"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Instrospeksi Diri

>> Tuesday, February 24, 2009

Oleh : m. redha helmi

ketua KAMMI Komisariat STAI-MU Tanjungpinang


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hari berganti hari, berganti hari, tanpa kita sadari semakin dekat diri ini dengan kematian, Umur yang semula kita mengira panjang, tanpa kita sadari, beriring waktu semakin berkurang.

Berapa banyak orang yang telah hidup sebelum kita, namun sekarang mereka hanya tinggal tulang belulang yang sudah hancur dimakan tanah, Kita akan menyusul mereka wahai saudaraku, kita adalah kepastian yang akan berakhir seperti mereka, kita adalah kematian yang hanya menunggu waktu, ketika waktu itu sampai tidak seorangpun diantara kita yang mampu menolaknya.

Saudaraku,

Berapa banyak manusia diantara kita yang merasa ketakutan ketika kematian menghampirinya. Keringat dingin bercucuran, seluruh tubuh mengigil kesakitan. Air mata bersimbah karna merasa belum siap menghadap Allah. Karna merasa belum siap untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan maksiat yang pernah dilakukan.

Apakah kita nantinya akan seperti mereka???

Berapa banyak manusia yang ketika hidup di muka bumi, mereka terlena dengan kenikmatan dunia? Mereka lupa akan tujuan hidup mereka, bahkan mereka sombong atas pemberian Allah yang hanya titipan sementara untuk mereka,

Saudaraku apalah artinya senyum sesaat, seandainya harus ditebus dengan tangisan seumur hidup?

Saudaraku, kemaren telah berlalu, hari ini juga akan berakhir, dan esok juga akan sirna. Sungguh tak ada kepastian dalam kehidupan ini, kepastian dalam kehidupan hanyalah perubahan, selagi kita masih hidup, maka rubahlah diri anda, atau kematian yang akan merubah kehidupan anda.

Ketika pertama kali kita dilahirkan dimuka bumi ini, semua orang disekitar kita tersenyum, semua orang tertawa dan bahagia, terutama kedua orang tua kita,

Namun usahakanlah ketika kita akan meninggalkan dunia ini, semua orang menangis, dengan tangis keridhoan, namun kita tetap tersenyum bahagia, karna kita akan berjumpa dengan kekasih hati yang selalu mencintai kita, yaitu Allah SWT.

Saudaraku, di kehidupan yang Cuma mampir sebentar ini, di kehidupan yang Cuma sementara ini, tentunya kita tidak ingin gagal dikehidupan yang Cuma sekali ini, tentunya kita ingin pulang dengan selamat dikampung halaman kita yaitu akhirat, tentunya kita ingin pulang dalam keadaan bersih menghadap Allah yang maha suci, tentunya kita ingin menghadap Allah dalam keadaan pasrah dan terlepas dari semua dosa-dosa.

Saudaraku

Semoga Allah SWT mempertemukan kita dalam jalan yang sama di jannahnya bersama dengan para syuhada dan para Nabinya.


Sumber: www.kammi.or.id

Lanjut membaca “Instrospeksi Diri”  »»

Beyond Fiqh

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS Fathir: 32)

Sungguh kreatif kerja sekelompok santri yang duduk melingkar, mengedarkan dua setengah kilogram beras di antara mereka untuk menebus kewajiban zakat fitrah. Santri pertama menyerahkan beras tersebut kepada kawannya. Si mustahiq ini dalam beberapa detik kemudian berubah menjadi muzakki yang memberikan zakat kepada orang ketiga. Begitu seterusnya, hingga beras itu kembali kepada santri pertama. Selesailah sudah kewajiban zakat untuk sepuluh orang dengan modal sepuluh ribu rupiah.

Selalu saja ada celah dalam hukum (fiqh) yang menjadi ruang bagi ‘kreativitas’ dan akal bulus kaum pencinta kemudahan. Bukan karena Sang Pencipta hukum itu lemah atau lalai, sehingga menyisakan celah-celah kecil tempat bersemainya bibit kemunafikan itu, namun inilah mihnah, ujian keimanan. Dari milestone inilah kemudian manusia terbagi menjadi beberapa golongan; penganiaya diri sendiri (dzhalimun linafsihi), kelompok antara (muqtashid) dan para penghulu kebaikan (sabiqun bil khairaat).

Kelompok pertama adalah para pemuja hawa nafsu. Hatinya tak setitik jua mengandung noktah ketaatan, logikanya adalah logika pembangkangan, strateginya adalah keculasan. Maka aturan langit pun menjadi sesuatu yang dianggap profan sehingga dengan mudahnya diputarbalikkan. Lihatlah para budak syahwat ini berdalil dengan fasihnya bahwa menutup aurat adalah setakat budaya, bahwa tak mengapa berzina asal menggunakan kondom hingga tak bersentuhan kulit khatan, atau soal halalnya alkohol di suasana chilly. Mereka juga yang berargumen betapa mengharamkan rokok adalah gerbang kehancuran ekonomi bangsa. Lupakah mereka bahwa kerugian bangsa ini oleh erosi kesehatan yang diakibatkan benda haram sembilan senti itu bisa berpuluh kali lipat nominalnya? Orang-orang ini, entah dari persilangan genetik yang mana, telah mewarisi darah Yahudi yang dahulu mencoba mengakali Allah tentang larangan hari Sabat, dengan memasang jaring keramba di hari Jum’at. Inilah kelompok penganiaya diri, menukarkan kesenangan sesaat dengan siksaan yang abadi.

Kelompok kedua adalah generasi serba tanggung, shalih tidak, thalih juga tidak. Sesekali mereka berbuat dosa dan menabrak aturan, sesaat kemudian tertegun, lalu menangis menyesali perbuatannya. Inilah tipologi kaum lemah iman, yang memadu pahala dan dosa dalam satu rongga dada. Seusai shalat shubuh mereka menonton tayangan ghibah, mereka berjilbab tapi ikhtilath, berjanggut namun genit, lantang bertakbir namun fasih pula berlama-lama dalam interaksi tak penting dengan lawan jenis yang ajnabi.Sungguh tersiksa batin yang hidup dalam kondisi demikian. Jiwa yang terus menerus dalam penyesalan (nafsu allawwaamah), terjebak antara perasaan hina dan keinginan menjadi mulia. Pribadi-pribadi seperti ini senantiasa terkungkung dan terpenjara dalam dimensi dirinya sendiri. Tak usahlah diajak berpikir dan bercita-cita besar, toh mereka masih belum selesai berurusan dengan aneka persoalan remeh-temeh; virus merah jambu, jiwa pedantic (hubbu azhzhuhur) yang selalu ingin menonjolkan diri, dan berbagai perangai lainnya yang merefleksikan kekanak-kanakan jiwa.

Kelompok terakhir adalah mereka yang selalu berlomba dalam kebaikan. Mereka tak lagi berfikir sebatas halal-haram. Bagi kaum ini, segala sesuatu dinilai dengan kelembutan hati dan kepekaan iman. Mereka terbang dalam ketinggian akhlaq, jauh melewati batas-batas hukum, beyond fiqh. Yang haram pastilah mereka benci, perkara syubhat dijauhi, bahkan terhadap yang halal pun mereka berzuhud. Suatu ketika Umar ibn Khatthab ra membagi-bagikan ghanimah atas kemenangan melawan Persia. Umar tertarik pada sebuah karpet yang sungguh indah. Betapa wajar dan sederhananya potret keinginan itu; seorang khalifah agung berkehendak untuk memiliki sepotong permadani. Tak satu pun sahabat yang tidak setuju, selain bahwa bagian dari ghanimah juga merupakan hak beliau, Umar juga dipandang sebagai zahid yang terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Namun seketika Al-Faruq tersentak. Pria yang ditakuti para setan ini merasa malu untuk memiliki ketertarikan semu pada dunia. Ia memang bukan al-ma’shum layaknya Rasulullah SAW, tapi tarbiyah Sang Nabi telah melekat erat di sanubarinya. Lalu ia memotong karpet itu menjadi bagian-bagian kecil dan membagi-baginya kepada para sahabat (Husain Haykal, Umar al-Faruq). Permadani Persia itu sudah tak utuh lagi, begitu juga keinginan Umar untuk memilikinya juga telah teratasi. Kini Umar tak lagi merasa malu pada Allah, pada Rasul dan pada dirinya sendiri. Ya, bagi jiwa pendamba surga, rasa malu memang menjadi hiasan diri. Sebab sabda Sang Nabi SAW; “Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari kalimat pertama kenabian adalah: jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu” (HR Bukhari, lihat dalam Ibn Daqieqil ‘Ied, Syarhul Arba’iina Hadiitsan An-Nawawiyah).

Andree, S.IP, M.A.


Sumber: www.kammi.or.id/

Lanjut membaca “Beyond Fiqh”  »»

Bendera Amerika Disiram Air Kembang

VIVAnews - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMI) akan menggelar aksi demonstrasi untuk menentang kedatangan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton.

Namun, aksi sekitar 30 mahasiswa itu terpaksa terhenti di bundaran Patung Kuda sebelum masuk Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis 19 Februari 2009. Sekitar 70 polisi menghadang langkah mereka yang berencana akan ke istana itu.

Menurut rencana, hari ini, Hillary akan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan. Meski dihalangi, massa tidak berhenti begitu saja. Mereka tetap melakukan aksi unjuk rasa di Jalan Budi Kemulyaan II, Jakarta Pusat yang terletak persis di samping kiri gedung Indosat Jakarta.

Dalam aksinya, tiga laki-laki peserta demo mengenakan pakaian adat jawa lengkap dengan blankon dan keris di punggung. Mereka juga membawa selembar bendera Amerika Serikat. Sembari menenteng keris, mereka kemudian menaburkan bunga di atas bendera Amerika itu.

“Bendera di ruwat. Kami mendoakan agar Amerika bisa berubah menjadi lebih baik,” kata pimpinan massa Widya Supena, Kamis 19 Februari 2009.

Tak lupa, air dari kendi pun disiramkan ke atas bendera Amerika Serikat itu.

Sebagian pendemo membawa karton dan poster yang mengecam kedatangan Hillary ke Jakarta. Bahkan ada spanduk yang bertuliskan,’ Waspadalah Misi Terselubung Hillary.’


Sumber: www.kammi.or.id

Lanjut membaca “Bendera Amerika Disiram Air Kembang”  »»

KAMMI Gelar Ruwatan Sambut Hillary Clinton

Fitra Iskandar - Okezone

JAKARTA - Pertemuan Hillary dengan Presiden SBY di Istana Negara hari ini nampaknya siap dimeriahkan dengan aksi demo.

Saat ini puluhan aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sudah mulai berkumpul di depan Patung Kuda di Jalan Medan Merdeka Barat dan siap bergerak menuju Istana Negara.

Dalam aksi ini, para aktivis berrencana melakukan ruwatan menyambut lawatan Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton.

“Kami mendoakan pemimpin negeri ini agar kuat bermartabat dalam bernegosiasi menjalin hubungan bilateral dengan pemerintah Amerika,” kata Ketua KAMMI Widya Supeno, kepada okezone, Kamis (19/2/2009).

Menurut dia, ruwatan tersebut dimaksudkan agar Indonesia lebih kuat, lepas dari cengkeraman hegemonik bangsa lain.

Dalam aksi ini, KAMMI juga meminta pemerintah menolak segala bentuk intervensi dan kooptasi AS atas Indonesia, terutama di bidang ekonomi dan politik, termasuk pada suksesi kepemimpinan Pemilu 2009.

“KAMMI mengutuk keras pemimpin yang membuka pintu dan bahkan menggelar karpet merah bagi asing untuk menjajah dan mengeruk kekayaan Indonesia,” katanya.

Saat ini para demonstran masih berkumpul di kawasan Jalan Medan Merdeka Barat, massa yang akan turun untuk “menyambut” kedatangan Hillary ini berjumlah ratusan orang. “Ada yang datang dari Bogor dan Bekasi,” jelas Widya.


Sumber: www.kammi.or.id

Lanjut membaca “KAMMI Gelar Ruwatan Sambut Hillary Clinton”  »»

Mahasiswa ‘Kerjai’ Polisi Injak Bendera AS

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews

Jakarta - Mahasiswa yang berdemo menentang Hillary Clinton ‘memaksa’ polisi menginjak duplikat bendera Amerika Serikat (AS). Usaha para mahasiswa akhirnya berhasil. Polisi pun tersenyum kecut.

Awalnya, sekitar 25 mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) itu hendak bergerak ke arah Istana Negara. Aksi itu mendapat perlawanan dari polisi yang berjaga di Bundara Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat, Kamis (19/2/2009).

Aksi dorong-dorongan pun sempat terjadi antara mahasiswa dan polisi. Namun setalah tiga kali saling dorong, akhirnya para mahasiswa mengalah. Mereka pun mundur 6 langkah.

Begitu para mahasiswa mundur, polisi pun tak tinggal diam. Mereka pun maju mendekati mahasiswa.

Alhasil, kaki-kaki bersepatu seragam itu menginjak bendera AS. Para mahasiswa pun bersorak. “Huuuuu, akhirnya kita dibantu,” teriak mahasiswa kegirangan.

Koordinator aksi Sugeng Wiyono pun berteriak dengan TOA kecil. “Teman-teman sekalian, ternyata polisi berada di pihak kita. Mereka mambantu kita dalam aksi ini. Buktinya polisi tadi membantu kita untuk menginjak-injak bendera AS,” teriak Sugeng.

Mendengar ini puluhan mahasiswa itu bertepuk tangan. Rombongan polisi pun buru-buru mundur dan mengambil bendera AS itu untuk diserahkan kepada mahasiswa.

Mahasiswa lalu mengambil bendera dan membuangnya di jalan. Sehingga bendera tersebut terinjak-injak oleh ban mobil. Selang 10 menit, salah seorang petugas polisi meminta mahasiswa untuk mengambil bendera AS yang sudah kotor dan lecek itu.

Akhirnya mahasiswa sudi mengambil bendera untuk dibawa pulang. Mahasiswa tidak jadi ke Istana karena Hillary sudah meninggalkan Istana. (nik/ken)


Sumber: www.kammi.or.id

Lanjut membaca “Mahasiswa ‘Kerjai’ Polisi Injak Bendera AS”  »»

HARAPAN TERBUJUR KAKU

>> Saturday, February 14, 2009

Aku tulis sajak ini di bawah remang berkabut

Dalam benakku yang tak lagi salut


Aku melihat kepingan harapan berserakan

Seperti dedaunan kering dibantai kemarau

Aku melihat semerawut harapan

Seperti wajah bumi digempa terseret




Aku melihat segumpal harapan beku terbujur kaku

Seperti bongkahan salju beku membatu



Harapan-harapan dikerangkeng kepala buntu membatu

Mengapa tak kau lepaskan dirimu

Dari kerangkeng lesu

Malah kau makin membisu

Hadirmu membuatku malu

Tanpa gegas memburu

Seperti awalmu yang terdahulu

Gigihmu tanpa keluh




………………….

Kepada tunas-tunas baru

Kupeluk tatapmu dalam haru

Biar aku bersama kau selalu

Dengan harapan baru mengharu biru



Abaikan mereka terbujur kaku

Agar tidak tertular kaku

Lalu mati terbujur kaku



Malang, penghujung 2008

El_hezhna



Catatan: Buah karya seorang teman.


Lanjut membaca “HARAPAN TERBUJUR KAKU”  »»

Lahirnya Pemimpin Masa Depan

>> Friday, February 13, 2009

Pemimpin sebuah negara memiliki tanggung jawab penuh thd negara yg dipimpinnya. Karena pemimpinlah yg akan mengatur jalannya roda pemerintahan. Pemimpinlah yg akan mewakili performansi negaranya di hadapan negara lain. Pemimpin jualah yg berkewajiban mengayomi warga negaranya. Dan sudah tentu pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.

Pemimpin sebuah organisasi (baca: KAMMI) sama seperti pemimpin negara. Pemimpin organisasi juga bertanggung jawab ats organisasi yg dipimpinnya. Dia jualah yg mengatur jalannya roda organisasi. Dia yg mewakili performansi organisasinya. Tak lupa, dia juga harus mengayomi 'warganya.' Dan sudah tentu dia akan dimintai pertanggungjawabannya.

Perjalanan KAMMI (Daerah Jakarta) kembali mengukir sejarah. Ya, dalam waktu yg berdekatan, telah lahir empat pemimpin baru. Pemimpin Masa Depan KAMMI (Muslim Negarawan), yaitu:

1. Rio (Ketua Komsat Badar, Periode 2008-2009)
Muslim Negarawan ini berasal dari daerah Barat Jakarta.

2. Nauval Abu Dzarr (Ketua KAMMJA, Periode 2008-2010)
Muslim Negarawan ini berasal dari Komsat Uhamka. Dialah yg akan memimpin negara-negara bagian (baca: Komsat-Komsat) yg ada di Jakarta.

3. Imran Hasyim (Ketua Komsat UIN, Periode 2008-2009)
Muslim Negarawan ini berasal dari satu-satunya Universitas Islam Negeri, di Jakarta.

4. Inggar Saputra (Ketua Komsat UNJ, Periode 2008-2009)
Muslim Negarawan yg berasal dr Fakultas Hijau (FIP) ini, baru saja dilahirkan. Tepatnya 7 Februari kemarin.


Selamat ats kelahiran para Muslim Negarawan.

Semoga dapat menjalankan amanah dng sebaik-baiknya.

Semoga dapat membawa perubahan utk kemajuan negaranya masing-masing.


Lanjut membaca “Lahirnya Pemimpin Masa Depan”  »»

Struktur Pengurus Pusat

>> Thursday, February 12, 2009

STRUKTUR PENGURUS PUSAT

KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA (KAMMI)

PERIODE 2008 – 2010

MAJELIS PERMUSYAWARATAN PUSAT

1. Febriansyah, SP.
2. Budiana, S.Pd.I
3. Taufiq Amrullah, ST, ME.
4. Ariyanto Hendrata, S.Pd.
5. Hendro Susanto, S.Pd.I
6. Rahman Toha Budiarto, ST.
7. Muhamad Fikri Aziz, S.Pd.I.

PIMPINAN PUSAT KAMMI

Ketua Umum : Rahman Toha Budiarto, ST

Sekertaris Jenderal : Muhamad Fikri Aziz, S.Pd.I

Bendahara Umum : Teguh Priambudi, S.Pd

Ketua 1 : Bramastyo Bontas Prastowo, S.Sos

Ketua 2 : Sri Widya Supena

Ketua 3 : Sukmono Adi

Ketua 4 : Anwar, ST

Ketua 5 : Rijalul Imam, S.HI, Msi

Ketua 6 : Samsir Afiat Hutasoit, S.Si

Ketua 7 : Aprilliana , S.Pd

PENGURUS HARIAN KAMMI PUSAT

Wasekjend 1 : Muhammad Suwanto

Wasekjend 2 : Sugeng Wiyono

Wasekjend 3 : Wildan Fahmi

Wasekjend 4 : Akmal Diky, S.Pd.

Wasekjend 5 : Muhammad Reza Azhar

Wasekjend 6 : Ade Imat Ruhimat, ST.

Wasekjend 7 : Yulia Agus Parina, S.S.

Wasekjend 8 : Wawan Wahyudin, S.Kom.

Wabendum 1 : Syahrul Yusman

Wabendum 2 : Oktavinawati

Wabendum 3 : Hamidah

1. Dept. Kaderisasi : Ady Purwanto, M. Ilyas, Euis Yustiana, Ahmad Fauzi, Dini Aulia, Mustafa Mahdor.

2. Dept. Pembinaan Wilayah : Zuliyanto, SE. , Deni Priyatno, Firmansyah Mantovani, Erwin Chairil, Reza Milady Fauzan, Iman Perdana Kusuma.

3. Dept. Kebijakan Publik : Riyandi, Isra Taher, S.IP., Imam Hadi Kurnia, Kana Kurniawan, Fitri Thamrin, Yudi, Akbar Tri Kurniawan.

4. Dept. Humas : Eric Setiawan, S.Psi, Sofyardi Rahmat, Ari Ikhsan Siregar, Suryanta Bakti, Syarifudin.

5. Dept. Hukum Dan HAM : Nasrulloh Nasution, SH. Udin, SH., Nurul Chotimah, SH. Lenny Hamdi, SE. Meta Syarah, SH.

6. Dept. Sosial Ekonomi : Adi Samsuito Siregar, SE., Nova Novita, Yudistira

7. Dept. Peng. Masyarakat : Dede iskandar, S.Pdi, Aziz Darji, , Ganjar Gumilar, Rizal Adityanto

8. Dept. Pendidikan & PT : Agung Andri, SP, Ayatulloh, S.Pd., Mauquf, S.Pd.

9. Dept. Kemahasiswaan & Kekaryaan : Ahmad Fadhli, Zainal Hanafi, Saroni

10. Dept. Hubungan LN : Mohan, SE, Andre, Reni, Okta, Dodi, Syarifudin

11 Dept. Pendidikan LN : Yumroni, Lc, Nabil Ahmad Fauzi, S.Sos., Mukhtar, Linda

12. Dept. PO : Agus Bahar Rachman, S.Pt, Ahmad Safri, Kamaludin

13. Dept. Litbang : Hermawan, S.Si, Adyos Boby Chandra, Erni

14. Dept. Advokasi Kemuslimahan : Sri Wahyuni, SE., Citra LP, Sri Diniyati

15. Dept. Pengembangan Kemuslimahan : Nasuhatin, Muchleily Jamilah, Dewi Julita

16. Dept. Seni & Budaya : Fajar Arya Kumbara, S.Sn,

Dibawah koordinasi Wasekjend 8 :

17. Divisi Arsip & Kesekretariatan : Alfia Diah Ningsih

18. Divisi Rumah Tangga : Joko Wardoyo, SE.

Lanjut membaca “Struktur Pengurus Pusat”  »»

Untukmu Izinkan Ku Lukiskan Harapan

>> Friday, February 6, 2009


Untukmu izinkan ku lukiskan harapan
Engkau zamrud permata keindahan dunia
Kelembutan fitrah yang harus kau jaga
Dengannya kan kau guncang dunia

Engkau madrasah pendidik generasi
Tempat bersenai mujahid-mujahid pengganti
Penuh serta darah yang telah tertumpah
Di hamparan bumi Islam tercinta ini


Engkau adalah penentram jiwa yang gundah
Dikala hujjah dan goda datang menimpa
Kaulah peneguh hati yang dilanda sunyi
Senyummu penyejuk sanubari

Ketangguhan ruhiyahmu terpancar terang
Lewat bening mata kehalusan pribadi
Masih adakah keindahan di mata
Selain pribadi muslimah yang terpuji

Tapi ingat pesan Sang Pembawa Risalah
Kaulah fitnah terbesar sepeninggalnya
Karena begitu mudah dirimu terguncang
Oleh manis kata gemerlap dunia

Untukmu izinkan ku lukiskan harapan...




Keterangan:
Rangkaian kalimat di atas merupakan sebuah lirik nasyid, yang saya lupa penyanyi dan judulnya. Nasyid ini merupakan nasyid pertama ketika saya bergabung di Rohis (Keputrian)SMU


Lanjut membaca “Untukmu Izinkan Ku Lukiskan Harapan”  »»

Resensi Novel 'Cinta yang Terlambat' Karangan Dr. Ikram Abidi

>> Wednesday, February 4, 2009


Identitas Buku:
- Kategori : Buku fiksi
- Jenis : Novel romantis
- Pengarang : Dr. Ikram Abidi
- Ilustrasi : Seorang gadis
- Warna : Hitam keabu-abuan

Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan berusia 26 tahun, tampan, kaya, dan terdidik. Dia anak tunggal sebuah keluarga terhormat. Ayahnya pengusaha terkenal di Karachi. Aariz rupanya tengah jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London, Komal namanya.

Komal memang cantik, pintar, modern dan, sebagaimana Aariz, ia berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari “sekte” alias mazhab yang berbeda dengan keluarga Aariz, terutama ibunya, menentang keras hubungan mereka. Begitu pula dengan ayah Komal.bahkan sebenarnya Komal telah dijodohkan dengan orang kepercayaan ayahnya, yang bernama Sikander Riza.

Guna membuktikan sikapnya, Sa'dia (ibunya Aariz) memaksa Aariz untuk menikahi anak dari saudaranya, yang bernama Zeest. Dia adalah seorang gadis desa, konservatif, dan menggunakan hijab. performansinya sangat bertolak belakang dengan Komal.

Pernikahan Aariz dan Zeest sangat jauh dari kebahagiaan. Aariz lebih suka menganggap Zeest perusak kebahagiaannya, daripada istrinya. Walaupun telah menikah Aariz tetap berhubungan dengan Komal.
Zeest tidak pernah mengeluh. Bahkan dia tampil sebagai teman baik bagi Aariz.

Pada suatu hari kedua orang tua Aariz dibunuh dan Komal meninggalkannya.Stres berat akhirnya mengantar Aariz ke rumah sakit jiwa. Selama dua tahun ia menjalani rehabilitasi kejiwaan di sana, sebelum akhirnya ia dinyatakan sembuh total. Setelah kesembuhan yang menakjubkan itu, Aariz mulai menyadari bahwa orang yang paling cocok dan didambakannya adalah Zesst, gadis desa yang dipilihkan ibunya untuknya. Ia adalah gadis yang tabah, suci, dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepada suaminya. Namun, di manakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya dua tahun yang lalu?

Novel ini merupakan terjemahan dari judul aslinya 'Hijab Waali.' Novel yang sedang gresst di Pakistan.

Di awali dengan tokoh Deeba dan Sheeba, dua kakak-beradik yang menjadi aktor dalam membuka tabir kehidupan Aariz Ali.
Dengan stategi yang disusunnya, akhirnya Deeba mampu membuat sang penyair muda terkenal (Aariz) yang anti diwawancarai, menceritakan kisah hidupnya. Kisah hidup yang selama ini dipendam dan hanya diketahui oleh dirinya. Melalui sosok Deeba-lah, Aariz mampu menceritakan semuanya. Kisah hidupnya yang diwarnai kesedihan dan 'tragis'.

Novel ini sangat menarik untuk dibaca. Bahasa yang digunakan ringan dan mudah dimengerti. Namun tidak meninggalkan gaya puitis dan sastranya. Setiap tokoh memiliki karakteristik tersendiri. Selain itu novel ini juga mengandung nilai-nilai keagamaan yang cukup kental. Hal ini diwakili oleh tokoh Aariz yang kembali kepada Al-Quran, tokoh Zeest yang senantiasa memegang teguh nilai-nilai Islam, tokoh Paman Maulana yang digambarkan sebagai mediator bagi Aariz, dan tokoh Deeba yang hijrah kepada Islam. Selain itu masih banyak lagi kejutan-kejutan yang akan kita temui.



Lanjut membaca “Resensi Novel 'Cinta yang Terlambat' Karangan Dr. Ikram Abidi”  »»

Sinopsis Cerpen 'Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi' Karangan Seno Gumira Ajidarma

Cerpen “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi” mengisahkan kehidupan masyarakat di sebuah daerah yang padat penduduk. Di dalam cerita tersebut dikisahkan seorang wanita yang sangat disiplin hidupnya. Ia bangun tidur dengan tepat waktu, berangkat dan pulang kerja dengan tepat waktu, makan tepat waktu, sampai mandi pun tepat waktu. Tidak luput setiap mandi, wanita itu selalu menyanyi di kamar mandi. Sebenarnya suara wanita itu tidak terlalu bagus, tetapi karena biasa dilalukan tepat waktu, warga sekitar menjadi tahu kebiasaannya itu.

Kebiasaan menyanyi di kamar mandi ini ternayta menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum lelaki. Tepat setiap waktu si wanita itu mandi, banyak lelaki yang berdiri di balik tembok kamar mandi menikmati indahnya suara wanita yang sedang mandi itu, dengan diiringi suara air yang jatuh membasahi tubuhnya. Mereka membayangkan adegan yang erotis dengan wanita itu. Tentu saja hal ini menjadi masalah besar bagi kaum ibu.

Ibu-ibu di daerah tersebut yang biasa memakai daster dan gulungan rambut di kepala, mendatangi Pak RT dengan sikap geram. Mereka menuntut Pak RT untuk mengambil tindakan tegas terhadap wanita tersebut, agar ia tidak lagi menyanyi di kamar mandi. Permintaan ibu-ibu tersebut pun dipenuhi. Pak RT dengan malu-malu menjelaskan maksud kedatangannya. Wanita itu dapat memaklumi maksud kedatangan Pak RT, dengan penuh pengertian wanita itu menerima usulan Pak RT.

Esok harinya, tidak ada lagi suara serak-serak basah dari kamar mandi. Wanita itu tidak lagi menyanyi, hanya terdengar suara air yang membasahi tubuh. Meski begitu, toh para lelaki di daerah tersebut tetap tidak berhenti menghayalkan adegan seru dengan wanita itu. Tindakan menghentikan wanita itu dari kebiasaannya menyanyi di kamar mandi, ternyata tidak memulihkan kepasifan dalam rumah tangga warga di daerah tersebut. Alhasil ibu-ibu di daerah itu meminta Pak RT mengusir wanita tersebut dari daerah mereka.

Dengan berat hati, Pak RT mengabulkan keinginan ibu-ibu tersebut. Rasa malu menyelimuti wajah Pak RT ketika menemui wanita itu dan menjelaskan maksud kedatangannya itu. Wanita itu dengan seksama mendengarkan penjelasan Pak RT, ia tidak merasa tersinggung dengan penjelasan Pak RT tersebut. Akhirnya dengan kerendahan hatinya ia memutuskan untuk tinggal di Kondominium.

Sehari setelah wanita tersebut pergi, di sebuah teras rumah salah seorang warga, bercakap-cakaplah sepasang suami-istri. Si suami berkata bahwa jam-jam ini, adalah waktunya wanita itu mandi. Ia mandi denganpenuh semangat, suaranya yang seksi selalu mengiringi suara air membasahi tubuhnya yang padat berisi. Si suami tak henti-hentinya berimajinasi tentang wanita itu. Tentunya hal ini membuat si istri marah. Si istri berteriak minta tolong, ternyata teriakannya disambut oleh ibu-ibu lain di daerah itu.

Pak RT menjadi kalang kabut menghadapi persoalan ini. Tindakannya mengusir wanita tersebut dari daerah kekuasaannya ternyata tidak membuahkan hasil. Wanita tersebut memang telah pergi, tetapi imajinasi tentang wanita itu tetap ada dalam benak para lelaki di daerah itu. Pak RT segera mengambil tindakan tegas. Ia memerintahkan para kaum ibu untuk ikut program senam kebahagiaan rumah tangga, dengan tujuan agar para ibu di daerahnya dapat membbahagiakan suami mereka di tempat tidur.Pak RT juga mengeluarkan peraturan baru, yaitu “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi.“

Lanjut membaca “Sinopsis Cerpen 'Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi' Karangan Seno Gumira Ajidarma”  »»

Kritik Puisi 'Bukit Si Bisu' Karya Slamet Sukirnanto

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang telah populer di masyarakat. Jenis karya sastra ini lahir sebagai hasil pemikiran seseorang yang didasarkan pada pengalaman baik yang dilihat maupun dialaminya secara langsung dan tidak langsung. Hasil pemikiran ini terwujud dalam untaian kata yang memiliki nilai estetis. Hal ini seperti dinyatakan Zulfahnur dalam Teori Sastra, bahwa puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetik.

Objek puisi itu dapat berupa masalah-masalah kehidupan dan alam sekitar, ataupun segala kerahasiaan (misteri) di balik alam, realitas, dan dunia metafisis. Contoh yang dapat kita lihat adalah puisi karya: Slamet Sukirnanto, yang berjudul “Bukit Sibisu.” Penyair dalam puisi ini mengambil tema mengenai kehidupan di danau Toba.

Ditinjau dari tema, puisi ini sangat menarik untuk dibaca. Puisi ini dapat membangkitkan rasa pesona kita terhadap danau Toba. Di dalam puisi tersebut, penyair melukiskan keadaan di sekitar bukit yang berdiri kokoh diselimuti kabut. Sangat agung dan indah dipandang mata. Pernyataan ini tertulis dalam bait pertama:

Tak ada waktu menggali luka
Hanya kabut dan kehijauan
-selimut pertapa!Diammu mengagumkan
Menyentuh kencana-keheningan jiwa,
Mengatas terus bertanya:
Adakah memang puncakmu sorga?
Bukit Sibisu


Di dalam puisi tersebut, penyair juga mengisahkan seorang lelaki yang ada di danau Toba. Lelaki itu adalah nelayan yang menggantungkan kehidupannya di danau Toba. Lelaki itu mencoba tegar meski hari itu ketidakberuntungan bersamanya. Bersama sunyi ia terus berusaha. Ia mencoba tetap teguh hati bekerja tak mengenal waktu, mencari tangkapannya di danau Toba. Lihat puisi di bawah ini:

Dikakimu
Lelaki tertahan sejenak
Mengurai gairah.Dan lupa
Tanya hari esok
Keyakinan kokoh
Dalam ruang batinnya.
Tiba-tiba tegak
Bagaikan batu padas tanah Toba!
Bersama sunyi mengeja semesta!
Danau toba juga batu padas dan manusia
Hidup di tebing curam
Mengoyak lebar kolam maha luas
-mandilah bulan dan matahari senja!


Diiringi senandung lara, lelaki itu tetap bekerja. Senandungnya menggeletarkan angkasa, memuaskan rasa dahaga pada dirinya. Senandungnya itu melarutkan rasa was-was dan kecewa yang dialaminya. Lihat bait puisi di bawah ini:

Ada nyanyi gersang
Dan petikan gitar
Menggeletar merongga angkasa!
Puaskan dahaga
Was-was dan kecewa
Larut bersama ombak.


Lelaki yang bekerja tanpa mengenal waktu, meski raganya didera rasa letih itu, pulang dengan gontai. Langkahnya bak seorang pemabuk. Dengan sedikit hasil tangkapannya ia kembali ke rumah. Berharap di esok hari kehidupannya menjadi lebih baik dan ia dapat memahami hidup lebih bijaksana. Perhatikan bait berikut ini:

Si pemabuk tuak pulang
Gontai. Di tangannya
Menggenggam erat setangkai bunga!
Beri lagi aku
Hidup bijak
Dalam keras batu
Dalam lembut bunga
1979


Melalui puisi tersebut, penyair ingin menyampaikan amanat, bahwa alam telah memberikan kehidupan kepada manusia. Hal ini bukan berarti manusia dapat berleha-leha menikmati alam seenaknya, melainkan harus dengan jalan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Puisi karya: Slamet Sukirnanto ini kaya dengan metafora (makna di atas lapis makna).

Puisi terbentuk oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra dari dalam karya itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk karya sastra dari luar karya itu. Unsur intrinsik yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tema, amanat, dan diksi.
Tema dapat diartikan sebagai ide pokok yang menjiwai keseluruhan isi puisi, yang mencerminkan persoalan kehidupan manusia, alam sekitar, dan dunia metafisis, yang diangkat penyair dari objek seninya (Zulfahnur: 1996-1997; 80). Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya.

Diksi adalah pilikan kata yang bersifat estetis dan esensial dalam sebuah puisi. Penggunaan kata yang tepat oleh penyair akan menunjukkan kemampuan intelektualnya dalam melukiskan suatu keadaan.

Puisi „Bukit Sibisu,“ ditinjau dari aspek tema sangat menarik untuk dibaca dan ditelaah. Penyair mencoba mengangkat kehidupan manusia yang bergantung pada danau Toba. Penyair melukiskan suasana yang sunyi di danau Toba, di sana ada seorang nelayan yang telah bekerja tanpa mengenal lelah dengan hasil tangkapan yang tidak seberapa. Ia terus mencari ikan di danau Toba dengan sisa tenaganya, sambil berharap esok hari lebih beruntung dari hari itu.

Secara tersirat, penyair menyampaikan amanat, bahwa hidup harus dilalui dengan perjuangan. Seberat apapun perjuangan itu kita tidak boleh berputus asa. Alam telah memberikan kita kehidupan, tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi sumber kehidupan. Kita tidak boleh berpangku tangan menikmati alam, melainkan terus berusaha dan menatap ke depan menuju kehidupan yang lebih baik.

Dengan kepandaian penyair merangkai kata, kita dapat merasakan betapa tidak beruntungnya lelaki itu. Penyair terlihat sangat hati-hati di dalam memilih kata. Karena kehati-hatiannya itu, orang awam akan merasa sulit menafsirkan makna puisi tersebut. Contoh yang dapat dilihat adalah ketika penyair melukiskan seorang lelaki yang tertahan sejenak di bawah kaki bukit si bisu, kemudian ada kalimat “bersama sunyi mengeja alam semesta!/Danau toba;juga batu padas dan manusia/hidup di tebing curam/mengoyak lebar kolam maha luas.” Bukankah petikan tersebut menggambarkan seorang lelaki yang mencari peruntungan di danau Toba? Di bagian akhir puisi, penyair menulis “Si pemabuk tuak pulang?gontai.di tangannya/menggenggam erat setangkai bunga.” Bukankah petikan tersebut sama sekali tidak menggambarkan seorang lelaki yang habis mencari peruntungan di danau Toba?

Pemilihan kata seperti ini dapat menjerumuskan pemahaman pembaca. Pembaca akan menjadi bimbang di dalam menafsirkan makna puisi tersebut. Tentunya hal ini tidak perlu dialami pembaca, jika saja penyair memilih kata dengan mempertimbangkan kemampuan pembaca awam di dalam menafsirkan puisi. Penyair kurang berani memainkan kata, sehingga keindahan bukit Sibisu beserta keagungannya menjadi tidak terpancar.
Penyair juga kurang mendeskripsikan kondisi alam di bukit dan danau Toba itu. Padahal apabila diberikan deskripsi yang lebih lengkap lagi, akan terpancar keagungan dan keindahan bukit Sibisu dan danau Toba.



SLAMET SUKIRNANTO


BUKIT SIBISU


Tak ada waktu menggali luka
Hanya kabut dan kehijauan
-selimut pertapa!Diammu mengagumkan
Menyentuh kencana-keheningan jiwa,
Mengatas terus bertanya:
Adakah memang puncakmu sorga?
Bukit Sibisu
dikakimu
Lelaki tertahan sejenak
Mengurai gairah.Dan lupa
Tanya hari esok
Keyakinan kokoh
Dalam ruang batinnya.
Tiba-tiba tegak
Bagaikan batu padas tanah Toba!
Bersama sunyi mengeja semesta!
Danau toba juga batu padas dan manusia
Hidup di tebing curam
Mengoyak lebar kolam maha luas
-mandilah bulan dan matahari senja!
Ada nyanyi gersang
Dan petikan gitar
Menggeletar merongga angkasa!
Puaskan dahaga
Was-was dan kecewa
Larut bersama ombak.

Si pemabuk tuak pulang
gontai. Di tangannya
Menggenggam erat setangkai bunga!
Beri lagi aku
Hidup bijak
dalam keras batu
dalam lembut bunga

1979



Lanjut membaca “Kritik Puisi 'Bukit Si Bisu' Karya Slamet Sukirnanto”  »»

Transliterasi Naskah Rabi'ah Al-Adawiyah

Bismillahirrahmanirrahim wabihi nasta’ in ’alaa, ini suatu hikayat Rabi’ah Al-Adawiyah tatkala itu ia berkhadimah kepada Syekh Juanaidi Al-Baghda Rahmatullah Alaihi maka datang kepada Syekh Junaidi Bin Samani Farj tahun lamanya ia akan berhadimah maka dilihat rupanya dan ilmunya dan sifatnya dan fi’linya dan budionya dan bijaksana lagi arif bilah terlalu amat baik rupanya maka Syekh itupun inginlah Rabi’ah Al-Adawiyah di dalam hatinya datang pada tujuh bulan lamanya dimakin itu juga tiada dikatakan seperti kata kepadanya

maka Rabi’ah Al-Adawiyah pun berkehendak kepada Syekh itu akan hadap juga sampai beberapa lamanya maka dikatakan oleh Syekh oti kepada Rabi’ah Al-Adawiyah ya Rabi’ percayalah kamu barang kehendak kepada aku ya Rabi’ maka kata Rabi’ ya Tuanku Syekh tiada yang lain peroleh tetapi tuanku guruh seperti Bapa dan lagi Tuan akan hamba tiada dapat hamba ridho akan tuan hamba maka ujarnya ya Rabi’ jika engkau tiada dapat tata aku mengajarkan kamu maka ujar Rabi’ hamba tiada ridho karena hamba melainkan Allah maka ujarnya ya rabi’ jika engkau ridho bangkulah aku mendatangkan birahimu kepada Allah Subhanahu Wata’ala maka ujar Rabi’ ya Tuanku “La Yutibbu Syaia Siwaallahu Ta’alaa” Artinya : “Bahwa aku tiada menyentuh sesuatu pun lain daripaga Allah Ta’alaa” maka ujarnya ya Rabi’ jikalau tiada mendapat birahi menunggulah aku mendatangkan birahimu kepada Allah ta’ala maka ujar Rabi’ ya Tuanku ada pun bersuami itu haramlah kepadaku maka ujar Syekh ya Rabi’ tiada engkau mengerti firman Allah Ta’ala di dalam Qur’an dimakin bait “Fain qihuu Matha’alakum Mina ‘nasyaa” Artinya “Beristrilah kamu perangainya baik bagi kamu daripada perempuan” maka ujar Rabi’ ya Tuanku hambamu tiada ridgokan bersuami maka ujarnya ya rabi’ tidakkah engkau dengar sabda Rasulullah Sallahu ‘Alaihi Wasallam “Annikahu Sunnati Faman Yarghabu Aan Sunnati Fahuwa Minni Faman Lam Yarghabu Aan Sunnati Falaisya Minni” Artinya: “Nikah itu sunnahku barang siapa bherkehendak kepada sunnahku maka yaitu daripada aku maka barang siapa tiada berkehendak daripada sunnahku maka tiada daripada aku” maka ujar Rabi’ sebenarnyalah seperti sabda Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam itu tetapi hambamu tiada ridhokan bersuami karena orang bersuami itu dengan rupa baik dan badian bermula hambamu dhoif maka ujar Syekh ya Rabi’ tiadakah Engkau mengira sabda Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam : “Laisya Syauaa Ahabba’llahu Illa Nikahi Walaisyaa Syauaa Ghadhaba’llahu Illa’Thalaqi” Artinya : ‘Tiadapun suatu kebaikan yang disukai Allah selain orang yang bersuami dan beristri dan tiadapun yang dibenci oleh Allah melainkan orang yang bercerai” maka ujar Rabi’a ya Tuhanku sebenarnyalah seperti sabda nabi SAW tetapi hambamu tiada ridhokan bersuami maka kata Robi’a : “Inni Layatlibu Syaiaa Fil’Qulubi Lian’na Qalbiha Yahiilu’kkahu Ta’alaa” maka ujar Rabi’a hamba tiada mau bersuami itu maka ujar Syekh ya Rabi’a tiada Engkau mengira sabda nabi SAW : “Man Ta’allama Harfan Fahuwa Maulanaa” Artinya : “Barang siapa mengajar satu huruf maka yaitu Tuhan” maka kata Rabi’a benarlah seperti sabda nabi SAW yan Tuhanku hambamu ridho di jual sepuluh kali pada sehari hambamu ridhokan dibakar ke dalam api hambamu ridho diselamkan di dalam laut sekalipun hambamu ridho tetapu seperti perkataan itu hambamu tiada mauh maka ujar ya Rabi’a tidakkah Engkau mengira sabda nabi SAW “Man’Akaranal’istadsi Fahuwa Khafirunn Waman Ankaraal’isytadsi Fahuwa Batilun” Artinya: “Barang siapa mungkar daripada kata guru maka ia itu tertutup dan barang siapa mungkar daripada guruna” maka yaitu salah makaEabi’a mengira sabda nabi SAW. Demikian itu maka Rabi’a pun pikir dalam hati tujuh hari dan tujuh malam tiada makan dan tiada minum dan tiada tidur sampai tujuh hari maka ujar rabi’a ya junjungan hambamu ridho seperti firman Allah ta’alaa dan sabda rasul SAW tetapi hambamu memohonkan janji dibawa pada tuanku maka ujar Syekh ya Rabi’a apa janjimu padaku katakan ahlim .
Salafi aku mengetahui dia maka ujar Rabi’a ya Tuanku Syekh hambamu ridho dikawin tuanku khutbah nikah itu tetapi hambamu menemukan wathi dan itman maka ujar Syekh ya Rabi’a barang bagaimana kau kehendaki kuturunkan. Pada masa ini maka dikhawarirkan khutbahnya ibrahim akan alasan kahawin stabil setengah firoq tembangan dari negeri Baghdad setelah sudah kahawin kalikan maka Rabi’a pun bersujud dibawah Qodim. Syekh sampai dating kepada tujuh tahun lamanya, demikian oitu juga Syekh dan Rabi’a pun tinggalkan pula Syekh itu setelah dengarlah segala uang di dalam negeri Baghdad itu adalah rabi’a maka segala kaya-kaya dan segala penghulu-penghulu dan segala lebih-lebih dan segala mukmin-mukmin sekalian di dalam negeri itu akan rabi’a tiada ridho akan bersuami maka kata Rabo’a adapun suami ayat harmilah.

Padaku sampai beberapa lamanya demikian itu juga kata didengar kepada Syekh yang taat dan baik rupanya, rarasnya lagi mu’tabar rupanya segala orang-orang empat itu maka kata Syekh empat orang itu marilah kita pergi kepada salah seorang pada kita empat ini akan ridhonya maka Syekh empat orang itu pergilah kepada rabi’ pertama Syekh Sari’ah dan kedua Syekh Thoriqoh, dan ketiga Syekh haqiqoh dan keempat Syekh Ma’rifah. Setelah datang Syekh empat orang itu dating kepada Rabi’ maka Rabi’ mengambil air akan basahkan kepada kaki Syekh empat orang itu setelah Rabi’ segeralah mengambil permadani akan tempat kedudukan oleh Syekh empat itu maka diambil pula tempat pinang dan perhadapan orang empat itu “Hai tuan-tuan yang empat ini apa maksud tuan-tuan datang kepada kepada hamba karena hambamu ini orang ghorib lagi dhoif dan payah lagi bebal tiadapun berilmu apakah pekerjaan tuan datang kepada hambamu ini maka Syekh empat orang itu berkata “Ya Robi” maka dengarlah kepada orang banyak yang engkau ini perempuan berbudi dan berilmu dan beramal dan berakhlak dan terlalu elok rupanya lain dari pada perempuan sekalian lagi perempiuan Maha Besar dan malih, shodiq, maka datang kami ini pilih salah seorang yang empat ini akan suamimu ya Rabi’ benar kepadamu ambil akan suamimu maka kata rabo’ yan Tuhanku Syekh empat orang sungguh tuan-tuan yang masyaasyiih lagi mu’tabar tiada ridho hamba pada tuan-tuan anjing dibawah itu maka pergilah kepada Sultan Abu Sa’id maka Syekh empat itu datang bersembah kepada Sultan Abu Sa’id itu “ya Paduka Sya’ah Alim Sri Sultan Al-Mu’zhom Al-Maliki, Al-Kirom Zolla Allah ta’alaa Fil-A’alam Ya Ruhanku dialah seorang perempuan yang bernama Rabi’ mengatakan hambamu empat orang seperti anjing dibawah rumahnya maka Sultan itu menyuruh orang memanggil kepada Rabi’. Setelah datang Rabi’ kepada Sultan Abu Sa’id maka bertanya Sultan itu “Hai Rabi’ mengapa engkau mengatakan kepada Syekh empat orang ini seperti anjing-anjing dibawah rumahmu maka Rabi’ pun datang sembah kepada Sultan itu “ya Tuhanku sembah Alim hambamu mendengar suatu hadits : “Nabiyaa Sallallahu Alaihi wassalama Addun’niyaa Bisiifatun Wathalibuha Qilabun” Artinya : “Bermula yang menuntut dunia itu seperti anjing menuntut barang busuk itu melainkan anjing”. Ya Sya’ah Alim Al-hammu daripada bangkai busuk itu hambamu barang siapa yakni akan hambamu ini seperti anjing di rumahku maka Sultan Abu Sa’id bewnar katamu ini ya Rabi’ sampai bertanya Sultan Abu Sa’id kepada Syekh empat orang itu dahulu itu Tanya kepada Syekh syariat, tahukah engkau pada jalan syari’at maka kata Syekh hamba tahu pada jalan syari’at maka disuruh Sultan mengambil tali kuda maka diikat punggungnya maka disuruh tarik janggut oleh Syekh maka barulah dihalalkan sebelah janggut maka syari’at rakian mka dilamakan Syekh itu maka sabda Sultan Abu Sa’id kepada Syekh Thoriqoh maka disuruh ambil kursi maka disuruh tikam pada dada maka barulah menakarlah mengatakan dirinya hamba tiada tahu pada jalan Thoriqoh rakian maka dilengafkan kepada Syekh itu maka sabda Sultan Abu Sa’id kepada Syekh Hakiqoh tahukah engkau pada jalan Hakiqoh maka ujar Syekh itu tahu hambamu pada jalan Hakiqoh maka disuruh ambil maka dimasukkan ke dalam maka di suruh buangkan ke dalam laut daharukan diselamkan ke dalam laut maka Syekh Hakiqoh itupun menakarlah mengatakan dirinya tiada rahu pada jalan Hakiqoh maka dilepaskan kepada Syekh itu maka kata Sultan Abu Sa’id kepada Syekh Ma’rifat maka disuruh ambil kayu sekira-kiranya sebuah rumah baiknya maka dibuba api maka disuruh masukkan ke dalam api maka barulah akan dimasukkan ke dalam api maka Syekh itupun menakarlah mengatakan dirinya tiada tahu pada jalan Ma’rifat setelah sudah dilepaskan Syekh empat orang disiasikan itu maka sabda Saidinah Abu Sa’id kepada Rabihan Al-Adawiyah hai Rabihan Al-Adawiyah tahukah engkau jalan syari’at maka ujar Rabi’ tahu hambamu pada jalan syari’at maka ujar Rabi’ tahu hambamu pada jalan syari’at dengan sempurnanya maka Rabi’a dengan sebenarnya maka di suruh ikat pada punggungnya dengan tali maka dahlia pada Rabi’a pun masuk pada huruf alif bila makan bila saman maka nia tiada tahu akan tali itu dan dahulu itu dan orang sekalian melainkan Allah Ta’alaa maka sabda Sultan Abu Sa’id ya nabi tahukah engkau pada jalan Thoriqoh maka ujar Rabi’a tahu hambamu pada jalan Thoriqoh dengan sempurnah maka di suruh ambil kursi ditikam pada dadanya tatkala akan ditikam itu maka ia pun masuk pada huruf awwalam bila makan walau saman illa yashsuhuh’llahu ta’alaa, tiada ia tahu akan ditikam dengan kursi itu melainkan Allah jua yang amat tahu lalu taruh kursi itu kepada dadanya kali seketikapun tiada luka dan lakunya pun tiada dikelihatan maka sabda Sultan Abu Sa’id sesungguhnya ya Rabi’a engkau tahu pada jalan haqiqoh maka kata Rabi’a insyaallah ta’alaa hamba kerjakan dengan nama Allah maka disuruh Sultan Abu Sa’id kepada nabinya diselamatkan ke dalam laut maka baru disalamkan maka Rubiyah pun masuk kepada huruf lama akhir maka barulah tepis seperti budak pada para ibunya maka ia tiada tahu akan dirinya dari itu melainkan Allah Subhanahuwata’ala juga yang tahu kepada Rubiyah seperti budak di dalam helawat tujuh malam di dalam air itu/lalu segeralah disuruh wali Sultan kepada rakyatnya berangkatan ilham akan Rubiyah di dalam air itu tiada dia mati sehelai rambutnya pun tiada kalah maka sabda Sultan Abu sa’id bahwasanya engkau tahu jalan hakiki maka sabda Sultan Sa’id Rubiyah engkau pun tahu jalan hakiki maka sabda Sultan Abu Sa’id Rubiyah engkau tahu pun jalan Ma’rifah dengan sempurnanya maka kata Rubiyah insyaallah ta’alaa hambamu tahu pun jalan ma’rifah dengan sempurnanya maka sabda sultan pada rakyatnya ambil kayu dengan sekiranya sebuah rumah maka sabda sultan pada rakyatnya ambil kayu kepada Rubiyah dimasukkan ke dalam api maka segeralah di ambil Subiyah dibuangkan ke dalam api bercalah-calah itu tatkala baru dibuangkan ke dalam api maka Rubiyah pun masuk ke dalam wali zaman lasya hati ghoirullah artinya tiada sehingga lain daripada Allah artinya tibakah lainnya kepada Allah ta’alaa rekannya maka Rubiyah pun kelihatan tubuhnya seperti mukanya gilang gemilang cahayanya sehelai rambutnya pun tiada hangus maka sabda sultan bahwasanya kita mau itu benar dan segala perbuatan guna benar dan segala lakumu. Lalu lebih daru pun segala perempuan seorang pun tiada harus akan suamimu melainkan kepada suaminya maka wajar Rubiyah Syekh Salam Sari Sultan Al-Malik Al-Karim Allah Ta’alaa Fil’alamin engkau yang ada adalah melainkan pun menikah dan berandai-andai pada engkau bermula aku tiada ridho’kan bersuami maka katanya pula ya Sultan Laa yatola’addun’niyaa Wal Akhiroh Laa Yatolaballahu Ta’alaa juga kata Subiyah ya Sultan tidakkah engkau firman Allah ta’alaa “Samaroduulii Muu Lii Humulhaqi” Artinya : “Semua kemudian kembali kepada ialah tuhan yang benar maka sabda sultan ya rubiyah tidakkah engkau dengar sabda nabi solallahu’alaihi wasallan adalah nikah habiballah utoola wa’aduwallah adalah nikah adalah yahaballah ta’alaa artinya tidakkah memaksakan nikah melainkan memaksakan Allah juga berkata sultan ya rubiyah tidakkah dengar firman Allah ta’alaa “waholaqna kama jaa madiina” Artinya : “pun akan bersuami juga maka ujar rubiyah “laa yatoolabaddun yaa bil fana’a laa ya tolaballahu baqo” Artinya : “Aku tidak menuntut dia yang binasa melainkan menuntut Allah yang kekal maka sabda sultan ya rubiyah “wa kuli maa holaqollahu yaa jaujah” Artinya : “Sekalian dijadikan tiap-tiap ya rabbi Tuhan Maha Tinggi dengan berseri juga maka sempurnalah dan tiada sampai hidupnya” jam didengar Rabbi’a sabda Sultan Abu Sa’id Hakim itu maka membicarakan dalam hatinya sepuluh hari dan sepuluh malam tiada makan dan tiada minum dan tiada tidur melainkan membicarakan dalam hatunya juga maka katanya Rabbi’a ya paduka Sri Sultan Sa’id halkim itu membicarakan di dalam hatiku maka ujar Rabbi’a ya Paduka Syekh Alam Sri Sultan Al-Hakim Al-Malik Al-Karim Dhola Allah Ta’alaa Fil’Alamin, maka sultan itupun berkhayal bukan Rabbi’a di luar rumah berdiri kepada huruf yafu maka perlakuan pada lima maka Rabbi’a bergerak segala anggotanya berdiri segala rambutnya dan rahmat kenalah akan dirinya adapun pintu surga dua puluh delapan pengikat maka tiada dikhobarkan dirinya seperti mayat disintarkan tujuh hari tujuh malam ia mi’raj kepada Tuhannya maka kembalikan nafsunya ulah sultan iapun gonilah daripada getah ,maka barulah nafasnya maka diberi Allah ta’alaa Sultan itu empat ratus rumpun yang dafilah kunudi Rabbi’a itu setelah datang kepada tujuh bulan lamanya dalam

Lanjut membaca “Transliterasi Naskah Rabi'ah Al-Adawiyah”  »»

Definisi Belajar

Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. (Margaret Gredler, terj Munandar, 1994; hlm 1). Dengan belajar peserta didik dapat mengetahui hal-hal yang baru dan dapat meningkatkan pengetahuan yang dimilikinya, mengubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang salah menjadi benar, dan dari kurang baik menjadi baik. Seperti yang dikatakan oleh Riberu, bahwa belajar merupakan proses dan dalam proses ini orang berkenalan dengan salah satu pola lajkuatau memperbaiki salah satu pola laku yang telah dikuasainya. (Riberu, 1982; hlm 10)

Selain itu Riberu juga mengatakan, belajar bisa berarti berkenalan dengan atau memperbaiki pemikiran, berkenalan dengan atau memperbaiki turturan bicara, berkenalan dengan atau memperbaiki tindakan/kegiatan. (Riberu, 1982; hlm 11)

Dengan kata lain, belajar merupakan suatu upaya untuk memperbaiki, mengembangkan, bahkan meningkatkan kemampuan afektif, psikomotorik, dan kinestetik peserta didik.
Kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik harus seimbang antara otak kanan dan kiri. Untuk mencapai hal tersebut, sebaiknya proses belajar tidak hanya dilaksanakan dengan metode konservatif (ceramah/DDCH -> Duduk, dengar, catat, dan hafal), tetapi juga metode-metode lain yang dapat merangsang keaktifan peserta didik.

Belajar bisa melalui pengalaman melibatkan peserta didik secara langsung dalam masalah atau isu yang dipelajari. Sehingga peserta didik dapat lebih aktif dan menerima pelajaran dengan baik. Bukan sebaliknya cepat jenuh, bosan, dan sebagainya.
Belajar aktif dan menyenangkan (biasa dikenal dengan ‘Learning/ Learning by Fun’) dapat menstimulus kreativitas peserta didik dalam proses belajar.

Lanjut membaca “Definisi Belajar”  »»

Karya Fiksi

Karya fiksi dapat diartikan sebagai karya imajiner dan estetis. Prosa dalam pengertian kesusastraan juga disenbut fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discource) (dalam pendekatan struktural dan semiotik). Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan (cerham) / cerita khayalan. Hal itu disebabkan fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak mengarah pada kebenaran sejarah. (Abrams, 1981:61)

Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksi dengan Tuhan. Fiksi merupakan hasil dialog kontemplasi, realsi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Walaupun khayalan, fiksi merupakan perenungan. Selain itu fiksi merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagai karya seni. Fiksi menawarkan model kehidupan yang ideal bagi pengarang dan meneguhkan sosoknya sebagai karya seni yang berunsur estetik dominan.

”Prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan- hubungan antarmanusia. Pengarang mengungkapkan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.

Sigmund Freud mengatakan: “Seseorang mau membaca / ingin membaca suatu karya fiksi (karya kreatif) bukan sekedar ingin tahu isi cerita yang dibacanya, melainkan juga sebagai pembebasan ketegangan dalam jiwa. Pembebnasan ini merupakan kenikmatan.“

Adapun yang dimaksud dengan daya imajinasi itu sendiri adalah gift, anugerah atau bakat. Maya Angelou seorang penyair dan novelis Amerika Serikat yang juga dikenal sebagai penari dan sutradara film pertama perempuan di Negeri Paman Sam mengatakan “Jangan menjadi pengarang kalau malas atau malu-malu berimajinasi”. Dia juga menegaskan, bagi seorang pengarang, berimajinasi merupakan suatu keharusan. Modal utama pengarang memang daya imajinasi atau kemampuan berimajinasi. Tanpa adanya daya imajinasipengarang akan menjadi mandul alias tidak mampu menghasilkan karya.

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa fiksi adalah karya imajiner (khayalan) dan estetis yang menceritakan dinamika kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, dan dengan Tuhan. Fiksi merupakan buah dari kontemplasi yang dilakukan oleh manusia tentang kehidupan yang dijalaninya. Fiksi juga dapat diartikan sebagai rekaan (cerham)/cerita khayalan, yang tidak sepenuhnya berangkat dari kenyataan atau sejarah. Bahkan seringkali karya fiksi di luar nalar berpikir manusia itu sendiri.


Lanjut membaca “Karya Fiksi”  »»

Karangan

Karangan merupakan rentetan kalimat-kalimat yang berkaitan satu sama lain sehingga terbentuk maksud yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Hal ini sejalan dengan pendapat A. Widiyamartaya yang menyatakan bahwa karangan adalah ungkapan kandungan jiwa manusia yang hendak disampaikan kepada orang lain dan akinat proses berpikir. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa karangan merupakan hasil dari proses bernalar yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Menurut Naning Pranoto, sebagai pengarang kita memang harus memikirkan eksistensi pembaca. Mengapa demikian? Karena sebelum menulis kita lebih dulu berrtanya: kita akan menulis apa? Menulis untuk siapa?. Kita menulis untuk pembaca. Kita harus selalu menyadari, perbuatan menulis adalah melakukan suatu pekerjaan untuk orang lain. Para pembaca yang menilai apakah karya kita baik atau tidak. Penilaian ini bisa terungkap bila bahasa yang kita pergunakan untuk menulis memang dipahami oleh para pembaca karya kita. Pendapat ini menjelaskan bahwa untuk bisa menulis karya yang berbobot, seorang pengarang dituntut memiliki akar dan wawasan mengenai materi yang ditulisnya atau dijadikan objek tulisannya.

Banyak pengarang pemula yang mengeluh, sungguh sulit untuk memulai mengarang. Ini hal yang wajar, oleh karena itu tak perlu dikhawatirkan dan ditakutkan.
Mengapa demikian? Karena proses mengarang bukan seperti membangun rumah atau katakanlah membuat kue, yang cukup memerlukan keterampilan dengan berpedoman pada aturan (resep) yang baku.

Karangan dapat dibedakan atas beberapa macam penggolongan (klasifikasi) yaitu karangan prosa dan karangan puisi. Dapat pula dibedakan atas karangan fiksi dan non fiksi. Dan masih banyak lagi, sesuai dengan kebutuhan pengarang.

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa kita harus konsisten dan konsekuen dengan dasar penggolongan yang dipilih. Seperti pada penggolongan berikut ini: ada empat macam bentuk yaitu bentuk narasi (cerita), bentuk deskripsi (lukisan), bentuk eksposisi (paparan), bentuk argumentasi (gagasan), dan persuasi (ajakan).


Lanjut membaca “Karangan”  »»

Kosakata

Dewasa ini kosakata Bahasa Indonesia berkembang sangat pesat, seiring dengan perkembangan zaman, baik kosakata daerah maupun asing. Kosakata daerah: Jawa, Sunda, Batak, dll. Selain itu juga kosakata asing: Inggris, Belanda, Jerman, dll.

Adapun kosakata dasar (Basic Vocabulary) di antaranya adalah istilah kekerabatan (ayah, ibu, anak, adik, kakak, nenek, dsb.), nama-nama bagian tubuh (kepala, rambut, mata, telinga, hidung, dsb.), kata ganti (saya, kamu, dia, kami, dsb.), kata bilangan pokok (satu, dua, tiga, empat, dsb.), kata kerja pokok (makan, minum, tidur, bangun, dsb.), kata keadaan pokok (suka, duka, senang, susah, dsb.), dan benda-benda universal (tanah, air, api, udara, dsb.).

Terlihat juga kosakata yang berasal dari yang sudah ada, namun maknanya berubah, misalnya: Canggih artinya suka mengganggu (ribut, bawel, dsb.) berubah menjadi sebutan bagi teknologi modern.

Kegiatan berbahasa, baik lisan maupun tulisan tidak dapat lepas dari kosakata. Kosakata itu sendiri berasal dari bahasa Sanksekerta, yang artinya kekayaan kata-kata, daftar kata, perbendaharaan kata. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), kosakata berarti perbendaharaan kata. Selain itu juga dapat disebut sebagai kumpulan kata.

Dalam pembelajaran bahasa, sejumlah besar kosakata dikuasai oleh seorang penutur bahasa. Watts berpendapat bahwa rata-rata anak yang masuk sekolah dasar telah mengenal 2000 kosakata. Pada umur 7 tahun jumlah kosakata anak mencapai 700 dan pada umur mendekati 14 tahun mencapai 1400 kosakata. Diperkirakan perkembangan kosakata orang dewasa non akademik kurang lebih 10.000 dan terpelajar/pakar 150.000 kosakata. Sedangkan mahasiswa diperkirakan 60.000-100.000 kosakata. Adapun jumlah keseluruhan kosakata bahasa diperkirakan 500.000-600.000 kosakata.

Proses berbahasa, baik lisan maupun tulisan tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan kosakata. Karena kandungan atau isi dari bahasa lisan atau tulisan itu sendiri adalah kumpulan dari kata (kosakata) yang membentuk rangkaian frasa, klausa, hingga kalimat-kalimat, yang pada akhirnya membentuk paragraf yang kohesi dan koheren. Oleh karena itu menguasai kosakata merupakan suatu keharusan. Semakin banyak menguasai kosakata, semakin banyak pula yang dapat kita tuangkan.

Dalam Kurikulum 2004 Standar Kompetensi, Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah untuk kelas XI. pada bagian Kompetensi Berbahasa, Memahami Bentuk Baku dan Tidak Baku, dengan standar kompetensi: Memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan. Adapun indikatornya adalah siswa mampu menunjukkkan kalimat tidak baku dan siswa mampu menyusun kalimat baku. Sedangkan kalimat itu sendiri terdiri dari kosakata.

Penguasaan kosakata penting bagi anak didik, untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan dalam menulis. Dilihat dari segi kemampuan berbahasa, menulis merupakan kegiatan yang menghasilkan suatu tulisan. Dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan gagasannya melalui bahasa sebagai medianya.

Lanjut membaca “Kosakata”  »»

Otak dan Ujaran

Otak memiliki kaitan erat dengan ujaran. Menurut Soenjono Dardjowidjojo, otak manusia dibagi menjadi dua bagian: bagian kanan (hemisfir kanan) dan bagian kiri (hemisfir kiri). Bentuk fisik kedua bagian sama, tetapi ada bagian-bagian fungsi yang berbeda. Pada waktu lahir, belum ada pembagian tugas yang ketat antara keduanya. Keduanya merupakan satu kesatuan yang plastis.

Menjelang usia puber, terjadi proses penyebelahan atau lateralisasi, yakni suatu proses saat keplastisan kedua bagian ini berkurang, dan terjadilah semacam penumpahan tugas pada hemisfir kiri. Pada hemisfir kiri telah ditemukan bagian-bagian yang berkaitan dengan bahasa.

Broca menemukan pada seorang pasien yang terkena adhasia, bahwa pasien ini mendapatkan luka di bagian agak muka helisfir sebelah kiri. Bagian ini dibuktikan lebih lanjut sebagai salah satu bagian yang mengontrol ujaran dan sekarang terkenal dengan nama daerah Broca.

Selanjutnya Broca mengatakan bahwa dasar ujaran tergantung pada empat faktor: 1) Sebuah ide, 2) Hubungan konvensional antara ide dan kata, 3) Sara penggandengan gerak artikulasi dengan kata, dan 4) Penggunaan alat-alat artikulasi.

Berbeda dengan penemuan Broca, penemuan yang dilakukan oleh Wernicke berkaitan dengan hal-hal penanggapan indera. Dalam penemuannya itu ia menemukan bahwa bagian belakang di sebelah agak kanan otak itu bersarang tanggapan-tanggapan rasa (sensory impressions). Sel-sel ini sebenarnya bukan motoris atau sensori, tetapi lebih tergantung pada hubungan dengan korteks-korteks lain. Untuk selanjutnya, daerah Wernicke merupakan daerah pertama atau paling tidak salah satu daerah pertama, yang menangdapi rangsang indera.

Selain daerah Broca dan Wernicke, ada satu daerah lagi yang langsung berkaitan dengan ujaran, yaitu daerah korteks superior. Daerah ini mengontrol mekanisme kortikal yang dipakai untuk menggerakkan saraf-saraf penyuara. Saraf-saraf ini berbentuk suatu rentetan mekanisme di daerah Rolando, berjajar menuju broca.
Sehubungan dengan bagian dan fungsi otak, maka timbullah suatu hipotesis yang menghubungkan pertumbuhan biologis manusia dengan taraf-taraf penguasaan bahasa. Hipotesis ini dikenal dengan ‘Hipotesis Umur Kritis’. Pada dasarnya hipotesis ini mengatakan bahwa: 1) Penguasaan bahasa itu tumbuh sejajar dengan pertumbuhan biologis. Dan 2) Setelah masa puber, penguasaan bahasa secara natural sudah tidak bisa lagi.

Bambang Kaswanti Purwo mengatakan pada usia dua belas tahunan, sering ditemui bahwa anak sudah menguasai bahasa dengan sempurna. Namun, masih banyak kesalahan-kesalahan. Padahal usia mereka sudah berada di ambang pintu berakhirnya masa paling peka dan paling plastis di dalam proses pemerolehan bahasa (masa emas belajar bahasa).

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, menurut hasil penelitian Lenneberg usia antara tiga dan sepuluh tahun adalah masa pewnyempurnaan kekurangan-kekurangan di dalam tata bahasa. Palermo dan Molfese mencatat bahwa usia antara lima dan tujuh tahun, serta antara dua belas dan empat belas tahun merupakan masa transisi di dalam perkembangan bahasa.



Lanjut membaca “Otak dan Ujaran”  »»

Resensi

Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

Seorang penulis resensi (pertimbangan buku) bertolak dari tujuan untuk membantu para pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca sebuah buku tertentu atau perlu tidaknya menikmati suatu hasil karya seni. Hasil karya seni misalnya: drama, film, sinetron, sebuah pementasan, dst.

Resensi harus disesuaikan dengan selera pembaca. Oleh karena itu resensi yang dimuat melalui sebuah majalah mungkin tidak sama dengan yang disiarkan oleh majalah lain. Resensi juga harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan para pembacanya. Pembaca merupakan orang-orang yang akan dihadapi secara langsung oleh penulis resensi.

Untuk memberi pertimbangan atau penilaian secara objektif atas sebuah hasil karya atau buku, penulis resensi harus memperhatikan dua faktor:
1.Penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku. Hal ini dapat dilihat dari Kata Pengantar.

2.Penulis resensi harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi.

Adapun struktur dari resensi adalah sebagai berikut:
1.Tema resensi
Tujuannya untuk menarik pembaca

2.Deskripsi isi buku
Dengan deskripsi, pembaca yang belum tahu, dapat memperoleh gambaran tentang isi buku tersebut. Deskripsi buku tidak hanya terdisri dari isi buku, melainkan juga identitasnya. Antara lain: penerbit, tahun terbit, tempat terbit, tebal buku, format (ukuran), dan harga.
Penulis resensi juga dapat memperkenalkan pengarang/penulis bukunya, missal: nama, ketenarannya, dan buku atau karyanya.

3.Jenis buku
Penulis resensi juga harus mencantumkan jenis buku tersebut, baik secara eksplisit maupun implisit.

4.Keunggulan dan kekurangan buku
Untuk menentukan keunggulan dan kekurangan buku, dapat dilihat berdasarkan:
a.Organisasi (kerangka)
b.Isi -> apakah sudah jelas/tuntas, ada uraian/contoh tidak, berikut pembahasannya.
c.Teknik -> perwajahan (lay-out), kebersihan, pencetakan kata-katanya, tanda baca, dst.

5.Nilai buku
Penulis resensi juga harus memberikan sugesti kepada pembaca, apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak. Tetapi penilaian yang diberikan harus objektif.

Lanjut membaca “Resensi”  »»

Ringkasan dan Ikhtisar

Ringkasan (Precis) merupakan suatu cara yang efektif untuk mengungkapkan suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat. Ringkasan bertolak dari suatu naskah asli, secara singkat. Maka dari itu ringkasan disebut reproduksi.

Kata précis berarti ‘memotong atau memangkas.’ Oleh karena itu membuat ringkasan dari sebuah karangan yang panjang dapat diumpamakan seperti memotong atau memangkas batang pohon, sehingga tinggal batang, cabang-cabang, dan ranting-ranting, serta daun-daun yang diperlukan. Jadi esensi dari pohon tersebut tetap dipertahankan.

Dalam ringkasan, gaya bahasa, ilustrasi, dan penjelasan-penjelasan yang rinci dihilangkan. Sari karangan dibiarkan tanpa hiasan. Walaupun bentuknya ringkas, précis tetap mempertahankan pikiran pengarang dan pendekatannya yang asli. Seorang pengarang atau penulis sebuah ringkasan, berbicara dengan suara pengarang/penulis asli.
Oleh sebab itu, ia tidak boleh memulai ringkasannya, misalnya dengan mengatakan: Dalam karangan ini pengarang berkata … tetapi ia harus langsung mulai dengan membuat ringkasan karangan itu, berupa meringkaskan kalimat-kalimat, paragraf-paragraf, bagian-bagian, dst.

Selain tetap mempertahankan keaslian sudut pandang pengarang/penulis, ringkasan juga tetap mempertahankan urutan isi karangan tersebut. Dengan kata lain, ringkasan tetap sesuai dengan urutan isi dari pengarang asli, hanya saja dipersingkat. Adapun cara membuat ringkasan ialah sebagai berikut:
1.Membaca naskah asli beberapa kali untuk mengetahui kesan umum dan maksud pengarang/penulis.
2.Mencatat gagasan utama atau gagasan yang penting atau menggarisbawahinya.
3.Membuat reproduksi atau menyusun kembali suatu karangan singkat, berdasarkan gagasan-gagasan utama seperti yang dicatat atau digarisbawahi di atas.

Berbeda dengan ringkasan, ikhtisar tidak perlu mempertahankan urutan isi karangan asli. Selain itu ikhtisar juga tidak perlu memberikan isi dari karangan secara profesional. Penulis ikhtisar dapat langsung mengemukakan inti atau pokok masalah dan problematika pemecahannya. Sebagai ilustrasi, beberapa bagian atau isi dari beberapa bab, dapat diberikan untuk menjelaskan inti atau pokok masalah tersebut. Sementara bagian atau pokok yang kurang penting dapat dihilangkan. Bentuk ikhtisar lebih bebas daripada ringkasan.


Lanjut membaca “Ringkasan dan Ikhtisar”  »»

Proposal

Definisi proposal adalah rencana kerja yang disusn secara sistematik dan terinci untuk suatu kegiatan (proyek) yang bersifat formal. Secara sederhana, proposal dapat diartikan sebagai usul, rencana, perencanaan, lamaran, dan penawaran.

Proposal memiliki struktur tersendiri, yaitu:
- Secara sederhana:
> Nama kegiatan (Judul)
> Dasar pemikiran
> Tujuan
> Ruang lingkup
> Waktu dan tempat kegiatan
> Anggaran biaya

- Secara lengkap:
* Nama (Judul)
* Pendahuluan
* Landasan Pemikiran
* Maksud dan Tujuan
* Sasaran
* Tema Kegiatan
* Bentuk Kegiatan
* Pelaksanaan Kegiatan
* Susunan Panitia
* Susunan Acara
* Anggaran Biaya
* Naskah Kontrapretasi Sponsorship (Lembar Kerja Sama)

Idealnya pembuatan proposal harus disertai dengan POAC (Planning, Organization, Actuating, and Controlling), sehingga diharapkan proposal dapat direalisasikan sesuai dengan rencana yang telah dibuat dan disepakati oleh suatu kepanitiaan.
- Planning berarti 'Perencanaan.'
“Gagal dalam merencanakan sesuatu, berarti merencanakan kegagalan”
Visi bersama, tujuan, renstra, analisis SWOT

- Organizing (Pengorganisasian)
“The Right Man on The Right Place”
Pembagian kerja, team work, dan komunikasi

- Actuating (Pelaksanaan)
DO IT !!!!

- Controlling (Evaluasi)
Perbaikan dan Up Grading

Proposal dengan tampilan sebagus apapun, tidak akan ada artinya jika tidak dibarengi dengan kesolidan tim kerja. Ya, proposal yang sudah dibuat sesempurna mungkin, tentu tidak akan berarti jika belum didistribusikan oleh pihak Danus atau tim kerja.

Proposal baru dianggap mencapai goal, bila sudah didistribusikan kepada pihak sponsor (misal: perusahaan, instansi, CV atau perorangan), kemudian ada feed-back. Hal ini tidak dapat direalisasikan bila dalam kepanitiaan tersebut masih saling mengandalkan atau menganut pepatah ‘Super Team is Dead, Now is Super Man.’ Sikap saling mengandalkan antara satu dengan yang lain, tidak akan berdampak baik dalam sebuah kepanitiaan (tim kerja).




Catatan: Ditulis untuk bahan TO, materi Kesekretariatan.

Lanjut membaca “Proposal”  »»

Surat

Surat bagi sebuah organisasi, bukan sekadar selembar kertas tanpa makna. Lebih dari itu, surat merupakan bukti otentik/bukti tertulis tentang suatu maksud dari organisasi tersebut.

Definisi surat secara umum adalah sarana komunikasi berupa karangan untuk merumuskan secara tertulis tentang pernyataan, pertanyaan, pemikiran, pertimbangan, permintaan dan atau hal-hal lain yang disampaikan kepada pihak yang dituju.

Surat dibagi menjadi dua jenis, yaitu resmi dan tidak resmi. Surat resmi terdiri dari tiga, yaitu surat instansi, surat lembaga, dan surat organisasi. Ketiganya bersifat surat dinas: Surat yang berisi informasi mengenai kepentingan tugas dan kegiatan dinas instansi yang bersangkutan. Sedangkan surat tidak resmi terdiri dari surat yang bersifat pribadi. Pada tulisan ini, saya akan membahas tentang surat resmi (organisasi).

Sama dengan hal lain, surat juga memiliki fungsi penting, di antaranya:
1.Alat untuk menyampaikan pernyataan, pemberitahuan, permintaan atau permohonan, dan buah pikiran atau gagasan.
2.Bukti tertulis.
3.Alat untuk mengingat -> Arsip.
4.Bukti historis -> Mandat, SK, Rekomendasi, dsb.
5.Pedoman kerja -> Sk dan SP.

Bagi pengendara motor/mobil, tentu tak asing dengan rambu-rambu lalu lintas. Surat juga demikian, ada rambu-rambu yang harus ditaati, di antaranya:
a. Hindari pemakaian kata yang kurang tepat.
b. Gunakan diksi/kalimat yang singkat dan jelas, tanpa menghilangkan dan menyalahi pola kalimat.
c. Harus ada koherensi.
d. Gunakan pungtuasi (ejaan dan tanda baca) sesuai dengan EYD.

Berbicara mengenai bentuk, sudah menjadi hal lazim jika ada perbedaan. Sama halnay dengan surat, karena bentuk surat memang lebih dari satu. Adapun bentuk-bentuk surat yang ada saat ini ialah:
a.Bentuk lurus penuh (Full block style)
b.Bentuk lurus (Block style)
c.Bentuk setengah lurus a (Semi block style a)
d.Bentuk setengah lurus b (Semi block style b)
e.Bentuk alenia menggantung (Hanging paragraph style)
f.Bentuk lengkung (Idented style)

Khusus untuk bentuk surat, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, menggunakan bentuk setengah lurus b (Semi block style b).

Surat dapat diibaratkan sebagai tubuh manusia, yang memiliki beberapa bagian. Mulai dari kepala hingga kaki. Di bawah ini merupakan bagian-bagian dari surat, yaitu:
1. Kepala surat (Kop)
2. Tanggal surat
3. Nomor surat
4. Lampiran
5. Hal surat
6. Alamat (dalam) surta
7. Salam pembuka
8. Isi :
- Paragraf pembuka
- Paragraf isi
- Paragraf penutup
8. Salam penutup
9. Ttd, nama jelas, dan jabatan
10.Tembusan
11.Inisial

Bagi setiap organisasi, surat yang sesuai dengan kaidah merupakan suatu keharusan. Agar pesan yang ingin disampaikan melalui surat tersebut, dapat diterima dengan baik.



Catatan: Ditulis untuk bahan TO, materi Kesekretariatan.

Lanjut membaca “Surat”  »»

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP