuk menjabat tidak jauh meleset dari perkiraan.

Setidaknya hanya muncul satu nama baru pada posisi Menteri Kesehatan yang semula akan diisi oleh Nila Moeloek.

Inilah susunan nama menteri tersebut:



Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan

Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian

Agung Laksono, Menteri Koordinator Bidang Kesejateraan Rakyat

Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri

Gamawan Fauzi, menteri Dalam Negeri

Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan

Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Negara

Suryadharma Ali, Menteri Agama

Patrialis Akbar, Menteri Hukum dan HAM

Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan

M. Nuh, Menteri Pendidikan Nasional

Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata

Salim Segaf Aljufri, Menteri Sosial

Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

MS Hidayat, Menteri Perindustrian

Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan

Darwin Saleh Zahedi, Menteri ESDM

Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum

Freddy Numberi, Menteri Perhubungan

Tifatul Sembiring, Menteri Kominfo

Suswono, Menteri Pertanian

Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan

Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan

Armida Alisjahbana, Kepala Bappenas

EE Mangindaan, Meneg PAN dan Reformasi Birokrasi

Mustafa Abubakar, Meneg BUMN

Gusti Muhammad Hatta, Meneg Lingkungan Hidup

Suharna Surapranata, Menteri Negara Riset dan Teknologi

Syarief Hasan, Menteri Negara Koperasi dan UKM

Linda Gumelar, Meneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Andi Mallarangeng, Menteri Pemuda dan Olahraga

Suharso Monoarfa, Menteri Perumahan rakyat

Helmi Faisal Zaini, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal

Endang Rahayu Setianingsih, Menteri Kesehatan



Sumber: www.tempointeraktif.com

Lanjut membaca “Inilah Nama-nama Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II”  »»

Pameran Buku dan Perpustakaan Terbesar

>> Monday, October 19, 2009

Indonesia Library and Publisher Expo 2009
Istora Senayan, 17-25 Oktober 2009

Jika Anda ingin mengetahui koleksi istimewa dan keunikan dari berbagai perpustakaan serta mendapatkan buku dan bahan pustaka dengan harga menarik, pastikan Anda untuk mengunjungi Indonesia Library and Publisher Expo 2009. Pameran Buku dan Perpustakaan ini diadakan tanggal 17-25 Oktober 2009 di Istora Senayan, Jakarta.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI bersama Ikatan Penerbit Indonesia ini diikuti oleh Perpustakaan Nasional dan perpustakaan daerah dari berbagai propinsi di Indonesia (seperti perpustakaan daerah Papua, Waropen, Tebing Tinggi, Tanjung Balai, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah), perpustakaan Diknas, Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan, Mahkamah Konstitusi, dan Universitas Terbuka. Selain menampilkan koleksi-koleksi terbaik dan layanan yang diberikan kepada masyarakat, di pameran ini, Perpustakaan Nasional RI juga akan menyediakan layanan konsultasi mengenai perpustakaan.

Pameran ini juga diikuti oleh perusahaan penerbitan, seperti Kompas Gramedia, Agromedia, Mizan, Erlangga, Rosda Karya, Salemba Empat, Galaxy, Penebar Swadaya, Widyadara, Republika , Ufuk, Zahra, Prenada, Balai Pustaka, Andi, Lentera, dll. Para penerbit akan menampilkan beragam buku dan tentunya akan memberikan diskon khusus. Bahkan, di Ruangan Kenaga 1, penerbit Kompas Gramedia akan menyediakan buku-buku obral dengan diskon mulai dari 50% sampai 80%. Jadi, jangan lewatkan kesempatan yang sangat baik ini. Lengkapi koleksi perpustakaan keluarga Anda.

Yang menarik dari pameran ini, masyarakat juga bisa mengikuti berbagai acara, seperti Seminar Mengelola Perpustakaan, Lomba Mendongeng Anak-anak, Workshop Speed Reading, Ngobrol Bareng Pustakawan library@senayan, peluncuran dan diskusi buku. Berikut ini adalah rangkaian acara yang bisa diikuti di Indonesia Library and Publisher Expo 2009.


Jadwal Acara Harian
Sabtu, 17 Oktober 2009
· Pk. 10.00-12.00 Opening Ceremony Indonesia Library & Publisher Expo 2009
(R. Anggrek)
· Pk. 13.00-16.00 Sarasehan Pustakawan & Penerbit (R. Anggrek)
Narasumber: Agus Umar, S.Ag, S.S, M.Hum (Pustakawan) , Suwandi S. Brata (Direktur PT Gramedia Pustaka Utama), Jemianto (Kepala Perpustakaan Umum Kota Malang)
· Pk. 14.00-16.00 Diskusi "Tren Ilustrasi dalam Penerbitan Buku di Indonesia"
Bersama Joker Syndicate (Panggung)
· Pk. 16.00-18.00 Diskusi Buku Negeri Van Orange (Panggung)

Minggu, 18 Oktober 2009
· Pk. 10.00-15.00 Lomba Mendongeng Anak Kategori Usia 7-9 Tahun (Panggung)
Biaya Pendaftaran Rp50.000 (bingkisan & makan siang)
· Pk. 10.00-12.00 Lokakarya Penerjemahan Buku Anak & Remaja Bersama Himpunan
Penerjemah Indonesia-HPI (R. Anggrek)
Narasumber: Emma Sitohang Nababan & Maria E. Sundah-HPI
Biaya Pendaftaran Rp50.000 (materi lokakarya)
Pendafataran hub. 0813 176 77494
· Pk. 13.00-15.00 Jumpa Penulis & Diskusi Buku Bersama Penerbit Gema Insani (R. Anggrek)
· Pk. 16.00-18.00 Talkshow Kepemimpinan Berdasarkan Golongan Darah Bersama Rajut
Publishing (Panggung)
· Pk. 16.00-18.00 Diskusi Buku "Kamus Dialek Jakarta" Bersama Komunitas Bambu
(R. Anggrek)
Narasumber: JJ. Rizal (Peneliti Betawi Foundation) dan Abdul Chaer (Penulis dan Dosen UNJ).

Senin, 19 Oktober 2009
· Pk. 10.00-17.00 Lomba Perpustakaan Sekolah (R. Anggrek)


Rabu, 21 Oktober 2009
· Pk. 15.00-17.00 Diskusi Buku "Kakawin Sutasoma Karya Mpu Tantular" Bersama Komunitas
Bambu (R. Anggrek)
Narasumber: Dwi Woro Mastuti (UI) dan Hasto Bramantyo (STIB Syailendra Semarang).

Kamis, 22 Oktober 2009
· Pk. 13.00-15.00 Seminar Mengelola Perpustakaan Bersama Pusat Informasi KOMPAS
(R. Anggrek)
· Pk. 15.00-17.00 Seminar The Leader In Me-Overview for Teacher Bersama Dunamis
(R. Anggrek)

Jumat, 23 Oktober 2009
· Pk. 09.30-11.30 Seminar Pengembangan Perpustakaan Digital Litbang Pertanian Bersama Pusat
Perpustakaan & Penyebaran Teknologi Pertanian (R. Anggrek)
· Pk. 14.00-18.00 Workshop Speed Reading: Teknik Membaca Efektif & Efisien Bersama
DR. Sumartoyo-Pengajar Sekolah Tinggi Manajemen PPM (R. Anggrek)
Biaya Pendaftaran Rp150.000

Sabtu, 24 Oktober 2009
· Pk. 10.00-14.00 Lomba Mendongeng Anak Kategori Usia 4-6 tahun (Panggung)
Biaya Pendaftaran Rp50.000 (bingkisan & makan siang)
· Pk. 10.00-12.00 Launching Dan Diskusi Novel Iluminasi & Epitaoh (R. Anggrek)
· Pk. 12.00-14.00 Launching Buku "Inspiring Life of Habiburrahman" (R. Anggrek)
· Pk. 14.00-16.00 Launching Buku "Acara Pidana Indonesia Dalam Sirkus Hukum" Bersama
Penerbit Yudhistira Ghalia Indonesia
Narasumber: Nikolas Simanjuntak (R. Anggrek)
· Pk. 15.00-17.00 Diskusi Buku Kool School (Panggung)
· Pk. 16.00-18.00 Temu Penulis Penerbit Republika Bersama Dianing Widya Y, Penulis Nawang
(R. Anggrek)
· Pk. 18.00-20.30 Senayan Release Party: Ngobrol Bareng Pustakawan library@senayan dan
Developer Software Senayan Library System (R. Anggrek)

Minggu, 25 Oktober 2009
· Pk. 10.00-12.00 Seminar Parenting: Memotivasi Anak untuk Berprestasi Melalui Kisah Para
Sahabat Nabi Bersama Rumah Pensil Publisher (R. Anggrek)
Narasumber: Eka Wardhana (Penulis & Praktisi Pendidikan Anak Muslim)
· Pk. 10.00-15.00 Parade Puisi Bersama Sanggar Alam Kita (Panggung)
· Pk. 13.00-15.00 Jumpa Penulis & Diskusi Buku: Pancasila Bukan untuk Menindas Hak
Konstitusional Umat Islam Bersama Penerbit Gema Insani (R. Anggrek)
Narasumber: Dr. H. Adian Husaini
· Pk. 16.00-18.00 Temu Penulis Penerbit Republika Bersama Bambang Joko Susilo, Penulis
Jangan Main-Main Dengan Tuhan (R. Anggrek)
· Pk. 16.00-18.00 Talkshow Nightmare Academy Bersama Rajut Publishing (Panggung)

Informasi dan Pendaftaran
Sekretariat Indonesia Library and Publisher Expo
Telp. (021) 3141907, 3146050, 32986675, 081311058958


Diunduh dari: http://khaledpunya.blogspot.com


Lanjut membaca “Pameran Buku dan Perpustakaan Terbesar”  »»

Kupu-Kupu


Wujud kepompong membuatnya terpaku
Lama tak bergeming
Tempat itu menjadi saksi kebisuannya
Teriknya mentari, dinginnya malam ia rasakan
Tak membuatnya pergi menjauh

Kini, ia menjelma menjadi kupu-kupu cantik
Sayapnya indah ak kipas warna bermotif
Wujud rupawan kian menghiasi harinya
Sayap ibarat tiket baginya
Tuk tuju tempat-tempat baru

Sesekali ia hinggap di bunga yang sama
Tentu saja hanya transit
Lalu terbang lagi ke mana ia suka
Kalopun kembali ke bunga yang sama
Tuk sekejap saja

Siang yang terik itu menjadi saksi segalanya
Si kupu-kupu tak lagi menikmati dunia luar
Sayap indahnya yang rapuh
Kini terkoyak sudah
Ia terjerembab di lubang yang amat dalam

Tubuh mungilnya tak mampu membawanya ke luar
Pergi meninggalkan tempat itu
Ia hanya bisa meratapi nasibnya kini
Memutar kembali kenangan indah
Bersama teman-temannya yang dulu
Hanya bisa meratap sedih
Terpekur seorang diri... tanpa teman menemani



Lanjut membaca “Kupu-Kupu”  »»

Pernak-Pernik Ikabi

(Episode: Gresik Punya Cerita)

Makan… Makan….

Sebuah kegiatan tanpa adanya makanan, tentu terasa kurang afdhol. Panitia Ikabi mengerti benar akan hal itu. Sampai-sampai boleh dibilang, Halal Bihalal Ikabi kemarin full makanan.

Bagaimana tidak, pada saat tamu undangan datang, sudah dibagikan kue kotakan dan minuman Aqua botol sedang. Setelah itu tak lama setelah pembukaan, kami dibagikan sepiring bakso. Selang beberapa menit, panitia kembali membagikan se-cup kecil es krim. Selanjutnya sepiring nasi rawon/soto, dengan cara estafet. Sebagai hidangan penutup, panitia membagikan segelas es campur.

Wah… Wah… Wah…. Bagaimana peserta tidak kekenyangan tuh. Sepanjang sambutan disambi dengan menyantap hidangan. Nah, ini dia kreativitas panitia pada kgiatan Ikabi kemarin.

Kue Ikabi


Bakso Ikabi


Es krim Ikabi


Soto/Rawon Ikabi




Es Campur Ikabi


Lanjut membaca “Pernak-Pernik Ikabi”  »»

Halal Bihalal Ikabi, re-Connect Ukhuwah

(Episode: Gresik Punya Cerita)


Lebaran kemarin, saya sekeluarga berkesempatan mudik ke kampung halaman (Gresik). Orang tua saya sudah di sana sejak 13 September. Sedangkan saya dan adik, baru tiba Lebaran pertama menjelang Maghrib. Saya berada di sana kurang lebih seminggu. Waktu yang singkat itu, aya pergunakan untuk silaturrahim kepada keluarga di sana. Baik yang di Sedayu, Tubanan, Mojokerto, dan yang di Tuban, serta sowan ke rumah teman-teman (walaupun tidak semua).

Pad 6 Syawal, kami mendapat undangan Halal Bihalal Ikabi. Oleh karena itu, Pagi hari sebelum kepulangan kami ke Bogor, kami menghadiri Halal bi Halal Ikabi. Ikabi merupakan akronim dari Ikatan Keluarga Bani Isma’il. Saya sendiri tidak tahu pasti siapa Mbah Isma’il itu. Bertanya kepada keluarga pun tidak terlalu memberikan hasil. Mereka hanya bilang, Mbah Isma’il itu ialah orang yang membangun Mushola Isma’il di Mriyunan Tengah, Sedayu-Gresik, begitu katanya. Tujuan didirikannya Ikabi yaitu untuk mengikat seluruh keluarga keturunan Mbah Isma’il.

Ukhuwah Islamiyah diibaratkan jaringan informatika dalam sebuah internet. Pasti ada masanya terkena virus/error. Jika sudah demikian, tentu perlu adanya reconnect/reinstallation. Sama halnya dengan Ukhuwah Islamiyah, pasti ada masanya komunikasi terputus. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, di antaranya domisili yang berbeda-beda sehingga mengakibatkan jarak, terputusnya kontak, dan sudah tutup usia. Selain itu juga semakin tahun, semakin sulit mendatangi satu per satu. Oleh karena itu untuk memperbaharui ikatannya, dbuatlah acara yang dikemas dalam Halal Bihalal satu tahun sekali, setiap awal Syawal. Tempatnya bisa berubah-ubah. Kadang di Malang, Surabaya, Ujung Pangkah, Bunderan atau Mriyunan. Tergantung kesepakatan panitia.

Kegiatan kemarin merupakan Halal Bihalal Ikabi ke-34. 99 keluarga yang tercatat sebagai peserta, hadir berserta keluarganya. Praktis peserta yang hadir mencapai 600-an. Layaknya kegiatan pada umumnya, kegiatan ini juga menelan biaya yang tak sedikit. Kocek sebesar 12 jutaan turut menyokong suksesnya kegiatan yang dilaksanakan dari pagi sampai Dzuhur ini. Hmm… cukup besar bukan? Lantas dari mana uang itu berasal? Tenang-tenang, di sini tidak ada praktik korupsi ko. Uang itu terkumpul dari iuran wajib peserta (yang mampu) yang disetorkan setiap tahunnya. Ya, peserta memang disodori kertas isian kesanggupan menjadi donator tetap. Mulai dari 40 ribu sampai tak terhingga. Ya, misalkan bagi Anggota Dewan DPR/MPR RI dari Ujung Pangkah (Demokrat), tentu tidak mengambil bagian yang minimal dong. Dalam kegiatan kemarin junga hadir peserta Ikabi dari Bali.

Susunan acara Ikabi tidak berbeda jauh dengan kegiatan pada umumnya, yaitu:
Pembukaan: Pembacaan Qur'an
Sambutan-sambutan:
1. Panitia
2. Wakil wilayah: Ujung Pangkah dan Malang
3. Ketua Ikabi
Istirahat
Pembagian dana sosial kepada kaum Dhua’fa
Doa & penutup

Apa yang dilakukan manusia, tentu sangatlah jauh dari kesempurnaan. Walaupun peserta yang hadir ratusan, namun tidak semua orang dapat bertegur sapa. Ditambah lagi posisi kursi yang semua menghadap ke depan. Praktis peserta yang hadir hanya dapat mengobrol sama orang sederetnya, depan, dan belakangnya saja. Kalau dengan yang posisinya jauh, paling hanya bisa mengucapkan salam dan senyum sekadarnya. Apapun itu, semoga Ikabi ini tetap eksis menjalin silaturrahim para pesertanya.

Lanjut membaca “Halal Bihalal Ikabi, re-Connect Ukhuwah”  »»

Lagi-Lagi Facebook


Facebook atau lebih akrab dikenal dengan FB, bukanlah kata yang asing di telinga kita. Mulai dari ABG (Anak Baru Gede) sampai AKG (Anak Kelewat Gede alias orang tua kita). Dalam sekejap, FB memang mampu menyihir semua orang. Mulai dari yang kerjanya nge-net sampai yang baru nge-net. Tak peduli tidak bisa caranya kirim email, yang penting punya FB.

Saya jdi teringat ketika berlibur ke Jawa, tiga bulan lalu. Hampir setiap hari, sekitar pukul 07:00 sampai 08:00-an, agenda saya menemani teman tante saya ke warnet. Perkenlan kami tidak direncanakan. Kami bertemu ketika ibu dua orang anak ini sedang mengantar anaknya privat ke rumah tante. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya dia ‘meminjam’ saya untuk menemaninya. Ternyata dia minta diajarkan membuat FB. Karena dia belum memiliki email, maka kami pun membuatnya terlebih dulu. Setelah FB sudah jadi, saya tanya, “Mana id teman-teman yang mau di-add?” Lalu dia menjawab tidak ada. Dia pun menyebutkan alamat almamater sekolahnya, namun tetap tidak ada yang dikenal. Kami pun pulang dan menyusun agenda berikutnya. Saya kagum dengan semangatnya, walaupun sudah berumur, rasa ingin tahunya besar.

Sepenggal kisah di atas, sering saya temui. Teman-teman minta dibuatkan FB, tetapi belum memiliki email dan tidak tahu id teman-teman yang mau di-add/di-invite. Meskipun begitu, saya senang dapat membantu mereka. Tentu saja saya juga tidak terlepas dari pertanyaan teman-teman saya, Alamat FB mu apa? Minta alamat FB-nya dong? Punya FB ngga? Fi, alamatnya apa? Ukht, alamatnya apa? Pertanyaan-pertanyaan serupa sering mampir di telinga atau telepon seluler saya. Kalau sudah begitu, saya jadi sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, yang tak puas dengan jawaban, ana belum tertarik, ana belum minat. Selanjutnya, ada-ada saja polah mereka. Ada yang mau membuatkan, ada yang menyuruh membuat, dsb. Dalam email pun hamper setiap hari ada invite FB dari teman-teman.

Ya, sampai tulisan ini diposting, saya memang belum memiliki FB. Alasannya tetap sama, belum tertarik. Saya sama sekali tidak antipati terhadap jaringan pertemanan tersebut, hanya saja belum ingin membuat akun di dalamnya. Lagipula, tidak antipti bukan berarti harus gabung kan….

Lanjut membaca “Lagi-Lagi Facebook”  »»

Dakwah Jangan Pernah Mati

Tidak jarang tanpa sadar (walaupun terkadang sebenarnya sadar) kita merasa bahwa sudah begitu banyak peranan kita dalam mendakwahkan Dienullah tercinta ini. Dengan setumpuk kegiatan yang telah dan sedang kita selesaikan, kita menjadi berbangga hati bahwa kita telah memberikan “sesuatu” bagi Al Islam.

Padahal, tahukah kita bahwa sebenarnya keikutsertaan kita di dalam dakwah selama ini adalah sangat kecil dibandingkan dengan semua nikmat yang telah Allah karuniakan kepada kita. Boleh jadi telah 20 tahun lamanya kita bergelut di dunia dakwah ini dengan mengantongi jam terbang 10 jam setiap harinya. Itu berarti sudah kurang lebih 262.800.000 detik lamanya kita berdakwah untuk Al Islam. Tapi tahukah kita bahwa dibandingkan hanya dengan satu nikmat Allah yaitu nikmat untuk bernafas selama 630.720.000 detik, ternyata perjuangan kita itu tiada sepadan sedikitpun.

Astaghfirullah….


Menyadari hal tersebut, masihkah tiada timbul rasa malu kita bahwa ternyata kita masih melulu berpikiran bahwa dakwahlah yang memerlukan kita? Sekali-kali tidak! Dakwah tiada pernah memerlukan kita. Kitalah yang memerlukan dakwah ini layaknya kita memerlukan Allah SWT. Kita harus tahu, bahwa seandainya di seluruh jagad ini tiada satu pun manusia yang terlibat di dalam dakwah, Allah tetaplah Allah, kekuasaan-Nya tidak akan berkurang sedikitpun!!!

Oleh karena itu, Saudaraku yang berbahagia, bukan masanya lagi kita hanya duduk menunggu datangnya panggilan dakwah. Bukan masanya lagi kita hanya berdiri di bagian paling belakang barisan dakwah, terlebih tiada pernah terlibat di dalamnya. Mari, bersama kita kuatkan ‘azam, raih kesyahidan dalam indahnya dunia dakwah, kita songsong kejayaan Islam.

Allahu Akbar!


Nb: Ditulis kembali dari lembar Taujih Ruhiyah, FBS-UNJ

Lanjut membaca “Dakwah Jangan Pernah Mati”  »»

Batik dan Budaya Positif Bangsa

>> Friday, October 2, 2009

Jum'at, 2 Oktober 2009 - 09:32 wib


Membicarakan batik tidak sekadar membicarakan secarik kain yang dipakai untuk pakaian, seprei, taplak meja atau keperluan rumah tangga lainnya.

Membicarakan batik berarti membicarakan budaya bangsa Indonesia. Batik telah menjadi bagian aktivitas keseharian manusia Indonesia berabad-abad silam. Batik telah dikenal sejak zaman kerajaan Jenggala, Airlangga, Majapahit hingga masa kini. Yang sering tidak kita sadari adalah dalam batik dan membatik ada budaya positif yang sebenarnya sudah mendarah daging dalam masyarakat kita walau budaya positif tersebut seiring dengan perkembangan zaman mulai terkikis perlahan.

Budaya-budaya positif itu antara lain ketekunan, kemandirian, kewirausahaan, dan kreativitas-- yang kalau boleh meminjam bahasa anak muda--tak ada matinya. Membatik adalah kegiatan yang harus dilakoni dengan kesungguhan dan ketekunan. Untuk menghasilkan selembar batik tulis halus diperlukan sikap konsistensi dan kesabaran dengan tingkat kecermatan yang tinggi. Ini mengajarkan pada kita budaya tekun dan konsisten dalam mengejar dan mewujudkan cita-cita dengan menghasilkan sebuah karya yang paripurna.

Bertolak belakang dengan budaya instan yang belakangan sangat mendominasi dalam kehidupan masyarakat kita. Bangsa ini sudah hampir melupakan sebuah proses. Padahal sebuah proses akan menjadikan kita menjadi lebih bijak dalam bersikap dan lebih tahan terhadap tantangan. Ulat saja memerlukan proses berhari-hari untuk menjadi kupu-kupu yang indah. Demikian juga dengan batik, perlu ketekunan dan kesabaran yang konsisten untuk menghasilkan selembar kain indah. Banyak yang menginginkan kesuksesan tanpa melalui kegiatan yang bernama proses. Maunya jalan pintas. Tak mengherankan apabila segala jalan dilakukan.

Termasuk jalan haram demi untuk mengejar hasil sehingga menjadi wajar apabila kasus penyalahgunaan wewenang, termasuk korupsi, masih marak di negeri ini. Sayangnya sikap pragmatisme dan budaya instan ini juga sudah menjangkiti para pembuat kebijakan. Bangsa ini jarang suka bermain panjang dengan meletakkan dasar-dasar pembangunan yang memang baru akan dirasakan kelak. Misalnya lebih suka memilih mengimpor produk dari luar negeri yang memang kadang lebih murah daripada membuat kebijakan yang melindungi industri dalam negeri.

Kegiatan membatik juga mengajarkan budaya kemandirian. Seperti kita tahu, seluruh bahan yang digunakan dalam sebuah proses menghasilkan kain batik berasal dari dalam negeri dan bisa dibuat oleh masyarakat sendiri dengan berbagai skala industri, mulai rumah tangga hingga pabrikan. Kalaupun ada bahan yang diperlukan yang di daerah tersebut tidak ada biasanya didatangkan dari kota lain atau dari luar pulau saja. Tidak perlu sampai mengimpor dari negara lain.

Sebenarnya secara tidak langsung ini juga mengajarkan kepada kita nasionalisme yang sesungguhnya, bukan nasionalisme slogan yang terasa kaku, hambar, dan tidak menguntungkan rakyat.***

Selain mengajarkan sikap nasionalisme, kegiatan membatik adalah kegiatan wirausaha yang padat karya dengan melibatkan banyak orang. Dulu zaman nenek saya, bahkan sampai zaman almarhum ibu saya, membatik adalah salah satu keterampilan yang pasti dikuasai oleh kaum wanita. Sampai-sampai ada gurauan, aib kalau wanita tidak bisa membatik. Membatik menjadi kegiatan yang jamak dilakukan oleh ibu-ibu hampir di setiap rumah tangga. Tentunya kegiatan positif ini mampu menunjang perekonomian keluarga.

Bahkan beberapa menjadi backbone perekonomian keluarga di sentras-entra batik seperti Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan. Termasuk dalam keluarga saya sendiri. Kedua orang tua saya menjadikan batik sebagai penghidupan. Pembagian tugasnya pun sangat jelas, kaum wanita seperti ibu saya mengurusi produksi, sedangkan bapak saya mengurusi penjualan. Makanya tak mengherankan apabila zaman saya kecil industri rumahan yang berkaitan dengan perbatikan banyak bermunculan.

Mulai industri kecil skala rumahan yang memproduksi kain, baik sutera maupun katun, pembuat alat tenun, canting hingga bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk pembuatan. Masyarakat membuatnya sendiri, hampir tidak ada yang diimpor. Ekonomi kerakyatan pada saat itu tumbuh. Masyarakat hidup. Ada denyut nadi yang terasa dalam kehidupan sehari-hari. Semua bekerja, tidak ada yang menganggur. Namun denyut kehidupan itu mulai melamban karena serbuan produk batik dari China yang menggunakan mesin, yang masuk pasar Indonesia dengan harga lebih murah.

Di sentra-sentra batik seperti kota kelahiran saya, Pekalongan, banyak industri pabrikan maupun rumahan yang mati suri. Untuk dapat bertahan saja susah. Sepertinya kejadian yang sama berlangsung di kota-kota lain seperti Yogyakarta, Solo, Cirebon, Madura, dan kota-kota kecil di sepanjang pesisir pantai utara Pulau Jawa. Tanpa adanya proteksi dan campur tangan dari pemerintah untuk melindungi industri batik dalam negeri, sama saja membiarkan budaya wirausaha yang ada dalam masyarakat kita hilang, berubah menjadi budaya konsumtif dengan menggunakan produk-produk luar negeri.***

Boleh saja baru sekarang ini kita sibuk membicarakan industri kreatif. Namun sejatinya para pendahulu kita para pembatik telah menggeluti usaha yang bernama industri kreatif berabad-abad. Lihat saja betapa beragamnya pola batik yang mereka hasilkan. Kekreatifan mereka tak perlu diragukan. Anda bisa bayangkan, betapa rumitnya membuat pola batik. Semuanya dibuat dengan daya imajinasi tinggi tanpa bantuan perangkat elektronik yang bernama komputer.

Betapa bertalentanya masyarakat kita. Hebatnya lagi, tiap kota penghasil batik rata-rata mampu membuat pola indah yang berbeda antara batik yang satu dengan yang lain. Masing-masing mempunyai ciri khas dengan warna dominan yang berbeda. Semunya indah memesona. Saya tidak tahu persis di mana para pembuat pola-pola batik tersebut belajar. Biasanya keterampilan ini turun-temurun. Namun yang jelas pada masa itu tidak ada semacam sekolah disain grafis yang mengajarkan bagaimana membuat disain visual yang bagus. Kini batik telah diakui UNESCO sebagai warisan umat manusia, bagian dari budaya bangsa Indonesia.

Kita wajib bersyukur akan hal ini sehingga batik tidak semena-mena diklaim oleh negara lain. Walau demikian, ada sisi positifnya juga batik diklaim oleh orang lain. Bangsa kita jadi lebih bersemangat memperjuangkan hak miliknya yang selama ini dilupakannya sampai mati suri.

Kita hanya berharap adanya pengakuan dari dunia melalui UNESCO ini juga akan melecut semangat kita dalam menjaga warisan budaya bangsa dan nilai filosofi yang terkandung di dalamnya seperti budaya tekun, konsisten, mandiri, wirausaha, dan kreatif. Semoga budaya-budaya positif ini menjadi jiwa yang menggerakkan etos kerja manusia Indonesia yang mampu membawa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia.(*)

Soetrisno Bachir
Pengusaha Batik, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)



Sumber: Okezone.com

Lanjut membaca “Batik dan Budaya Positif Bangsa”  »»

Penipuan Atas Nama XL

>> Thursday, October 1, 2009


Pukul 10:36 WIB, tiba-tiba HP GSM saya berbunyi. Ada panggilan masuk dari sebuah nomor XL yang asing. Pandangan tetap ke monitor, ketika saya menerima panggilan tsb. Dari seberang terdengar suara seorang Bapak. Selama dia berbicara, saya hanya mendengarkan saja. Inti dari pembicaraannya adalah, menyatakan bahwa saya mendapat hadiah sebesar Rp. 10 juta. Angka yang besar, jika benar-benar nyata.

Setelah cukup lama berbicara, dia menanyakan beberapa pertanyaan. Di antaranya, apa saya menonton Metro TV jam 10 malam tadi, di mana posisi saya sekarang, sampai alamat rumah. Saya tidak langsung menjawabnya.

Saat itu, saya juga sedang bingung, karena tiba-tiba ada teman yang mungkin marah kepada saya. Di saat yang bersamaan juga saya harus meladeni Bapak tsb. Akhirnya saya hanya menjawab seperlunya saja.

Sebenarnya, Bapak tsb tidak membolehkan saya menutup panggilan darinya. Saya diharuskan untuk tetap mengaktifkan panggilannya. Namun, saya tidak menurutinya. Setelah itu, yang saya lakukan adalah menghubungi Customer XL dan menanyakan langsung. saya juga melaporkan nomor Bapak tsb dan meminta pihak XL untuk mencatatnya. Sebagai pengguna 'setia' XL, saya tidak suka jika ada yang memanfaatkan nama provider XL untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Nomor Bapak tsb adalah 081930663775

ALHAMDULILLAH... Allah SWT masih melindungi saya. :)

Hati-hati terhadap modus penipuan serupa.
Waspadalah... Waspadalah! (He...He..He.. pinjam kata-kata Bang Napi)

Lanjut membaca “Penipuan Atas Nama XL”  »»

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP