"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Otak dan Ujaran

>> Wednesday, February 4, 2009

Otak memiliki kaitan erat dengan ujaran. Menurut Soenjono Dardjowidjojo, otak manusia dibagi menjadi dua bagian: bagian kanan (hemisfir kanan) dan bagian kiri (hemisfir kiri). Bentuk fisik kedua bagian sama, tetapi ada bagian-bagian fungsi yang berbeda. Pada waktu lahir, belum ada pembagian tugas yang ketat antara keduanya. Keduanya merupakan satu kesatuan yang plastis.

Menjelang usia puber, terjadi proses penyebelahan atau lateralisasi, yakni suatu proses saat keplastisan kedua bagian ini berkurang, dan terjadilah semacam penumpahan tugas pada hemisfir kiri. Pada hemisfir kiri telah ditemukan bagian-bagian yang berkaitan dengan bahasa.

Broca menemukan pada seorang pasien yang terkena adhasia, bahwa pasien ini mendapatkan luka di bagian agak muka helisfir sebelah kiri. Bagian ini dibuktikan lebih lanjut sebagai salah satu bagian yang mengontrol ujaran dan sekarang terkenal dengan nama daerah Broca.

Selanjutnya Broca mengatakan bahwa dasar ujaran tergantung pada empat faktor: 1) Sebuah ide, 2) Hubungan konvensional antara ide dan kata, 3) Sara penggandengan gerak artikulasi dengan kata, dan 4) Penggunaan alat-alat artikulasi.

Berbeda dengan penemuan Broca, penemuan yang dilakukan oleh Wernicke berkaitan dengan hal-hal penanggapan indera. Dalam penemuannya itu ia menemukan bahwa bagian belakang di sebelah agak kanan otak itu bersarang tanggapan-tanggapan rasa (sensory impressions). Sel-sel ini sebenarnya bukan motoris atau sensori, tetapi lebih tergantung pada hubungan dengan korteks-korteks lain. Untuk selanjutnya, daerah Wernicke merupakan daerah pertama atau paling tidak salah satu daerah pertama, yang menangdapi rangsang indera.

Selain daerah Broca dan Wernicke, ada satu daerah lagi yang langsung berkaitan dengan ujaran, yaitu daerah korteks superior. Daerah ini mengontrol mekanisme kortikal yang dipakai untuk menggerakkan saraf-saraf penyuara. Saraf-saraf ini berbentuk suatu rentetan mekanisme di daerah Rolando, berjajar menuju broca.
Sehubungan dengan bagian dan fungsi otak, maka timbullah suatu hipotesis yang menghubungkan pertumbuhan biologis manusia dengan taraf-taraf penguasaan bahasa. Hipotesis ini dikenal dengan ‘Hipotesis Umur Kritis’. Pada dasarnya hipotesis ini mengatakan bahwa: 1) Penguasaan bahasa itu tumbuh sejajar dengan pertumbuhan biologis. Dan 2) Setelah masa puber, penguasaan bahasa secara natural sudah tidak bisa lagi.

Bambang Kaswanti Purwo mengatakan pada usia dua belas tahunan, sering ditemui bahwa anak sudah menguasai bahasa dengan sempurna. Namun, masih banyak kesalahan-kesalahan. Padahal usia mereka sudah berada di ambang pintu berakhirnya masa paling peka dan paling plastis di dalam proses pemerolehan bahasa (masa emas belajar bahasa).

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, menurut hasil penelitian Lenneberg usia antara tiga dan sepuluh tahun adalah masa pewnyempurnaan kekurangan-kekurangan di dalam tata bahasa. Palermo dan Molfese mencatat bahwa usia antara lima dan tujuh tahun, serta antara dua belas dan empat belas tahun merupakan masa transisi di dalam perkembangan bahasa.



0 comments:

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP