"Save Our Palestine... Save Our Palestine... Save Our Palestine" "Please Pray for Palestine...."

Dia Bernama… Mba Wil

>> Friday, July 25, 2008

18 Juni—Malam, aku ikut ibu menjenguk tetangga yang sedang sakit. Mba Wil, begitu tetanggaku itu akrab disapa. Mba Wil adalah seorang ibu dengan empat orang anak. Satu lelaki dan tiga perempuan, yang terbilang masih kecil-kecil. Dalam kesehariannya, Mba Wil sangat aktif. Selain membuka warung nasi, pesanan kue-kue, beliau juga membuka warung mie ayam (Delivery). Sosoknya yang ramah membuat beliau dikenal oleh banyak orang, bahkan sampai berbeda perumahan.

Mba Wil selalu aktif. Tak lupa di tengah aktivitasnya, beliaupun masih menyempatkan diri untuk mengaji bersama ibu-ibu Aisyiyah dan mengikuti arisan ibu-ibu Indocement, PKK, RT, dsb. Beliau senantiasa ceria dalam melewati hidup.

Namun kini, Mba Wil terbaring lemah di atas tempat tidur. Walaupun senyum tetap menghiasi wajahnya. Beliau memang mengidap penyakit diabetes dan sudah dua minggu terakhir ini, penyakitnya semakin parah.

Pada saat aku dan ibu ke rumahnya, kami melihat kaki mba Wil dibungkus dengan perban. Meskipun demikian, tidak bisa menutupi bahwa di telapak kakinya baru saja ke luar darah segar, beberapa jari kakinya sudah bolong. Memang mba Wil bilang belum mengenai sarafnya. Namun tetap saja, itu bukan pemandangan yang biasa bagiku. Tanpa sadar, aku pun menitikkan air mata.

Saat kami datang, mba Wil tak henti-hentinya bercerita tentang penyakitnya, ketika dia diperiksa, dan sebagainya. Sesekali wajahnya menyiratkan kesedihan. Namun senyumpun tak mau hilang dari wajahnya. Justru kami yang mendengarkannya merasa sangat miris. Di tengah kondisinya yang seperti itu, ia mengatakan, ‘Alhamdulillah Mba, ini sudah lebih baik. Kakinya sudah tidak bengkak dan bisa digerakkan lagi’.


Di tengah harga BBM dan Pangan yang semakin mencekik leher, Mba Wil harus berjuang melawan penyakitnya. Setiap dua hari sekali, ia harus disuntik insulin, yang menghabiskan dana Rp. 200.000,- sekali suntik. Bisa dibayangkan berapa besar dana yang harus dikeluarkan. Kalaupun ada uluran tangan dari para kerabat atau tetangga, tentu tetap tidak akan penuh. Hanya sekadarnya saja.

Mba Wil memang sosok perempuan yang tegar. Namun rasa pesimispun tetap menghantuinya. Aku teringat bahwa ketika aku dan ibu di rumahnya, ia bercerita, suatu hari pernah merasakan seluruh kamarnya berbau wangi bunga-bunga segar. Terutama di sampingnya. Ia pun memanggil Mas Arif, suaminya. Saat itu mba Wil sudah berpikir yang bukan-bukan. Terlebih hari sebelumnya, ia juga mendengar suara burung kuik…kuik… (begitu ia menyebutnya. Akupun tak tahu namanya). Namun mas Arif selalu menguatkan hati istrinya. Selalu memotivasinya. Sehingga mba Wil pun tidak berpikiran negative lagi.

Hingga kini, mba Wil tetap terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Senantiasa shalat dan menengadahkan tangan, serta menundukkan kepada ke hadapan Ilahi Rabbi.




Untuk Mba Wil:


Syafakillah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba’dahu saqaman.”

Semoga Allah SWT menyembuhkanmu secepatnya dengan kesembuhan yang tiada sakit setelahnya. Amin.”




Nb: - Doa ini juga kutujukan untuk ‘mba Wil-mba Wil lain’ yang sedang terbaring lemah melawan rasa sakit.

  • Kepada semua pembaca, mohon doanya bagi kesembuhan Mba Wil, ya.



Bogor, 13 Juli 2008


0 comments:

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Anda. Jangan melakukan spam, gunakan bahasa yang sopan. Admin akan memeriksa komentar yang masuk. Terima kasih. :-)

Blogger

Komentar Artikel

Artikel Terbaru

Belajar menjadi pembelajar yang baik

(c) 2009, Butiran Pasir

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP