"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Duka Situ Gintung

>> Tuesday, March 31, 2009

Jumat, 27 Maret 2009 dini hari. Adzan Shubuh belum selesai dikumandangkan muadzin. Namun air bah itu sudah lebih dulu menyapu perumahan warga yang berada di bawahnya. Ketika musibah itu terjadi, mayoritas warga sedang terlelap tidur.



Adalah Dadang, yang sudah merasakan tanda-tandanya. Menjelang musibah itu, dia berusaha membangunkan tetangganya dan mengajaknya mengungsi di Masjid Jabalul Rahmah. Masjid yang berada tepat di samping tanggul. Tetapi tidak semua warga turut serta bersama Dadang. Saat itu memang waktu yang nyaman utk melanjutkan tidur.

Muadzin belum sempat menyelesaikan adzan Shubuh itu. Namun air bah yang berasal dari Situ Gintung telah menyapa mereka. Tidak pandang bulu, dalam sekejap air bah itu menyapu semua yang dilaluinya dan terjadilah tsunami kecil itu. Tanggul Situ Gintung yang terletak di Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan-Banten, jebol seketika. Tanggul itu tidak kuat menahan debit air yang semakin besar. Benarkah karena itu? Atau itu merupakan bentuk protes tanggul yang selama bertahun-tahun tidak dirawat sebagaimana mestinya? Tanggul Situ Gintung yang seyogyanya menjadi irigasi persawahan, diubah fungsinya menjadi tempat wisata. Selain itu juga daerah resapan air di sekitar tanggul, direnggut, lalu digantikan dengan rumah-rumah yang berjejer. Tak ada lagi daerah resapan air.

Jika dilihat dari sejarahnya, tanggul Situ Gintung dibangun pada pemerintahan Kolonial Belanda. Tujuannya adalah untuk irigasi. Itu artinya, usia tanggul Situ Gintung sudah tua. Jika tidak diperhatikan dan dirawat dengan baik, wajar saja tanggul itu jebol.

Berdasarkan keterangan warga sekitar tanggul, sejak beberapa tahun lalu, mereka sudah melaporkan tentang kebocoran tanggul. Namun tidak ada action signifikan dari Pemerintahan setempat. Warga hanya bisa pasrah dan berbuat semampunya.
Kini, tanggul Situ Gintung pun tak kuat lagi menahan beban air. Dan akhirnya tanggul pun memuntahkan semua isinya. Menyapu semuanya, tanpa sisa, kecuali sebuah masjid.



Tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung menyisakan penderitaan dan duka mendalam bagi para korban. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, ketika dalam sekejap mereka kehilangan keluarga yang dicintai, kehilangan harta benda, kehilangan tempat berteduh, dan kehilangan hal-hal lain yang berharga bagi mereka.
Adzan Shubuh belum selesai dikumandangkan muadzin. Namun air bah itu sudah lebih dulu menyapu perumahan warga yang berada di bawahnya.

0 comments:

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP