"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Pembagian Konsonan

>> Monday, May 17, 2010

Pembagian konsonan dibagi menjadi empat, yaitu:
1.Berdasarkan Artikulator dan Titik Artikulasi
bilabial : b, p, m, w
palatal : c, j, ny, y
velar : k, g, kh, ng
dental : t, d, n
Fonem yang sedaerah artikulasi sidebut homorgan.

2.Berdasarkan Jalan Keluar Udara
bunyi oral : p, b, w, r, dsb.
bunyi nasal : m, n, ng, ny

3.Berdasarkan Halangan yang Dijumpai Saat Udara Keluar
hambatan/stop : p, b, k, t, d
frikatif/geser : f, v
spiran/desis : s, z, sy
trill/getar : r
lateral : l

4.Berdasarkan Turut Tidaknya Pita Suara Bergetar
bersuara : b, c, d, f, g, h, dst.
Tidak bersuara : k, t, p, s

Selain fonem, juga harus diketahui:
a. Huruf (lambang fonem)
b. Suku kata (kata yang dipenggal).
c. Diagraf (dua huruf satu fonem), yaitu ai, oi, au, ng, ny, sy, kh
d. Diafon (satu huruf dua fonem), contoh: mental, apel


Nb: Diambil dari berbagai sumber.


Lanjut membaca “Pembagian Konsonan”  »»

Gejala Perubahan Fonem

Gejala perubahan fonem terbagi atas 12 jenis, yaitu:
1.PEP (Penambahan) dan ASA (Pengurangan)
Contoh:
- Nyah -> enyah (penambahan [e] di awal)
- lamp -> lampu (penambahan [u] di akhir)  

2.Disimilasi
adalah pergantian atau penghilangan fonem yang seartikulasi; fonem yang sama dijadikan tidak sama.
Contoh:
- sajjana -> sarjana
- saptu -> sabtu


3.Asimilasi
adalah pergantian fonem karena pengaruh fonem sekitarnya; fonem tidak sama dijadikan sama.
Contoh:
- al salam -> assalam
- inpor -> impor
- me + pukul -> memukul


4.Metatesis
adalah pertukaran tempat atau etak fonem dalam sebuah kata.
Contoh:
- serap -> resap
- kelikir -> kerikil


5.Haplologi
adalah penghilangan sebuah suku kata di tengah kata.
Contoh:
- budhidaya -> budaya
- mahardika -> merdeka

6.Kontraksi
adalah pemendekan dua kata atau lebih.
Contoh:
- tapian na uli -> tapanuli


7.Diftongisasi
adalah proses peubahan satu vokal menjadi diftong.
Contoh:
- sentosa -> sentausa
- pulo -> pulau


8. Monoftongisasi
adalah perubahan diftong menjadi satu vokal.
Contoh:
- pulau -> pulo
- satai -> sate


9.Sandi
adalah dua vokal berurut yang lebur menjadi satu vokal baru.
Contoh:
- pesantrian -> pesantren


10.Adaptasi
adalah penyesuaian bentuk.
Contoh:
- driver -> sopir
- goal -> gol
- download -> unduh


11.Analogi
adalah pembentukan kata berdasarkan kata yang sudah ada.
Contoh:
- sastrawan -> sastrawati

12.Hiperkorek
adalah mencoba membetulkan kata yang tepat sehingga menjadi salah.
Contoh:
- surga -> syurga
- pihak -> fihak


Nb: Diambil dari berbagai sumber.

Lanjut membaca “Gejala Perubahan Fonem”  »»

Fonologi

Fonologi ialah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa secara umum. Ilmu ini terbagi dalam dua bidag, yaitu Fonetik dan Fonemik.

Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa tanpa memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna. Ilnu ini membahas tentang bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Contoh:
- Perbedaan pengucapan /a/ pada kata bunga dan bila
- Variasi bunyi /e/ pada lewat dan lekat
Varian bunyi tanpa menimbulkan perbedaan makna disebut alofon.

Fonetik terbagi menjadi tiga, yaitu:
1.Fonetik auditoris, mempelajari cara penerimaan bunyi oleh telinga penanggap tutur (lebih banyak digunakan dalam ilmu kedokteran).
2.Fonetik artikulasi, mempelajari bagaimana alat ucap manusia menghasilkan bunyi (bidang linguistik).
3.Fonetik akustik, mempelajari ciri-ciri bunyi bahasa dan peristiwa fisis.

Sedangkan Fonemik adalah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna.
Contoh:
- Pebedaan antara /i/ dan /e/ pada kata silat dan selat.
- Perbedaan antara /e/ dan /a/ pada kata dera dan dara.

Selain hal di atas, tentu kita tak asing dengan itilah fonem. Fonem adalah kesatuan bunyi yang dapat membedakan makna. Fonem terbagi menjadi tiga, yaitu Vokal, Semivokal, dan Konsonan.

Nb: Diambil dari berbagai sumber.

Lanjut membaca “Fonologi”  »»

[Ringkasan Cerita] Bawuk

BAWUK

(Karya Umar Kayam)


Bawuk, putri bungsu keluarga Suryo, putri seorang onder, priyayi Jawa, sejak kecil telah mununjukkan sifat-sifat kerakyatan, berbeda dengan keempat kakaknya. Hal ini tampak dalam sikapnya yang menghargai para pembantunya. Semasa remaja, ia seorang gadis lincah dan periang, namun berbudi halus. Hanya Bawuk seorang yang memahami kepedihan ibunya, yang terpaksa melihat suaminya tenggelam dalam pelukan ledek, dalam suatu pesta di kabupaten.

Setelah dewasa, Bawuk berkenalan dengan Hassan, seorang aktivis partai Komunis. Kemudian mereka menikah dan mempunyai seorang putri dan seorang putra. Ketika peristiwa G 30 S meletus, Hassan ikut terlibat dan terus dikejar tentara. Maka Bawuk beserta kedua anaknya terpaksa pindah dari suatu kota ke kota lain untuk mengikuti gerakan suaminya yang terpaksa terus melarikan diri dari kejaran tentara.

Akhirnya, Bawuk mengambil keputusan. Ia datang ke kota tempat tinggal ibunya, untuk menitipkan kedua anaknya. Tak mungkin ia membawa-bawa kedua anaknya dalam pelarian itu. Kedua anak itu membutuhkan hidup yang layak, bersekolah dengan tenang. Di rumah ibunya, Bawuk disambut oleh keempat kakak beserta ipar-iparnya yang telah mapan: seorang brigjen, seorang dosen di ITB, dirjen di salah satu departemen, dan seorang dosen lagi dari Gajah Mada. Mereka terus membujuk Bawuk agar tetap tinggal di kota itu. Namun Bawuk telah berketetapan hati untuk terus mencari suaminya. Dengan tegar, ia menjelaskan bahwa sebagai istri, ia tetap harus menemui suaminya. Hanya saja kedua anaknya dititipkan pada ibunya. Semua kakaknya sulit menerima keputusan itu, hanya sang ibu yang dapat memahami keputusan Bawuk.
Cerita ditutup dengan suara sayup anak-anak Bawuk yang sedang belajar mengaji. Bu Suryo membaca di surat kabar bahwa G 30 S telah ditumpas dan Hassan, menantunya adalah salah seorang yang diberitakan telah tertembak mati, tapi Bawuk tak ketahuan rimbanya.

Lanjut membaca “[Ringkasan Cerita] Bawuk”  »»

Hierarki Bahasa

Hierarki bahasa terdiri atas lima unsur (dari yang terkecil sampai terbesar), yaitu:
- Fonem, adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung bunyi dan dapat membedakan makna. Fonem juga berarti kesatuan bunyi yang dapat membedakan makna.

- Morfem, adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna. Secara sederhana dibagi dua, yakni: morfem bebas dan terikat. Morfem juga berarti bentuk linguistik terkecil (bagian morfologi) yang bermakna leksikal atau gramatikal sebagai pembentuk kata yang lebih kompleks.

- Kata, adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna dan mampu berdiri sendiri dalam sebuah kalimat.

- Frasa, adalah satuan bahasa yang dibangun dari dua kata atau lebih, yang tidak memiliki ciri predikat. Disebut juga kelompok kata.

- Klausa, adalah satuan bahasa yang memiliki minimal dua unsur inti, yaitu: subjek dan predikat, merupakan informasi yang belum selesai.

- Kalimat, adalah satuan bahasa yang paling sedikit mempunyai dua unsur inti dan memiliki informasi yang sudah selesai (tuntas). Ditandai dengan intonasi akhir.

- Wacana, adalah satuan bahasa yang komunikatif, otonom, dan memiliki pesan yang jelas. Panjangnya tidak ditentukan, bisa satu kata, artikel, atau buku.


Nb: Diambil dari berbagai sumber.


Lanjut membaca “Hierarki Bahasa”  »»

Bingkisan Sahabat

>> Sunday, May 16, 2010

Antara Bogor dan Jember
Ada jarak yang memisahkan kita
Tapi hati ini telah terpaut indahnya Rabithah
Asa ini kan selalu membara
Tak kenal menyerah
Mencari peluang untuk bersua

Untaian kata di atas merupakan sms dari sahabat saya yang berada di Jember. Ya, dia memang selalu mewarnai hari-hari saya dengan kata mutiara yang dikirim via sms. Tak hanya itu, beberapa waktu lalu, dia juga mengirimkan sebuah bingkisan ke rumah saya. Katanya sebagai hadiah milad saya.

Sebuah keranjang kecil dan bantal kecil berentuk hati buatan tangannya, gelang pink, kalung berliontin hati, dan sebuah bros pink berbentuk hati; adalah bingkisan yang dia berikan kepada saya. Subhanallah... betapa senangnya saya menerima bingkisan itu :-). Bukan karena jumlah/nilainya, melainkan karena ketulusannya yang terwakilkan oleh bingkisan itu.

Saya pun teringat awal perkenalan kami. Kami bertemu secara tak sengaja karena sama-sama aktif di sebuah milis. Kemudian kami berkenalan dan berkomunikasi. Ternyata kami memiliki berbagai kesamaan. Di antaranya id yang sama, nama panggilan yang mirip, sampai bulan kelahiran yang sama.

Sudah tentu kesamaan di atas turut andil dalam mempererat ukhuwah di antara kami. Namun lebih dari itu, semua adalah skenario Sang Maha Pembuat Skenario Kehidupan Manusia, yaitu Allah SWT.

Walaupun sampai detik ini, kami belum pernah bersua. Hal itu tidak mengurangi ukhuwah Islamiyah di antara kami.

Subhanallah... indahnya ukhuwah Islamiyah ^_^.


Lanjut membaca “Bingkisan Sahabat”  »»

Nostalgia SMP (Lagu Daerah Bagian 2)

Alhamdulillah... tadi ada salah seorang teman MP (biangla2hati) yang memberitahukan lirik lagu 'Teu Honcewanng.' Kira-kira berikut adalah liriknya:

teu honcewang, sumoreang
tekadna pahlawan bangsa
cadu mundur, pantang mulang
mun maksud tacan laksana
berjuang keur lemah cai
Lali rabi tur tega pati
Taya basa menta pamulang tarima
Ihlas rido keur korban merdeka


Saya jadi kembali teringat saat guru saya menjelaskan tt lagu di atas. Kalu tidak salah ada kaitannya dengan pahlawan, pengorbanan, dan perjuangan demi bangsa dan negara.

Lanjut membaca “Nostalgia SMP (Lagu Daerah Bagian 2)”  »»

Antara Sodet, HP, dan Pencurian

Apa yang terbayang dalam benak Anda bila mendengar kata 'sodet?'
Ya, tentu saja sajian masakan yang menggugah selera kita dan menggoyang lidah kita.
Siapa sih, yang tak kenal sodet. Secara sederhana berarti alat masak seperti sendok besar yang digunakan untuk menggoreng. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sendok ceper besar yg terbuat dr seng dsb untuk mengaduk sesuatu yg sedang digoreng; menoreh atau merobek dng benda tajam atau runcing; membuat terusan untuk mengalirkan air ke saluran lain.

Tentu yang kita maksud di sini adalah alat masak untuk menggoreng, sehingga menghasilkan aneka masakan yang lezat.

Namun, ternyata sodet tidak hanya bisa digunakan untuk masak. Baru-baru ini, sebuah berita di televisi membuktikan, bahwa sodet juga dapat beralih fungsi.

Sodet menjadi salah satu alternatif alat yang digunakan oleh pencuri (amatir) untuk memuluskan aksinya. Biasanya, si pencuri menggunakan sodet untuk mencuri telepon genggam (Handphone/HP) yang masih bisa dijangkau dari jendela. Tanpa terkecuali jendela berteralis.

Caranya, pencuri menyambung sodet dengan sebilah kayu/bambu kecil. Lalu mengikatnya dengan erat. Setelah itu si pencuri menuju ke rumah target dan mengamati. Bila dirasa aman, pencuri pun langsung mengulurkan sodet modifikasinya ke arah yang diinginkan. Tentu saja yang ada HP atau benda berharga lainnya. Biasanya anak kost/yang mengontrak menjadi sasran empuknya.

Oleh karena itu, mari kita jaga benda berharga kita. Usahakan jangan meletakkan HP atau benda berharga lainnya dalam jarak yang relatif dekat dengan jendela.

Lanjut membaca “Antara Sodet, HP, dan Pencurian”  »»

Nostalgia SMP (Lagu Daerah)

Kemarin, memori otak saya kembali memutar peristiwa yang telah lalu. Kali ini saya teringat dengan lagu-lagu yang pernah dinyanyikan di bangku SMP. Mulai dari lagu berbahasa Sunda sampai lagu berbahasa Indonesia, namun sarat akan unsur kedaerahan.

Saya kembali teringat sebuah lagu yang isinya menyanjung Kabupaten Bogor, suatu derah yang menjadi tempat domisili saya saat ini. Jemari saya pun mencoba mengetik kembali lirik demi lirik di keypad HP saya. Tentu saja sesuai dengan ingatan saya. Walaupun saya tida
k ingat judulnya. Alhasil, terangkailah beberapa kalimat yang membentuk sebuah lagu. Berikut ini liriknya (yang saya ingat):



Di antara gunung Salak dan Pangrango
Terbentang kawasan luas menghijau
Dihias Ciliwung, sungai termasyur
Kabupaten Bogor, indah dan subur

Semboyan Prayoga, Tohaga, Sayaga
Tertanam di dada setiap warga
Dengan Pancasila, membangun bangsa
Tekad Padjajaran, warisan purwa

Tegar Beriman... Tegar Beriman
Motto juang kita
Tertib rakyatnya, segar lingkungan
Bersih serta indah

Mandiri Cipta
Aman dan Nyaman
Bakti dan Amalkan

Tanah tercinta Kabupatenku...
Bogor tetap jaya



Kira-kira seperti itulah liriknya.Sebenarnya, ada satu lagu lagi yang masih terngiang. Namun saya belum bisa mengingatnya. Judul lagu itu (kalau tidak salah) : 'Teu Honcewang.'

Lanjut membaca “Nostalgia SMP (Lagu Daerah)”  »»

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP