"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Taushiyah Almh. Ustz. Yoyoh Yusroh

>> Thursday, May 26, 2011

Kenangan sms Ustz. Yoyoh Yusroh kpd seorang akhwat sebelum wafat:
"Ya Robb, aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat.
Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu pra wanita Khodijah Al-kubro yg berjuang dg harta & jiwanya?

Atau dg Hafsah binti Abu Bakar yg dibela oleh Allah swt saat akan dicerai karena showwammah & qowwamahnya?
Atau dg Aisyah yg telah hafal 3500 an hadits, sdg aku...Ehm 500 juga belum...
Atau dg Ummu Sulaim yg shobiroh
atau dg Asma yg mengurus kendaraan suaminya & mencela putranya saat istirahat dari jihad...
Atau dg siapa ya, ya Allah, tolong beri kekuatan tuk mengejar amaliah mereka... Sehingga aku laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dg mereka di taman Firdaus Mu.
Qt kehilangan seorang Mujahidah, Kade terbaik Qt, Guru Qt, Mr Qt..
Selamat Jalan Ibunda Yoyoh, Semoga Amal Syahidah menempatkan di-Jannah-Nya.
(Inspirasi Qudwah Almarhumah for Dakwah)

Lanjut membaca “Taushiyah Almh. Ustz. Yoyoh Yusroh”  »»

Buku Apakah Aku???

>> Wednesday, May 11, 2011

Aku adalah sebuah buku yang tercetak indah
Untuk mengetahui namaku, inilah petunjuknya

Beraneka dalam sampulnya dan terjilid rapi
Di hati Muslim, aku jarang ditemukan
Tinggi di rak, tersimpan daku
Terlupakan di sana, terbengkalai daku

Dengan takzim,
aku memang mendapat banyak 'ciuman'
Unsur utamaku, mereka 'luput' dapatkan

Dengan suara merdu, mereka membacaku
Mengabaikn pesan, dalam diriku

Terkadang, aku dipakai untuk sumpah palsu
Manfaatku yang sebenarnya sangat,
sangt langka

Sebuah mukjizat, itulah aku,
Yang dapat mengubah dunia
Yang orang harus lakukan
adalah memahami pesanku

Aku mempunyai hikmah
mempunyai harta yang berharga
Sedemikian melimpah, sampai tak terukur

Akulah pemandumu menuju juru selamatmu
Namun siapakah itu yang mengikuti seruanku

Yang benar, bukan yang salah, adalah reputasiku


Alquran Suci adalah namaku


Sumber: Novel 'Cinta yang Terlambat'

Lanjut membaca “Buku Apakah Aku???”  »»

Wahai Muslimah, Sayangilah Dirimu

>> Sunday, May 8, 2011

Tolong… tolong….

Pelecehan kerap terjadi pada muslimah (baca: perempuan). Mulai dari pelecehan verbal sampai fisik. Saat sedang berjalan kaki, mengendarai motor, atau berada di dalam bus yang penuh sesak. Dan kebanyakan dari kira hanya bisa diam, karena ketidakberdayaan. Ya, muslimah memang sering dianggap tidak bisa berbuat apa-apa, ketika dirinya dianiaya. Begitulah cara pandang kebanyakan orang.


Woman Crisis Center (Yogyakarta) dalam situsnya, memaparkan jumlah pengaduan yang masuk adalah pelecehan seksual sebanyak 69 kasus, sedangkan pemerkosaan sebanyak 151 kasus. Ditambah dengan data dari LBH APIK, kekerasan terhadap perempuan sebanyak 1046 kasus. Dari data di atas, kita dapat menyimpulkan muslimah memang sering menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan.

Salah satu trainer lembaga Jogja Self Defense (Woman Self Defense di Indonesia), yaitu Muthia Esfand berusaha menjawab kegundahan/kegelisahan hati muslimah, dengan menghadirkan buku ini di tengah-tengah kita. Dibantu oleh A. Fathy Farhat Khan, Muthia ingin membagi peengetahuan dan pengalamannya tentang bela diri muslimah dalam bentuk sebuah buku. Sarjana Sastra lulusan UGM ini ingin mengubah pola pikir, yang mengatakan bahwa ‘Muslimah itu perempuan lemah.’ Karena Islam adalah agama yang syamil wa mutakammil (lengkap dan menyeluruh), berbagai sendi kehidupan manusia pasti dibahas dalam Islam.

Buku yang di tulis oleh cucu dari pelatih bela diri ini berisi tentang usaha pemaparan tentang cara pandang Islam terhadap bela diri, usaha preventif pra-kejadian dan usaha yang dilakukan pada saat kejadian.

Buku ini dilengkapi dengan tips-tips dan gambar-gambar jurus praktis disertai dengan penjelasannya, sehingga kita dapat dengan mudah mempraktikkannya sendiri. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan hadist dan ayat suci Al-Quran yang menjadi pijakannya, sehingga kita tidak ragu lagi akan nash- nya. Tidak hanya itu, dalam buku ini juga terdapat gambar titik-titik kelemahan tubuh manusia, sehingga kita dapat mewaspadainya.

Keunggulan lain dari buku ini adalah bahasanya yang mudah dimengerti dan cukup komunikatif. Kemasannya yang menarik, ditulis di pada HVS putih, penjilidan yang baik, dan ukurannya yang kecil juga menjadi nilai plus dari buku ini. Perpaduan pink dengan putih ditambah motif yang dipilih juga semakin menegaskan untuk siapa buku ini dihadiahkan.
Buku ini wajib dibaca para muslimah, sebagai salah satu usaha pengamanan diri. Karena kita tidak akan pernah tahu, kapan bahaya menimpa kita.

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya. Jika tidak sanggup, dengan lisan saja. .Jika tidak sanggup juga, dengan hati saja, dan itu adalah selemah-lemah iman.“
(HR. Muslim)














Lanjut membaca “Wahai Muslimah, Sayangilah Dirimu”  »»

[Ringkasan Novel] Cinta yang Terlambat

>> Friday, May 6, 2011


Novel ini merupakan terjemahan dari judul aslinya ‘Hijab Waali.’ Novel Pakistan yang paling Greget. Mengisahkan lika-liku perjalanan hidup anak manusia. Mulai dari percintaan, konflik, intrik, sampai spiritual

Diawali dengan tokoh Deeba dan Sheeba, dua kakak-beradik yang menjadi aktor dalam membuka tabir kehidupan Aariz Ali. Aariz Ali ialah pemuda Pakistan berusia 26 tahun. Tampan, kaya, dan terpelajar adalah gambaran dirinya. Ia anak tunggal dari sebuah keluarga terhormat. Ayahnya pengusaha terkenal di Karachi-Pakistan. Aariz dikenal sebagai pribadi yang ‘cool’ terutama dengan wanita. Aariz termasuk tipe pria yang sulit jatuh cinta.

Rupanya Aariz tengah jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London. Komal namanya. Komal digambarkan sebagai sosok yang cantik, pintar, modern, dan sebagaimana Aariz; ia berasal dari keluarga pengusaha kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari sekte alias ‘mazhab’ yang berbeda dengan Aariz. Kisah cinta mereka pun mendapatkan banyak hambatan. Terutama dari ibunya Aariz, yang menentang keras hubungan mereka. Sama halnya dengan ayah Komal. Bahkan sebenarnya Komal telah dijodohkan dengan orang kepercayaan ayahnya, yang bernama Sikandar Riza, seorang pria dengan pribadi yang santun. Jauh berbeda dengan Aariz.

Guna membuktikan sikapnya, Sa’dia (ibunya Aariz) memaksa Aariz untuk menikahi anak dari saudaranya, yang bernama Zeest Zehra. Ia seorang gadis desa, konservatif, dan menggunakan hijab (jilbab/jubah). Performansinya sangat bertolak belakang dengan Komal yang modern dan ‘fashionable.’

Pada suatu hari, Aariz menemani ibunya mengunjungi saudaranya yang sedang sakit parah. Orang itu tak lain adalah ayah Zeest. Di situlah Aariz pertama kali bertemu dengan Zeest, seorang gadis kolot, yang sama sekali tak membuatnya tertarik. Kondisi yang rumit membuat Aariz tak punya pilihan. Sebagai anak, ia harus mengikuti perintah ibunya. Ia harus menikahi Zeest saat itu juga. Setelah pernikahan ala kadarnya itu, tak lama berselang, ayah Zeest pun meninggal. Hari itu, kepedihan hidup Zeest baru dimulai.

Pernikahan Aariz dan Zeest sangat jauh dari kebahagiaan. Aariz lebih suka menganggap Zeest perusak kebahagiaannya daripada isterinya. Tak ada malam romantis bagi mereka. Hari-hari dilalui dengan perang dingin. Caci maki, umpatan, dan amarah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Zeest; hadiah dari suaminya. Walaupun telah menikah, Aariz tetap berhubungan dengan Komal. Meskipun demikian, Zeest tidak pernah mengeluh. Bahkan tampil sebagai teman baik Aariz. Ia pun rela bila harus dimadu dengan Komal.

Pada suatu hari, orang tua Aariz dibunuh dengan sadis. Dalam waktu bersamaan Komal pun meninggalkannya dan lebih memilih Sikandar Riza, calon pendamping pilihan ayahnya. Komal seakan berlari menjauh dari keterpurukan Aariz.

Stress berat akhirnya mengantarkan Aariz ke Rumah Sakit Jiwa. Selama dua tahun ia mengalami depresi hebat. Selama itu pula lah ia harus menjalani rehabilitasi kejiwaan di sana, sebelum akhirnya ia dinyatakan sembuh total. Setelah kesembuhannya yang menakjubkan itu, Aariz mulai menyadari bahwa orang yang paling cocok mendampinginya dan didambakannya adalah Zeest. Gadis desa yang dipilihkan ibunya. Gadis yang tabah, suci, dan siap memberikan seluruh cintanya kepada suaminya. Aariz tersungkur dalam penyesalan mendalam.

Aariz merenda asa (tak berujung) untuk bertemu kembali dengan isterinya yang telah lama hilang, yang telah ia usir dua tahu lalu. Aariz pun bertekad untuk memperbaiki diri. Adalah Paman Maulana, seorang ustadz yang mendampingi Aariz dalam menemukan kedamaian hidup, membimbing Aariz ke jalan yang lurus.

Kini, Aariz ialah seorang penyair muda yang terkenal. Karya-karyanya mampu menginspirasi banyak orang. Setiap orang boleh menikmati karyanya. Namun, tidak dengan cerita hidupnya. Tidak dengan privasinya. Aariz terkenal sebagai penyair muda anti-wawancara. Sampai akhirya, seperti saya ceritakan di awal, Deeba mampu menguak tabir kehidupan Aariz.

Ya, Deeba Risvi salah seorang fans berat Aariz, tak mampu lagi membendung rasa ingin tahunya tentang Aariz. Akhirnya Deeba pun menyamar sebagai wartawan dari majalah wanita “FeMag.” Awalnya Aariz menolak untuk diwawancarai. Ia mengabaikannya. Namun, kegigihan Deeba mampu meruntuhkan benteng kuat dalam dirinya. Aariz pun menceritakan perjalanan hidupnya. Saat itu Deeba bertekad untuk mempertemukan Aariz dengan pujaan hatinya yang tak ketahuan rimbanya.

Di sisi lain, Deeba juga terinspirasi kisah hidup Aariz. Ia pun mulai menata diri dan berhijab. Tak hanya itu, untuk melengkapi hijrah-nya pada Islam, Deeba belajar di sekolah Islam; melalui rekomendasi Paman Mulana. Di sana lah ia bertemu dengan ibu Hijab Zehra, gurunya, yang tak lain adalah Zeest Zehra, pujaan hati Aariz. Melihat ibu Hijab, Deeba seperti melihat cermin sosok wanita pujaan Aariz. Sempurna, sebagaimana yang digambarkan Aariz. Deeba pun membina hubungan baik dengan gurunya itu.

Kekaguman Deeba kian bertambah ketika ibu Hijab mewakili muslimah untuk berdebat dengan pendebat wanita nomor 1 di Pakistan, yaitu Sania Rubab. Tema yang diangkat adalah “Hijab: Penindasan atau Pembebasan???” Sania, wakil dari wanita modern yang selalu menonjolkan keindahan tubuhnya, selalu menyerang ibu Zeest dengan gaya bahasa angkuh. Namun, Zeest selalu menimpalinya dengan tenang. Kehalusan tuturnya diitambah lagi ia sering menyitir ayat dalam Al-Qur’an dan mengaitkannya dengan kekinian, mampu diterima. Akhirnya, Zesst pun dapat membuktikan bahwa “Hijab itu pembebasan bukan penindasan.”

Akhirnya, dengan bantuan Deeba dan Paman Maulana, Aariz pun dapat bertemu kembali dengan Zeest; isterinya.


Sumber:http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2155936-cinta-yang-terlambat/

Lanjut membaca “[Ringkasan Novel] Cinta yang Terlambat”  »»

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP