"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

[Ringkasan Novel] Cinta yang Terlambat

>> Friday, May 6, 2011


Novel ini merupakan terjemahan dari judul aslinya ‘Hijab Waali.’ Novel Pakistan yang paling Greget. Mengisahkan lika-liku perjalanan hidup anak manusia. Mulai dari percintaan, konflik, intrik, sampai spiritual

Diawali dengan tokoh Deeba dan Sheeba, dua kakak-beradik yang menjadi aktor dalam membuka tabir kehidupan Aariz Ali. Aariz Ali ialah pemuda Pakistan berusia 26 tahun. Tampan, kaya, dan terpelajar adalah gambaran dirinya. Ia anak tunggal dari sebuah keluarga terhormat. Ayahnya pengusaha terkenal di Karachi-Pakistan. Aariz dikenal sebagai pribadi yang ‘cool’ terutama dengan wanita. Aariz termasuk tipe pria yang sulit jatuh cinta.

Rupanya Aariz tengah jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London. Komal namanya. Komal digambarkan sebagai sosok yang cantik, pintar, modern, dan sebagaimana Aariz; ia berasal dari keluarga pengusaha kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari sekte alias ‘mazhab’ yang berbeda dengan Aariz. Kisah cinta mereka pun mendapatkan banyak hambatan. Terutama dari ibunya Aariz, yang menentang keras hubungan mereka. Sama halnya dengan ayah Komal. Bahkan sebenarnya Komal telah dijodohkan dengan orang kepercayaan ayahnya, yang bernama Sikandar Riza, seorang pria dengan pribadi yang santun. Jauh berbeda dengan Aariz.

Guna membuktikan sikapnya, Sa’dia (ibunya Aariz) memaksa Aariz untuk menikahi anak dari saudaranya, yang bernama Zeest Zehra. Ia seorang gadis desa, konservatif, dan menggunakan hijab (jilbab/jubah). Performansinya sangat bertolak belakang dengan Komal yang modern dan ‘fashionable.’

Pada suatu hari, Aariz menemani ibunya mengunjungi saudaranya yang sedang sakit parah. Orang itu tak lain adalah ayah Zeest. Di situlah Aariz pertama kali bertemu dengan Zeest, seorang gadis kolot, yang sama sekali tak membuatnya tertarik. Kondisi yang rumit membuat Aariz tak punya pilihan. Sebagai anak, ia harus mengikuti perintah ibunya. Ia harus menikahi Zeest saat itu juga. Setelah pernikahan ala kadarnya itu, tak lama berselang, ayah Zeest pun meninggal. Hari itu, kepedihan hidup Zeest baru dimulai.

Pernikahan Aariz dan Zeest sangat jauh dari kebahagiaan. Aariz lebih suka menganggap Zeest perusak kebahagiaannya daripada isterinya. Tak ada malam romantis bagi mereka. Hari-hari dilalui dengan perang dingin. Caci maki, umpatan, dan amarah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Zeest; hadiah dari suaminya. Walaupun telah menikah, Aariz tetap berhubungan dengan Komal. Meskipun demikian, Zeest tidak pernah mengeluh. Bahkan tampil sebagai teman baik Aariz. Ia pun rela bila harus dimadu dengan Komal.

Pada suatu hari, orang tua Aariz dibunuh dengan sadis. Dalam waktu bersamaan Komal pun meninggalkannya dan lebih memilih Sikandar Riza, calon pendamping pilihan ayahnya. Komal seakan berlari menjauh dari keterpurukan Aariz.

Stress berat akhirnya mengantarkan Aariz ke Rumah Sakit Jiwa. Selama dua tahun ia mengalami depresi hebat. Selama itu pula lah ia harus menjalani rehabilitasi kejiwaan di sana, sebelum akhirnya ia dinyatakan sembuh total. Setelah kesembuhannya yang menakjubkan itu, Aariz mulai menyadari bahwa orang yang paling cocok mendampinginya dan didambakannya adalah Zeest. Gadis desa yang dipilihkan ibunya. Gadis yang tabah, suci, dan siap memberikan seluruh cintanya kepada suaminya. Aariz tersungkur dalam penyesalan mendalam.

Aariz merenda asa (tak berujung) untuk bertemu kembali dengan isterinya yang telah lama hilang, yang telah ia usir dua tahu lalu. Aariz pun bertekad untuk memperbaiki diri. Adalah Paman Maulana, seorang ustadz yang mendampingi Aariz dalam menemukan kedamaian hidup, membimbing Aariz ke jalan yang lurus.

Kini, Aariz ialah seorang penyair muda yang terkenal. Karya-karyanya mampu menginspirasi banyak orang. Setiap orang boleh menikmati karyanya. Namun, tidak dengan cerita hidupnya. Tidak dengan privasinya. Aariz terkenal sebagai penyair muda anti-wawancara. Sampai akhirya, seperti saya ceritakan di awal, Deeba mampu menguak tabir kehidupan Aariz.

Ya, Deeba Risvi salah seorang fans berat Aariz, tak mampu lagi membendung rasa ingin tahunya tentang Aariz. Akhirnya Deeba pun menyamar sebagai wartawan dari majalah wanita “FeMag.” Awalnya Aariz menolak untuk diwawancarai. Ia mengabaikannya. Namun, kegigihan Deeba mampu meruntuhkan benteng kuat dalam dirinya. Aariz pun menceritakan perjalanan hidupnya. Saat itu Deeba bertekad untuk mempertemukan Aariz dengan pujaan hatinya yang tak ketahuan rimbanya.

Di sisi lain, Deeba juga terinspirasi kisah hidup Aariz. Ia pun mulai menata diri dan berhijab. Tak hanya itu, untuk melengkapi hijrah-nya pada Islam, Deeba belajar di sekolah Islam; melalui rekomendasi Paman Mulana. Di sana lah ia bertemu dengan ibu Hijab Zehra, gurunya, yang tak lain adalah Zeest Zehra, pujaan hati Aariz. Melihat ibu Hijab, Deeba seperti melihat cermin sosok wanita pujaan Aariz. Sempurna, sebagaimana yang digambarkan Aariz. Deeba pun membina hubungan baik dengan gurunya itu.

Kekaguman Deeba kian bertambah ketika ibu Hijab mewakili muslimah untuk berdebat dengan pendebat wanita nomor 1 di Pakistan, yaitu Sania Rubab. Tema yang diangkat adalah “Hijab: Penindasan atau Pembebasan???” Sania, wakil dari wanita modern yang selalu menonjolkan keindahan tubuhnya, selalu menyerang ibu Zeest dengan gaya bahasa angkuh. Namun, Zeest selalu menimpalinya dengan tenang. Kehalusan tuturnya diitambah lagi ia sering menyitir ayat dalam Al-Qur’an dan mengaitkannya dengan kekinian, mampu diterima. Akhirnya, Zesst pun dapat membuktikan bahwa “Hijab itu pembebasan bukan penindasan.”

Akhirnya, dengan bantuan Deeba dan Paman Maulana, Aariz pun dapat bertemu kembali dengan Zeest; isterinya.


Sumber:http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2155936-cinta-yang-terlambat/

0 comments:

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP