"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Sepatu Sandalku Sayang, Sepatu Sandalku Malang, Sepatu Sandalmu....

>> Friday, July 25, 2008

29 Juni— Ahad pagi saya mengikuti Daurah Tarkiyah Akhwat (Pelatihan khusus wanita), dengan tema ‘Menyentuh dengan Hati.’ Kegiatan ini berlangsung di Masjid Fatahillah, dari jam 08:30 s.d. 12:00 WIB. Karena saya harus menyetrika dulu, maka saya pun datang terlambat. Kira-kira pukul 09:00-an.

Seperti biasa, saya pergi naik mobil pribadi setiap orang alias angkutan umum. Setelah kurang lebih 30 menit, saya pun sampai di depan gapura Perumahan Griya Cipeucang. Dengan sedikit tergesa, saya berjalan menuju Masjid. Sesampainya di sana, saya melihat banyak sandal berbaris rapi di pelataran Masjid. Memang rezekinya yang datang terlambat, sepatu sandal ‘Bata’ kesayangan saya pun harus rela berada di barisan paling belakang.

Saya pun bergegas masuk, setelah sebelumnya mengisi registrasi dan say hello dengan para ummahat yang ada di sana (sebagai panitia). Walaupun terlambat, saya berusaha konsentrasi mendengarkan sambil membaca makalah yang ada di tangan.

Tak terasa acarapun berakhir, tepat jam 11:30-an. Setelah itu masing-masing peserta membubarkan diri. Kecuali saya dan beberapa teman, karena Ummi meminta kami untuk tinggal. Ternyata kami membicarakan persiapan untuk kegiatan Ramadhan. Kebetulan kami PJ-nya. Kami larut dalam diskusi. Tanpa disadari ternyata masjid sudah lengang. Tak beberapa lama, diskusi pun berakhir. Saya dan seorang teman pamit duluan, karena akan ke khitanan saudaranya. Ya, teman saya meminta saya untuk menemani dia ke khitanan saudaranya.

Di pelataran masjid, mata saya seakan mencari sesuatu yang sangat dikenal. Namun hasilnya nihil. Sepatu sandal kesayangan saya seakan raib ditelan bumi. Wajah yang awalnya biasa saja, semakin menyiratkan tanda Tanya dan kebingungan. Teman-teman mulai bertanya apa yang terjadi. Saya pun menceritakan bahwa sepatu sandal saya tidak ada. Mereka pun membantu mencari. Ketika sedang mencari, tiba-tiba mata saya tertumbu pada sepasang sepatu sandal usang, agak robek, dan berukuran besar. Semakin saya amati, ternyata modelnya sama persis dengan milik saya. Namun, hati saya berontak. Bagaimana mungkin sepatu sandal yang tadinya bagus, tanpa robek, dan berukuran kecil tiba-tiba bisa berubah menjadi besar dan usang. Kalau usang/kotor masih rasional, mungkin terkena debu. Tapi kalu melar jadi besar, rasanya sulit diterima logika.

Akhirnya, saya pun berpikir bahwa sepatu sandal saya sudah ada yang membawa pulang. Entah siapa. Entah akhwat DPRa mana. Entah akhwat yang tinggal di mana. Tapi yang pasti, sepatu sandal miliknya masih ada di sini, di Masjid ini. Berpasangan dengan apiknya. Celotehan teman-teman pun terdengar, “Ayo…ayo.. siapa yang mau dibonceng Afi, sandalnya masih muat tuh.” Kami pun tertawa mendengarnya. Termasuk saya, walaupun agak keki. Sempat terbesit suudzon, ‘Masa sih tidak bisa merasakan bahwa sepatu sandal yang dia pakai itu terlalu sempit’. ‘Masa sih ga ngenalin sepatu sandal miliknya.’ Dan masa sih…masa sih…lainnya. Namun, pada akhirnya saya berusaha menepis hal itu dan menerimanya. Praktis saya ke khitanan dengan beralas kaki sepatu sandal usang, robek, berukuran besar… yang malang ditinggal pemiliknya!

Kini, sepatu sandal tak bertuan itu berpasangan dengan apiknya di rak sepatu-sandal rumahku.


***


Bogor, 29 Juni 2008


0 comments:

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP