"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Kritik Puisi 'Bukit Si Bisu' Karya Slamet Sukirnanto

>> Wednesday, February 4, 2009

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang telah populer di masyarakat. Jenis karya sastra ini lahir sebagai hasil pemikiran seseorang yang didasarkan pada pengalaman baik yang dilihat maupun dialaminya secara langsung dan tidak langsung. Hasil pemikiran ini terwujud dalam untaian kata yang memiliki nilai estetis. Hal ini seperti dinyatakan Zulfahnur dalam Teori Sastra, bahwa puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetik.

Objek puisi itu dapat berupa masalah-masalah kehidupan dan alam sekitar, ataupun segala kerahasiaan (misteri) di balik alam, realitas, dan dunia metafisis. Contoh yang dapat kita lihat adalah puisi karya: Slamet Sukirnanto, yang berjudul “Bukit Sibisu.” Penyair dalam puisi ini mengambil tema mengenai kehidupan di danau Toba.

Ditinjau dari tema, puisi ini sangat menarik untuk dibaca. Puisi ini dapat membangkitkan rasa pesona kita terhadap danau Toba. Di dalam puisi tersebut, penyair melukiskan keadaan di sekitar bukit yang berdiri kokoh diselimuti kabut. Sangat agung dan indah dipandang mata. Pernyataan ini tertulis dalam bait pertama:

Tak ada waktu menggali luka
Hanya kabut dan kehijauan
-selimut pertapa!Diammu mengagumkan
Menyentuh kencana-keheningan jiwa,
Mengatas terus bertanya:
Adakah memang puncakmu sorga?
Bukit Sibisu


Di dalam puisi tersebut, penyair juga mengisahkan seorang lelaki yang ada di danau Toba. Lelaki itu adalah nelayan yang menggantungkan kehidupannya di danau Toba. Lelaki itu mencoba tegar meski hari itu ketidakberuntungan bersamanya. Bersama sunyi ia terus berusaha. Ia mencoba tetap teguh hati bekerja tak mengenal waktu, mencari tangkapannya di danau Toba. Lihat puisi di bawah ini:

Dikakimu
Lelaki tertahan sejenak
Mengurai gairah.Dan lupa
Tanya hari esok
Keyakinan kokoh
Dalam ruang batinnya.
Tiba-tiba tegak
Bagaikan batu padas tanah Toba!
Bersama sunyi mengeja semesta!
Danau toba juga batu padas dan manusia
Hidup di tebing curam
Mengoyak lebar kolam maha luas
-mandilah bulan dan matahari senja!


Diiringi senandung lara, lelaki itu tetap bekerja. Senandungnya menggeletarkan angkasa, memuaskan rasa dahaga pada dirinya. Senandungnya itu melarutkan rasa was-was dan kecewa yang dialaminya. Lihat bait puisi di bawah ini:

Ada nyanyi gersang
Dan petikan gitar
Menggeletar merongga angkasa!
Puaskan dahaga
Was-was dan kecewa
Larut bersama ombak.


Lelaki yang bekerja tanpa mengenal waktu, meski raganya didera rasa letih itu, pulang dengan gontai. Langkahnya bak seorang pemabuk. Dengan sedikit hasil tangkapannya ia kembali ke rumah. Berharap di esok hari kehidupannya menjadi lebih baik dan ia dapat memahami hidup lebih bijaksana. Perhatikan bait berikut ini:

Si pemabuk tuak pulang
Gontai. Di tangannya
Menggenggam erat setangkai bunga!
Beri lagi aku
Hidup bijak
Dalam keras batu
Dalam lembut bunga
1979


Melalui puisi tersebut, penyair ingin menyampaikan amanat, bahwa alam telah memberikan kehidupan kepada manusia. Hal ini bukan berarti manusia dapat berleha-leha menikmati alam seenaknya, melainkan harus dengan jalan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Puisi karya: Slamet Sukirnanto ini kaya dengan metafora (makna di atas lapis makna).

Puisi terbentuk oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra dari dalam karya itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk karya sastra dari luar karya itu. Unsur intrinsik yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tema, amanat, dan diksi.
Tema dapat diartikan sebagai ide pokok yang menjiwai keseluruhan isi puisi, yang mencerminkan persoalan kehidupan manusia, alam sekitar, dan dunia metafisis, yang diangkat penyair dari objek seninya (Zulfahnur: 1996-1997; 80). Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya.

Diksi adalah pilikan kata yang bersifat estetis dan esensial dalam sebuah puisi. Penggunaan kata yang tepat oleh penyair akan menunjukkan kemampuan intelektualnya dalam melukiskan suatu keadaan.

Puisi „Bukit Sibisu,“ ditinjau dari aspek tema sangat menarik untuk dibaca dan ditelaah. Penyair mencoba mengangkat kehidupan manusia yang bergantung pada danau Toba. Penyair melukiskan suasana yang sunyi di danau Toba, di sana ada seorang nelayan yang telah bekerja tanpa mengenal lelah dengan hasil tangkapan yang tidak seberapa. Ia terus mencari ikan di danau Toba dengan sisa tenaganya, sambil berharap esok hari lebih beruntung dari hari itu.

Secara tersirat, penyair menyampaikan amanat, bahwa hidup harus dilalui dengan perjuangan. Seberat apapun perjuangan itu kita tidak boleh berputus asa. Alam telah memberikan kita kehidupan, tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi sumber kehidupan. Kita tidak boleh berpangku tangan menikmati alam, melainkan terus berusaha dan menatap ke depan menuju kehidupan yang lebih baik.

Dengan kepandaian penyair merangkai kata, kita dapat merasakan betapa tidak beruntungnya lelaki itu. Penyair terlihat sangat hati-hati di dalam memilih kata. Karena kehati-hatiannya itu, orang awam akan merasa sulit menafsirkan makna puisi tersebut. Contoh yang dapat dilihat adalah ketika penyair melukiskan seorang lelaki yang tertahan sejenak di bawah kaki bukit si bisu, kemudian ada kalimat “bersama sunyi mengeja alam semesta!/Danau toba;juga batu padas dan manusia/hidup di tebing curam/mengoyak lebar kolam maha luas.” Bukankah petikan tersebut menggambarkan seorang lelaki yang mencari peruntungan di danau Toba? Di bagian akhir puisi, penyair menulis “Si pemabuk tuak pulang?gontai.di tangannya/menggenggam erat setangkai bunga.” Bukankah petikan tersebut sama sekali tidak menggambarkan seorang lelaki yang habis mencari peruntungan di danau Toba?

Pemilihan kata seperti ini dapat menjerumuskan pemahaman pembaca. Pembaca akan menjadi bimbang di dalam menafsirkan makna puisi tersebut. Tentunya hal ini tidak perlu dialami pembaca, jika saja penyair memilih kata dengan mempertimbangkan kemampuan pembaca awam di dalam menafsirkan puisi. Penyair kurang berani memainkan kata, sehingga keindahan bukit Sibisu beserta keagungannya menjadi tidak terpancar.
Penyair juga kurang mendeskripsikan kondisi alam di bukit dan danau Toba itu. Padahal apabila diberikan deskripsi yang lebih lengkap lagi, akan terpancar keagungan dan keindahan bukit Sibisu dan danau Toba.



SLAMET SUKIRNANTO


BUKIT SIBISU


Tak ada waktu menggali luka
Hanya kabut dan kehijauan
-selimut pertapa!Diammu mengagumkan
Menyentuh kencana-keheningan jiwa,
Mengatas terus bertanya:
Adakah memang puncakmu sorga?
Bukit Sibisu
dikakimu
Lelaki tertahan sejenak
Mengurai gairah.Dan lupa
Tanya hari esok
Keyakinan kokoh
Dalam ruang batinnya.
Tiba-tiba tegak
Bagaikan batu padas tanah Toba!
Bersama sunyi mengeja semesta!
Danau toba juga batu padas dan manusia
Hidup di tebing curam
Mengoyak lebar kolam maha luas
-mandilah bulan dan matahari senja!
Ada nyanyi gersang
Dan petikan gitar
Menggeletar merongga angkasa!
Puaskan dahaga
Was-was dan kecewa
Larut bersama ombak.

Si pemabuk tuak pulang
gontai. Di tangannya
Menggenggam erat setangkai bunga!
Beri lagi aku
Hidup bijak
dalam keras batu
dalam lembut bunga

1979



6 comments:

Anonymous Tuesday, September 21, 2010 11:15:00 AM   Reply To This Comment

bagus bbuat bantu kerjaan skolah.

http://HaneL$$H0ZUKi%.blogspot.com Saturday, November 06, 2010 3:22:00 PM   Reply To This Comment

Makasi untuk infonya..,
semoga Allah membalas kebaikanmu sobat

http://HaneL$$H0ZUKi%.blogspot.com Saturday, November 06, 2010 3:24:00 PM   Reply To This Comment

Makasi untuk infonya.,,
tugas ku jadi terbantu
Smoga Allah membalas kebaikanmu Sobat..,

Afi Sunday, February 13, 2011 3:37:00 PM   Reply To This Comment

@Anonymous

Terima kasih.

Afi Sunday, February 13, 2011 3:39:00 PM   Reply To This Comment
This comment has been removed by the author.
roman Monday, March 28, 2011 3:18:00 PM   Reply To This Comment

tq ya infonya,,,

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP