"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Sampah itu Sampah Kita

>> Friday, August 29, 2008

Kemacetan dan sampah tentu sudah menjadi bagian dari sebuah kota (khususnya ibu kota). Bagi kalian yang tinggal di ibu kota, pemandangan di atas pasti ditemui setiap harinya.

Setiap hari, sampah berserakan di mana-mana, baik sampai organik maupun anorganik. Walaupun tersedia fasilitas umum, yakni tempat sampah. Hal itu tidak serta-merta membuat masalah ini selesai.

Sudah menjadi knowledge of the world bahwa tingkat kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, belum memasyarakat. Dengan berbagai alasan, di antaranya: kesibukan, deadline, malas, gengsi, dan lain sebagianya, meeka sering melupakan hal itu. Lagi-lagi membuang sampah sembarangan (tidak pada tempatnya) pun menjadi alternatif utama.

Apakah kita termasuk di dalamnya? Ya, boleh jadi kita termasuk dari sekian banyak orang yang membuang sampah sembarangan dan semaunya. Kalau istilah orang Jawa “Sak enak’ e dewe.” Ya, penyakit membuang sampah sembarangan memang bisa menjangkit siapa saja alias tidak pandang bulu. Mulai dari guru sampai murid, dari wong licik sampai wong cilik, pejabat sampai bawahan, aktivis dan bukan aktivis, dan profesi lainnya.

Coba kita lihat ilustrasi di bawah ini:
1) Tentu bukan pemandangan yang baru, jika kita melihat aktivis dakwah dengan tanpa beban membuang sampah sembarangan di kendaraan umum atau tempat-tempat umum. Walaupun itu hanya sampah kecil, missal: bungkus permen. Terlepas dari alasan mereka, lupa dan sebagainya.

2) Sebaliknya, bukan pemandangan yang baru juga, jika kita melihat aktivis memasukkan bungkus permen atau sampah-sampahnya ke dalam tasnya, dengan maksud akan membuangnya ke tempat sampah.

Dari ilustrasi di atas, dapat kita lihat perbedaannya. Jika dikaitkan dengan kesadaran masyarakat akan sampah, tentu ilustrasi kedualah yang menjadi pulihan. Hal ini paling tidak dapat membantu para petugas kebersihan.

Disadari atau tidak. Suka atau tidak. Sampah yang berserakan setiap harinya adalah sampah kita. Kitalah yang harus bertanggung jawab. Kita juga yang memutuskan, apakah termasuk si pembuang sampah sembarangan atau si pembuang sampah pada tempatnya. J


Bogor, 19 Agustus 2008

0 comments:

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP