"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Performansiku… Menipumu

>> Friday, July 25, 2008

Pengalaman yang akan saya ceritakan ini tentu pernah dialami juga oleh orang lain. Bisa jadi kamu termasuk di dalamnya. Ya, pengalaman ini memang pengalaman yang bisa terjadi kapan dan di manapun, tak terkecuali di masjid.

Kira-kira pukul 19:00 WIB beberapa bulan lalu, saya mengalaminya lagi. Saat itu, saya dalam perjalanan pulang ke rumah. Seperti biasa, saya naik angkot 121. Karena malas ke Terminal, saya pun menunggu di bawah jembatan sebelum tol (Tepatnya di seberang Termibnal Kp. Rambutan). Setelah cukup lama menunggu, mobil pun tiba. Saya kebagian posisi duduk di pinggir sebelah kiri, dekat pintu.

Perjalanan panjang, membuat saya terlena mendengarkan lagu Islami (nasyid) melalui headset. Awalnya, saya merasa semua baik-baik saja. Sampai saya menyadari, resleting sebelah kanan sudah terbuka. Refleks saya menutupnya kembali dan berjaga-jaga. Dengan memasang wajah jutek, saya mulai mengamati sekitar. Ya… Allah, ternyata ada tiga pencopet dalam mobil itu. Saat itu, mobil tengah melaju di tol, baru setengah perjalanan. Saya pun hanya bisa bersiaga. Posisi mereka, satu orang tepat di samping saya dan dua orang di depan saya. Selama perjalanan (di tol) saya hanya bisa berdoa sambil memegangi tas saya. Namun, saya berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut.

Alhamdulillah, pintu keluar tol pun kami lalui. Tepat di Jambore (Cibubur) ada seorang penumpang yang turun. Sehingga, seorang ibu yang awalnya duduk di kursi tambahan dekat pintu, pindah ke depan saya. Itu artinya tepat di samping dua orang pencopet itu. Baru sebentar duduk, ibu itupun seolah menyadari sesuatu. Sambil mengumpat kecil, ia pun memutuskan pindah ke posisi duduk semula. Benar saja, tasnya sudah terbuka. Beruntung tak beberapa lama, ia telah sampai tujuan. Sedangkan aku, pemberhentian terakhir masih lama. Terlebih ditambah dengan macet.

Sebenarnya bisa saja saya turun dang anti mobil. Namun entah kenapa saya tetap ada di sana sampai pemberhentian terakhir. Sepangjang perjalanan, hinaan dari mereka pun mampir ke telinga saya. Jujur, saya sangat kesal. Tapi bukan karena itu, melainkan mereka menggunakan kaligrafi sebagai alat pengalihan.

Alhamdulillah… dengan izin Allah, saya sampai rumah dengan selamat. Karena penat yang saya rasakan, naik becak pun menjadi pilihan. Sesampainya di rumah, saya pun langsung ke dalam kamar dan menangis…..

***

Kejadian serupa juga pernah saya alami. Tidak semua secara langsung. Ada juga saya sebagai saksi. Akhirnya, saya mulai menganalisis trik-trik yang biasa dipakai oleh para pencopet angkutan umum. Mereka pura-pura:

  • Menjatuhkan uang koin. Saat berusaha mengambil, sampai menggeser posisi duduk orang lain.

  • Muntah, tapi seringnya tidak keluar ‘isinya’, hanya ludah saja.

  • Menjual kaligrafi

  • Minta tolong bukakan jendela, sambil mengajak ngobrol. Untuk mengalihkan perhatian.

  • Menjatuhkan sesuatu.

  • Mengobrol dengan temannya (hal-hal seru) untuk mengalihkan perhatian.

Sedangkan cirri-ciri performansinya:

  • Rapi, layaknya pekerja kantoran atau mahasiswa atau pelajar

  • Biasanya membawa ransel panjang, tapi kempes. Digunakan untuk menutupi tangannya saat beraksi.

  • Terkadang memainkan Hp, untuk meyakinkan bahwa mereka punya Hp yang bagus.

Mulai saat ini, kita harus lebih waspada. Jangan biarkan meeka (pencopet) berkata, “Performansiku….Menipumu.”

***

Bogor, Juni 2008


Nb: Teriring salam untuk teman-temanku, yang memiliki akses perjalanan cukup jauh, setiap harinya.

1 comments:

Afi Tuesday, February 24, 2009 3:05:00 PM   Reply To This Comment

Hmm... ada tambahan info trik yang biasa digunakan pencopet nih. Curhatan dari seorang teman. Para pencopet juga suka berpura-pura sakit kakinya, ketika hendak menaiki bus/angkutan. Sehingga perhatian orang-orang terpusat kepadanya. Sedangkan di sisi lain, teman komplotannya mulai beraksi. So, hati-hati ya. Semoga bermanfaat.

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP