Buku Apakah Aku???
>> Wednesday, May 11, 2011
Aku adalah sebuah buku yang tercetak indah
Untuk mengetahui namaku, inilah petunjuknya
Beraneka dalam sampulnya dan terjilid rapi
Di hati Muslim, aku jarang ditemukan
Tinggi di rak, tersimpan daku
Terlupakan di sana, terbengkalai daku
Dengan takzim,
aku memang mendapat banyak 'ciuman'
Unsur utamaku, mereka 'luput' dapatkan
Dengan suara merdu, mereka membacaku
Mengabaikn pesan, dalam diriku
Terkadang, aku dipakai untuk sumpah palsu
Manfaatku yang sebenarnya sangat,
sangt langka
Sebuah mukjizat, itulah aku,
Yang dapat mengubah dunia
Yang orang harus lakukan
adalah memahami pesanku
Aku mempunyai hikmah
mempunyai harta yang berharga
Sedemikian melimpah, sampai tak terukur
Akulah pemandumu menuju juru selamatmu
Namun siapakah itu yang mengikuti seruanku
Yang benar, bukan yang salah, adalah reputasiku
Alquran Suci adalah namaku
Sumber: Novel 'Cinta yang Terlambat'
[Ringkasan Novel] Cinta yang Terlambat
>> Friday, May 6, 2011
Novel ini merupakan terjemahan dari judul aslinya ‘Hijab Waali.’ Novel Pakistan yang paling Greget. Mengisahkan lika-liku perjalanan hidup anak manusia. Mulai dari percintaan, konflik, intrik, sampai spiritual
Diawali dengan tokoh Deeba dan Sheeba, dua kakak-beradik yang menjadi aktor dalam membuka tabir kehidupan Aariz Ali. Aariz Ali ialah pemuda Pakistan berusia 26 tahun. Tampan, kaya, dan terpelajar adalah gambaran dirinya. Ia anak tunggal dari sebuah keluarga terhormat. Ayahnya pengusaha terkenal di Karachi-Pakistan. Aariz dikenal sebagai pribadi yang ‘cool’ terutama dengan wanita. Aariz termasuk tipe pria yang sulit jatuh cinta.
Rupanya Aariz tengah jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London. Komal namanya. Komal digambarkan sebagai sosok yang cantik, pintar, modern, dan sebagaimana Aariz; ia berasal dari keluarga pengusaha kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari sekte alias ‘mazhab’ yang berbeda dengan Aariz. Kisah cinta mereka pun mendapatkan banyak hambatan. Terutama dari ibunya Aariz, yang menentang keras hubungan mereka. Sama halnya dengan ayah Komal. Bahkan sebenarnya Komal telah dijodohkan dengan orang kepercayaan ayahnya, yang bernama Sikandar Riza, seorang pria dengan pribadi yang santun. Jauh berbeda dengan Aariz.
Guna membuktikan sikapnya, Sa’dia (ibunya Aariz) memaksa Aariz untuk menikahi anak dari saudaranya, yang bernama Zeest Zehra. Ia seorang gadis desa, konservatif, dan menggunakan hijab (jilbab/jubah). Performansinya sangat bertolak belakang dengan Komal yang modern dan ‘fashionable.’
Pada suatu hari, Aariz menemani ibunya mengunjungi saudaranya yang sedang sakit parah. Orang itu tak lain adalah ayah Zeest. Di situlah Aariz pertama kali bertemu dengan Zeest, seorang gadis kolot, yang sama sekali tak membuatnya tertarik. Kondisi yang rumit membuat Aariz tak punya pilihan. Sebagai anak, ia harus mengikuti perintah ibunya. Ia harus menikahi Zeest saat itu juga. Setelah pernikahan ala kadarnya itu, tak lama berselang, ayah Zeest pun meninggal. Hari itu, kepedihan hidup Zeest baru dimulai.
Pernikahan Aariz dan Zeest sangat jauh dari kebahagiaan. Aariz lebih suka menganggap Zeest perusak kebahagiaannya daripada isterinya. Tak ada malam romantis bagi mereka. Hari-hari dilalui dengan perang dingin. Caci maki, umpatan, dan amarah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Zeest; hadiah dari suaminya. Walaupun telah menikah, Aariz tetap berhubungan dengan Komal. Meskipun demikian, Zeest tidak pernah mengeluh. Bahkan tampil sebagai teman baik Aariz. Ia pun rela bila harus dimadu dengan Komal.
Pada suatu hari, orang tua Aariz dibunuh dengan sadis. Dalam waktu bersamaan Komal pun meninggalkannya dan lebih memilih Sikandar Riza, calon pendamping pilihan ayahnya. Komal seakan berlari menjauh dari keterpurukan Aariz.
Stress berat akhirnya mengantarkan Aariz ke Rumah Sakit Jiwa. Selama dua tahun ia mengalami depresi hebat. Selama itu pula lah ia harus menjalani rehabilitasi kejiwaan di sana, sebelum akhirnya ia dinyatakan sembuh total. Setelah kesembuhannya yang menakjubkan itu, Aariz mulai menyadari bahwa orang yang paling cocok mendampinginya dan didambakannya adalah Zeest. Gadis desa yang dipilihkan ibunya. Gadis yang tabah, suci, dan siap memberikan seluruh cintanya kepada suaminya. Aariz tersungkur dalam penyesalan mendalam.
Aariz merenda asa (tak berujung) untuk bertemu kembali dengan isterinya yang telah lama hilang, yang telah ia usir dua tahu lalu. Aariz pun bertekad untuk memperbaiki diri. Adalah Paman Maulana, seorang ustadz yang mendampingi Aariz dalam menemukan kedamaian hidup, membimbing Aariz ke jalan yang lurus.
Kini, Aariz ialah seorang penyair muda yang terkenal. Karya-karyanya mampu menginspirasi banyak orang. Setiap orang boleh menikmati karyanya. Namun, tidak dengan cerita hidupnya. Tidak dengan privasinya. Aariz terkenal sebagai penyair muda anti-wawancara. Sampai akhirya, seperti saya ceritakan di awal, Deeba mampu menguak tabir kehidupan Aariz.
Ya, Deeba Risvi salah seorang fans berat Aariz, tak mampu lagi membendung rasa ingin tahunya tentang Aariz. Akhirnya Deeba pun menyamar sebagai wartawan dari majalah wanita “FeMag.” Awalnya Aariz menolak untuk diwawancarai. Ia mengabaikannya. Namun, kegigihan Deeba mampu meruntuhkan benteng kuat dalam dirinya. Aariz pun menceritakan perjalanan hidupnya. Saat itu Deeba bertekad untuk mempertemukan Aariz dengan pujaan hatinya yang tak ketahuan rimbanya.
Di sisi lain, Deeba juga terinspirasi kisah hidup Aariz. Ia pun mulai menata diri dan berhijab. Tak hanya itu, untuk melengkapi hijrah-nya pada Islam, Deeba belajar di sekolah Islam; melalui rekomendasi Paman Mulana. Di sana lah ia bertemu dengan ibu Hijab Zehra, gurunya, yang tak lain adalah Zeest Zehra, pujaan hati Aariz. Melihat ibu Hijab, Deeba seperti melihat cermin sosok wanita pujaan Aariz. Sempurna, sebagaimana yang digambarkan Aariz. Deeba pun membina hubungan baik dengan gurunya itu.
Kekaguman Deeba kian bertambah ketika ibu Hijab mewakili muslimah untuk berdebat dengan pendebat wanita nomor 1 di Pakistan, yaitu Sania Rubab. Tema yang diangkat adalah “Hijab: Penindasan atau Pembebasan???” Sania, wakil dari wanita modern yang selalu menonjolkan keindahan tubuhnya, selalu menyerang ibu Zeest dengan gaya bahasa angkuh. Namun, Zeest selalu menimpalinya dengan tenang. Kehalusan tuturnya diitambah lagi ia sering menyitir ayat dalam Al-Qur’an dan mengaitkannya dengan kekinian, mampu diterima. Akhirnya, Zesst pun dapat membuktikan bahwa “Hijab itu pembebasan bukan penindasan.”
Akhirnya, dengan bantuan Deeba dan Paman Maulana, Aariz pun dapat bertemu kembali dengan Zeest; isterinya.
Sumber:http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2155936-cinta-yang-terlambat/
Lanjut membaca “[Ringkasan Novel] Cinta yang Terlambat” »»
[Ringkasan Cerita] Bawuk
>> Monday, May 17, 2010
Bawuk, putri bungsu keluarga Suryo, putri seorang onder, priyayi Jawa, sejak kecil telah mununjukkan sifat-sifat kerakyatan, berbeda dengan keempat kakaknya. Hal ini tampak dalam sikapnya yang menghargai para pembantunya. Semasa remaja, ia seorang gadis lincah dan periang, namun berbudi halus. Hanya Bawuk seorang yang memahami kepedihan ibunya, yang terpaksa melihat suaminya tenggelam dalam pelukan ledek, dalam suatu pesta di kabupaten.
Setelah dewasa, Bawuk berkenalan dengan Hassan, seorang aktivis partai Komunis. Kemudian mereka menikah dan mempunyai seorang putri dan seorang putra. Ketika peristiwa G 30 S meletus, Hassan ikut terlibat dan terus dikejar tentara. Maka Bawuk beserta kedua anaknya terpaksa pindah dari suatu kota ke kota lain untuk mengikuti gerakan suaminya yang terpaksa terus melarikan diri dari kejaran tentara.
Akhirnya, Bawuk mengambil keputusan. Ia datang ke kota tempat tinggal ibunya, untuk menitipkan kedua anaknya. Tak mungkin ia membawa-bawa kedua anaknya dalam pelarian itu. Kedua anak itu membutuhkan hidup yang layak, bersekolah dengan tenang. Di rumah ibunya, Bawuk disambut oleh keempat kakak beserta ipar-iparnya yang telah mapan: seorang brigjen, seorang dosen di ITB, dirjen di salah satu departemen, dan seorang dosen lagi dari Gajah Mada. Mereka terus membujuk Bawuk agar tetap tinggal di kota itu. Namun Bawuk telah berketetapan hati untuk terus mencari suaminya. Dengan tegar, ia menjelaskan bahwa sebagai istri, ia tetap harus menemui suaminya. Hanya saja kedua anaknya dititipkan pada ibunya. Semua kakaknya sulit menerima keputusan itu, hanya sang ibu yang dapat memahami keputusan Bawuk.
Cerita ditutup dengan suara sayup anak-anak Bawuk yang sedang belajar mengaji. Bu Suryo membaca di surat kabar bahwa G 30 S telah ditumpas dan Hassan, menantunya adalah salah seorang yang diberitakan telah tertembak mati, tapi Bawuk tak ketahuan rimbanya.
Lanjut membaca “[Ringkasan Cerita] Bawuk” »»
Rindu-Rindu Aizawa 'Ie Naki Ko'
>> Tuesday, March 3, 2009

Category : Movies
Genre : Kids & Family
Ada yang ingat judul itu ??
"Dari pada belas kasihan mending kasih aku uang"
"Manusia mahluk yang paling mengerikan"
Dua quote yang aku ingat banget dari jdorama ini, ditayangin di TPI waktu aku kelas 3-4 SD gitu. Ni jdorama pertama yang aku tonton n yang dibolehin nonton sama ortu (dulu kan g boleh nonton tipi habis magrib).
Ceritanya,, ada gadis kecil, rambut panjang, poni :)), namanya Sizu Aizawa.. dia tinggal dengan ibunya yang sakit-sakitan,, karena ingin menyelamatkan ibunya,, Sizu akhirnya mencuri atau kadang mengemis ditemanin seekor anjing, namanya Ryu.. Tapi, tiap kali dia bawa pulang 'hasil pekerjaannya', dia mesti berhadapan dengan ayahnya yang pengangguran dan mabuk. Dalam cerita ini ada cowoknya juga, si Makimura.. kasian dia,, suka sial kalo dekat ma Sizu..
Dorama ini sempat jadi hits waktu aku kecil, soundtracknya juga. Yang aku ingat lagi,, anak-anak cewek berlomba-lomba panjangin rambut,, kelabang ekor kuda trus berponi.. ikut-ikut gaya si Aizawa :))
Dulu sering nonton jdorama, berhubung sudah pindah (baca, jogja) jadi nggak pernah nonton lagi. Selain Rindu-Rindu Aizawa, ada Itazura Na Kiss (si Hideaki Takizawa) n' Kamishama (klo g salah yg si Takeshi).. ada nasyidnya tuh :)
Resensi Novel 'Cinta yang Terlambat' Karangan Dr. Ikram Abidi
>> Wednesday, February 4, 2009
Identitas Buku:
- Kategori : Buku fiksi
- Jenis : Novel romantis
- Pengarang : Dr. Ikram Abidi
- Ilustrasi : Seorang gadis
- Warna : Hitam keabu-abuan
Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan berusia 26 tahun, tampan, kaya, dan terdidik. Dia anak tunggal sebuah keluarga terhormat. Ayahnya pengusaha terkenal di Karachi. Aariz rupanya tengah jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London, Komal namanya.
Komal memang cantik, pintar, modern dan, sebagaimana Aariz, ia berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari “sekte” alias mazhab yang berbeda dengan keluarga Aariz, terutama ibunya, menentang keras hubungan mereka. Begitu pula dengan ayah Komal.bahkan sebenarnya Komal telah dijodohkan dengan orang kepercayaan ayahnya, yang bernama Sikander Riza.
Guna membuktikan sikapnya, Sa'dia (ibunya Aariz) memaksa Aariz untuk menikahi anak dari saudaranya, yang bernama Zeest. Dia adalah seorang gadis desa, konservatif, dan menggunakan hijab. performansinya sangat bertolak belakang dengan Komal.
Pernikahan Aariz dan Zeest sangat jauh dari kebahagiaan. Aariz lebih suka menganggap Zeest perusak kebahagiaannya, daripada istrinya. Walaupun telah menikah Aariz tetap berhubungan dengan Komal.
Zeest tidak pernah mengeluh. Bahkan dia tampil sebagai teman baik bagi Aariz.
Pada suatu hari kedua orang tua Aariz dibunuh dan Komal meninggalkannya.Stres berat akhirnya mengantar Aariz ke rumah sakit jiwa. Selama dua tahun ia menjalani rehabilitasi kejiwaan di sana, sebelum akhirnya ia dinyatakan sembuh total. Setelah kesembuhan yang menakjubkan itu, Aariz mulai menyadari bahwa orang yang paling cocok dan didambakannya adalah Zesst, gadis desa yang dipilihkan ibunya untuknya. Ia adalah gadis yang tabah, suci, dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepada suaminya. Namun, di manakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya dua tahun yang lalu?
Novel ini merupakan terjemahan dari judul aslinya 'Hijab Waali.' Novel yang sedang gresst di Pakistan.
Di awali dengan tokoh Deeba dan Sheeba, dua kakak-beradik yang menjadi aktor dalam membuka tabir kehidupan Aariz Ali.
Dengan stategi yang disusunnya, akhirnya Deeba mampu membuat sang penyair muda terkenal (Aariz) yang anti diwawancarai, menceritakan kisah hidupnya. Kisah hidup yang selama ini dipendam dan hanya diketahui oleh dirinya. Melalui sosok Deeba-lah, Aariz mampu menceritakan semuanya. Kisah hidupnya yang diwarnai kesedihan dan 'tragis'.
Novel ini sangat menarik untuk dibaca. Bahasa yang digunakan ringan dan mudah dimengerti. Namun tidak meninggalkan gaya puitis dan sastranya. Setiap tokoh memiliki karakteristik tersendiri. Selain itu novel ini juga mengandung nilai-nilai keagamaan yang cukup kental. Hal ini diwakili oleh tokoh Aariz yang kembali kepada Al-Quran, tokoh Zeest yang senantiasa memegang teguh nilai-nilai Islam, tokoh Paman Maulana yang digambarkan sebagai mediator bagi Aariz, dan tokoh Deeba yang hijrah kepada Islam. Selain itu masih banyak lagi kejutan-kejutan yang akan kita temui.
Sinopsis Cerpen 'Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi' Karangan Seno Gumira Ajidarma
Cerpen “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi” mengisahkan kehidupan masyarakat di sebuah daerah yang padat penduduk. Di dalam cerita tersebut dikisahkan seorang wanita yang sangat disiplin hidupnya. Ia bangun tidur dengan tepat waktu, berangkat dan pulang kerja dengan tepat waktu, makan tepat waktu, sampai mandi pun tepat waktu. Tidak luput setiap mandi, wanita itu selalu menyanyi di kamar mandi. Sebenarnya suara wanita itu tidak terlalu bagus, tetapi karena biasa dilalukan tepat waktu, warga sekitar menjadi tahu kebiasaannya itu.
Kebiasaan menyanyi di kamar mandi ini ternayta menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum lelaki. Tepat setiap waktu si wanita itu mandi, banyak lelaki yang berdiri di balik tembok kamar mandi menikmati indahnya suara wanita yang sedang mandi itu, dengan diiringi suara air yang jatuh membasahi tubuhnya. Mereka membayangkan adegan yang erotis dengan wanita itu. Tentu saja hal ini menjadi masalah besar bagi kaum ibu.
Ibu-ibu di daerah tersebut yang biasa memakai daster dan gulungan rambut di kepala, mendatangi Pak RT dengan sikap geram. Mereka menuntut Pak RT untuk mengambil tindakan tegas terhadap wanita tersebut, agar ia tidak lagi menyanyi di kamar mandi. Permintaan ibu-ibu tersebut pun dipenuhi. Pak RT dengan malu-malu menjelaskan maksud kedatangannya. Wanita itu dapat memaklumi maksud kedatangan Pak RT, dengan penuh pengertian wanita itu menerima usulan Pak RT.
Esok harinya, tidak ada lagi suara serak-serak basah dari kamar mandi. Wanita itu tidak lagi menyanyi, hanya terdengar suara air yang membasahi tubuh. Meski begitu, toh para lelaki di daerah tersebut tetap tidak berhenti menghayalkan adegan seru dengan wanita itu. Tindakan menghentikan wanita itu dari kebiasaannya menyanyi di kamar mandi, ternyata tidak memulihkan kepasifan dalam rumah tangga warga di daerah tersebut. Alhasil ibu-ibu di daerah itu meminta Pak RT mengusir wanita tersebut dari daerah mereka.
Dengan berat hati, Pak RT mengabulkan keinginan ibu-ibu tersebut. Rasa malu menyelimuti wajah Pak RT ketika menemui wanita itu dan menjelaskan maksud kedatangannya itu. Wanita itu dengan seksama mendengarkan penjelasan Pak RT, ia tidak merasa tersinggung dengan penjelasan Pak RT tersebut. Akhirnya dengan kerendahan hatinya ia memutuskan untuk tinggal di Kondominium.
Sehari setelah wanita tersebut pergi, di sebuah teras rumah salah seorang warga, bercakap-cakaplah sepasang suami-istri. Si suami berkata bahwa jam-jam ini, adalah waktunya wanita itu mandi. Ia mandi denganpenuh semangat, suaranya yang seksi selalu mengiringi suara air membasahi tubuhnya yang padat berisi. Si suami tak henti-hentinya berimajinasi tentang wanita itu. Tentunya hal ini membuat si istri marah. Si istri berteriak minta tolong, ternyata teriakannya disambut oleh ibu-ibu lain di daerah itu.
Pak RT menjadi kalang kabut menghadapi persoalan ini. Tindakannya mengusir wanita tersebut dari daerah kekuasaannya ternyata tidak membuahkan hasil. Wanita tersebut memang telah pergi, tetapi imajinasi tentang wanita itu tetap ada dalam benak para lelaki di daerah itu. Pak RT segera mengambil tindakan tegas. Ia memerintahkan para kaum ibu untuk ikut program senam kebahagiaan rumah tangga, dengan tujuan agar para ibu di daerahnya dapat membbahagiakan suami mereka di tempat tidur.Pak RT juga mengeluarkan peraturan baru, yaitu “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi.“
Kritik Puisi 'Bukit Si Bisu' Karya Slamet Sukirnanto
Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang telah populer di masyarakat. Jenis karya sastra ini lahir sebagai hasil pemikiran seseorang yang didasarkan pada pengalaman baik yang dilihat maupun dialaminya secara langsung dan tidak langsung. Hasil pemikiran ini terwujud dalam untaian kata yang memiliki nilai estetis. Hal ini seperti dinyatakan Zulfahnur dalam Teori Sastra, bahwa puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetik.
Objek puisi itu dapat berupa masalah-masalah kehidupan dan alam sekitar, ataupun segala kerahasiaan (misteri) di balik alam, realitas, dan dunia metafisis. Contoh yang dapat kita lihat adalah puisi karya: Slamet Sukirnanto, yang berjudul “Bukit Sibisu.” Penyair dalam puisi ini mengambil tema mengenai kehidupan di danau Toba.
Ditinjau dari tema, puisi ini sangat menarik untuk dibaca. Puisi ini dapat membangkitkan rasa pesona kita terhadap danau Toba. Di dalam puisi tersebut, penyair melukiskan keadaan di sekitar bukit yang berdiri kokoh diselimuti kabut. Sangat agung dan indah dipandang mata. Pernyataan ini tertulis dalam bait pertama:
Tak ada waktu menggali luka
Hanya kabut dan kehijauan
-selimut pertapa!Diammu mengagumkan
Menyentuh kencana-keheningan jiwa,
Mengatas terus bertanya:
Adakah memang puncakmu sorga?
Bukit Sibisu
Di dalam puisi tersebut, penyair juga mengisahkan seorang lelaki yang ada di danau Toba. Lelaki itu adalah nelayan yang menggantungkan kehidupannya di danau Toba. Lelaki itu mencoba tegar meski hari itu ketidakberuntungan bersamanya. Bersama sunyi ia terus berusaha. Ia mencoba tetap teguh hati bekerja tak mengenal waktu, mencari tangkapannya di danau Toba. Lihat puisi di bawah ini:
Dikakimu
Lelaki tertahan sejenak
Mengurai gairah.Dan lupa
Tanya hari esok
Keyakinan kokoh
Dalam ruang batinnya.
Tiba-tiba tegak
Bagaikan batu padas tanah Toba!
Bersama sunyi mengeja semesta!
Danau toba juga batu padas dan manusia
Hidup di tebing curam
Mengoyak lebar kolam maha luas
-mandilah bulan dan matahari senja!
Diiringi senandung lara, lelaki itu tetap bekerja. Senandungnya menggeletarkan angkasa, memuaskan rasa dahaga pada dirinya. Senandungnya itu melarutkan rasa was-was dan kecewa yang dialaminya. Lihat bait puisi di bawah ini:
Ada nyanyi gersang
Dan petikan gitar
Menggeletar merongga angkasa!
Puaskan dahaga
Was-was dan kecewa
Larut bersama ombak.
Lelaki yang bekerja tanpa mengenal waktu, meski raganya didera rasa letih itu, pulang dengan gontai. Langkahnya bak seorang pemabuk. Dengan sedikit hasil tangkapannya ia kembali ke rumah. Berharap di esok hari kehidupannya menjadi lebih baik dan ia dapat memahami hidup lebih bijaksana. Perhatikan bait berikut ini:
Si pemabuk tuak pulang
Gontai. Di tangannya
Menggenggam erat setangkai bunga!
Beri lagi aku
Hidup bijak
Dalam keras batu
Dalam lembut bunga
1979
Melalui puisi tersebut, penyair ingin menyampaikan amanat, bahwa alam telah memberikan kehidupan kepada manusia. Hal ini bukan berarti manusia dapat berleha-leha menikmati alam seenaknya, melainkan harus dengan jalan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Puisi karya: Slamet Sukirnanto ini kaya dengan metafora (makna di atas lapis makna).
Puisi terbentuk oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra dari dalam karya itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk karya sastra dari luar karya itu. Unsur intrinsik yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tema, amanat, dan diksi.
Tema dapat diartikan sebagai ide pokok yang menjiwai keseluruhan isi puisi, yang mencerminkan persoalan kehidupan manusia, alam sekitar, dan dunia metafisis, yang diangkat penyair dari objek seninya (Zulfahnur: 1996-1997; 80). Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya.
Diksi adalah pilikan kata yang bersifat estetis dan esensial dalam sebuah puisi. Penggunaan kata yang tepat oleh penyair akan menunjukkan kemampuan intelektualnya dalam melukiskan suatu keadaan.
Puisi „Bukit Sibisu,“ ditinjau dari aspek tema sangat menarik untuk dibaca dan ditelaah. Penyair mencoba mengangkat kehidupan manusia yang bergantung pada danau Toba. Penyair melukiskan suasana yang sunyi di danau Toba, di sana ada seorang nelayan yang telah bekerja tanpa mengenal lelah dengan hasil tangkapan yang tidak seberapa. Ia terus mencari ikan di danau Toba dengan sisa tenaganya, sambil berharap esok hari lebih beruntung dari hari itu.
Secara tersirat, penyair menyampaikan amanat, bahwa hidup harus dilalui dengan perjuangan. Seberat apapun perjuangan itu kita tidak boleh berputus asa. Alam telah memberikan kita kehidupan, tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi sumber kehidupan. Kita tidak boleh berpangku tangan menikmati alam, melainkan terus berusaha dan menatap ke depan menuju kehidupan yang lebih baik.
Dengan kepandaian penyair merangkai kata, kita dapat merasakan betapa tidak beruntungnya lelaki itu. Penyair terlihat sangat hati-hati di dalam memilih kata. Karena kehati-hatiannya itu, orang awam akan merasa sulit menafsirkan makna puisi tersebut. Contoh yang dapat dilihat adalah ketika penyair melukiskan seorang lelaki yang tertahan sejenak di bawah kaki bukit si bisu, kemudian ada kalimat “bersama sunyi mengeja alam semesta!/Danau toba;juga batu padas dan manusia/hidup di tebing curam/mengoyak lebar kolam maha luas.” Bukankah petikan tersebut menggambarkan seorang lelaki yang mencari peruntungan di danau Toba? Di bagian akhir puisi, penyair menulis “Si pemabuk tuak pulang?gontai.di tangannya/menggenggam erat setangkai bunga.” Bukankah petikan tersebut sama sekali tidak menggambarkan seorang lelaki yang habis mencari peruntungan di danau Toba?
Pemilihan kata seperti ini dapat menjerumuskan pemahaman pembaca. Pembaca akan menjadi bimbang di dalam menafsirkan makna puisi tersebut. Tentunya hal ini tidak perlu dialami pembaca, jika saja penyair memilih kata dengan mempertimbangkan kemampuan pembaca awam di dalam menafsirkan puisi. Penyair kurang berani memainkan kata, sehingga keindahan bukit Sibisu beserta keagungannya menjadi tidak terpancar.
Penyair juga kurang mendeskripsikan kondisi alam di bukit dan danau Toba itu. Padahal apabila diberikan deskripsi yang lebih lengkap lagi, akan terpancar keagungan dan keindahan bukit Sibisu dan danau Toba.
SLAMET SUKIRNANTO
BUKIT SIBISU
Tak ada waktu menggali luka
Hanya kabut dan kehijauan
-selimut pertapa!Diammu mengagumkan
Menyentuh kencana-keheningan jiwa,
Mengatas terus bertanya:
Adakah memang puncakmu sorga?
Bukit Sibisu
dikakimu
Lelaki tertahan sejenak
Mengurai gairah.Dan lupa
Tanya hari esok
Keyakinan kokoh
Dalam ruang batinnya.
Tiba-tiba tegak
Bagaikan batu padas tanah Toba!
Bersama sunyi mengeja semesta!
Danau toba juga batu padas dan manusia
Hidup di tebing curam
Mengoyak lebar kolam maha luas
-mandilah bulan dan matahari senja!
Ada nyanyi gersang
Dan petikan gitar
Menggeletar merongga angkasa!
Puaskan dahaga
Was-was dan kecewa
Larut bersama ombak.
Si pemabuk tuak pulang
gontai. Di tangannya
Menggenggam erat setangkai bunga!
Beri lagi aku
Hidup bijak
dalam keras batu
dalam lembut bunga
1979
Transliterasi Naskah Rabi'ah Al-Adawiyah
Bismillahirrahmanirrahim wabihi nasta’ in ’alaa, ini suatu hikayat Rabi’ah Al-Adawiyah tatkala itu ia berkhadimah kepada Syekh Juanaidi Al-Baghda Rahmatullah Alaihi maka datang kepada Syekh Junaidi Bin Samani Farj tahun lamanya ia akan berhadimah maka dilihat rupanya dan ilmunya dan sifatnya dan fi’linya dan budionya dan bijaksana lagi arif bilah terlalu amat baik rupanya maka Syekh itupun inginlah Rabi’ah Al-Adawiyah di dalam hatinya datang pada tujuh bulan lamanya dimakin itu juga tiada dikatakan seperti kata kepadanya
maka Rabi’ah Al-Adawiyah pun berkehendak kepada Syekh itu akan hadap juga sampai beberapa lamanya maka dikatakan oleh Syekh oti kepada Rabi’ah Al-Adawiyah ya Rabi’ percayalah kamu barang kehendak kepada aku ya Rabi’ maka kata Rabi’ ya Tuanku Syekh tiada yang lain peroleh tetapi tuanku guruh seperti Bapa dan lagi Tuan akan hamba tiada dapat hamba ridho akan tuan hamba maka ujarnya ya Rabi’ jika engkau tiada dapat tata aku mengajarkan kamu maka ujar Rabi’ hamba tiada ridho karena hamba melainkan Allah maka ujarnya ya rabi’ jika engkau ridho bangkulah aku mendatangkan birahimu kepada Allah Subhanahu Wata’ala maka ujar Rabi’ ya Tuanku “La Yutibbu Syaia Siwaallahu Ta’alaa” Artinya : “Bahwa aku tiada menyentuh sesuatu pun lain daripaga Allah Ta’alaa” maka ujarnya ya Rabi’ jikalau tiada mendapat birahi menunggulah aku mendatangkan birahimu kepada Allah ta’ala maka ujar Rabi’ ya Tuanku ada pun bersuami itu haramlah kepadaku maka ujar Syekh ya Rabi’ tiada engkau mengerti firman Allah Ta’ala di dalam Qur’an dimakin bait “Fain qihuu Matha’alakum Mina ‘nasyaa” Artinya “Beristrilah kamu perangainya baik bagi kamu daripada perempuan” maka ujar Rabi’ ya Tuanku hambamu tiada ridgokan bersuami maka ujarnya ya rabi’ tidakkah engkau dengar sabda Rasulullah Sallahu ‘Alaihi Wasallam “Annikahu Sunnati Faman Yarghabu Aan Sunnati Fahuwa Minni Faman Lam Yarghabu Aan Sunnati Falaisya Minni” Artinya: “Nikah itu sunnahku barang siapa bherkehendak kepada sunnahku maka yaitu daripada aku maka barang siapa tiada berkehendak daripada sunnahku maka tiada daripada aku” maka ujar Rabi’ sebenarnyalah seperti sabda Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam itu tetapi hambamu tiada ridhokan bersuami karena orang bersuami itu dengan rupa baik dan badian bermula hambamu dhoif maka ujar Syekh ya Rabi’ tiadakah Engkau mengira sabda Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam : “Laisya Syauaa Ahabba’llahu Illa Nikahi Walaisyaa Syauaa Ghadhaba’llahu Illa’Thalaqi” Artinya : ‘Tiadapun suatu kebaikan yang disukai Allah selain orang yang bersuami dan beristri dan tiadapun yang dibenci oleh Allah melainkan orang yang bercerai” maka ujar Rabi’a ya Tuhanku sebenarnyalah seperti sabda nabi SAW tetapi hambamu tiada ridhokan bersuami maka kata Robi’a : “Inni Layatlibu Syaiaa Fil’Qulubi Lian’na Qalbiha Yahiilu’kkahu Ta’alaa” maka ujar Rabi’a hamba tiada mau bersuami itu maka ujar Syekh ya Rabi’a tiada Engkau mengira sabda nabi SAW : “Man Ta’allama Harfan Fahuwa Maulanaa” Artinya : “Barang siapa mengajar satu huruf maka yaitu Tuhan” maka kata Rabi’a benarlah seperti sabda nabi SAW yan Tuhanku hambamu ridho di jual sepuluh kali pada sehari hambamu ridhokan dibakar ke dalam api hambamu ridho diselamkan di dalam laut sekalipun hambamu ridho tetapu seperti perkataan itu hambamu tiada mauh maka ujar ya Rabi’a tidakkah Engkau mengira sabda nabi SAW “Man’Akaranal’istadsi Fahuwa Khafirunn Waman Ankaraal’isytadsi Fahuwa Batilun” Artinya: “Barang siapa mungkar daripada kata guru maka ia itu tertutup dan barang siapa mungkar daripada guruna” maka yaitu salah makaEabi’a mengira sabda nabi SAW. Demikian itu maka Rabi’a pun pikir dalam hati tujuh hari dan tujuh malam tiada makan dan tiada minum dan tiada tidur sampai tujuh hari maka ujar rabi’a ya junjungan hambamu ridho seperti firman Allah ta’alaa dan sabda rasul SAW tetapi hambamu memohonkan janji dibawa pada tuanku maka ujar Syekh ya Rabi’a apa janjimu padaku katakan ahlim .
Salafi aku mengetahui dia maka ujar Rabi’a ya Tuanku Syekh hambamu ridho dikawin tuanku khutbah nikah itu tetapi hambamu menemukan wathi dan itman maka ujar Syekh ya Rabi’a barang bagaimana kau kehendaki kuturunkan. Pada masa ini maka dikhawarirkan khutbahnya ibrahim akan alasan kahawin stabil setengah firoq tembangan dari negeri Baghdad setelah sudah kahawin kalikan maka Rabi’a pun bersujud dibawah Qodim. Syekh sampai dating kepada tujuh tahun lamanya, demikian oitu juga Syekh dan Rabi’a pun tinggalkan pula Syekh itu setelah dengarlah segala uang di dalam negeri Baghdad itu adalah rabi’a maka segala kaya-kaya dan segala penghulu-penghulu dan segala lebih-lebih dan segala mukmin-mukmin sekalian di dalam negeri itu akan rabi’a tiada ridho akan bersuami maka kata Rabo’a adapun suami ayat harmilah.
Padaku sampai beberapa lamanya demikian itu juga kata didengar kepada Syekh yang taat dan baik rupanya, rarasnya lagi mu’tabar rupanya segala orang-orang empat itu maka kata Syekh empat orang itu marilah kita pergi kepada salah seorang pada kita empat ini akan ridhonya maka Syekh empat orang itu pergilah kepada rabi’ pertama Syekh Sari’ah dan kedua Syekh Thoriqoh, dan ketiga Syekh haqiqoh dan keempat Syekh Ma’rifah. Setelah datang Syekh empat orang itu dating kepada Rabi’ maka Rabi’ mengambil air akan basahkan kepada kaki Syekh empat orang itu setelah Rabi’ segeralah mengambil permadani akan tempat kedudukan oleh Syekh empat itu maka diambil pula tempat pinang dan perhadapan orang empat itu “Hai tuan-tuan yang empat ini apa maksud tuan-tuan datang kepada kepada hamba karena hambamu ini orang ghorib lagi dhoif dan payah lagi bebal tiadapun berilmu apakah pekerjaan tuan datang kepada hambamu ini maka Syekh empat orang itu berkata “Ya Robi” maka dengarlah kepada orang banyak yang engkau ini perempuan berbudi dan berilmu dan beramal dan berakhlak dan terlalu elok rupanya lain dari pada perempuan sekalian lagi perempiuan Maha Besar dan malih, shodiq, maka datang kami ini pilih salah seorang yang empat ini akan suamimu ya Rabi’ benar kepadamu ambil akan suamimu maka kata rabo’ yan Tuhanku Syekh empat orang sungguh tuan-tuan yang masyaasyiih lagi mu’tabar tiada ridho hamba pada tuan-tuan anjing dibawah itu maka pergilah kepada Sultan Abu Sa’id maka Syekh empat itu datang bersembah kepada Sultan Abu Sa’id itu “ya Paduka Sya’ah Alim Sri Sultan Al-Mu’zhom Al-Maliki, Al-Kirom Zolla Allah ta’alaa Fil-A’alam Ya Ruhanku dialah seorang perempuan yang bernama Rabi’ mengatakan hambamu empat orang seperti anjing dibawah rumahnya maka Sultan itu menyuruh orang memanggil kepada Rabi’. Setelah datang Rabi’ kepada Sultan Abu Sa’id maka bertanya Sultan itu “Hai Rabi’ mengapa engkau mengatakan kepada Syekh empat orang ini seperti anjing-anjing dibawah rumahmu maka Rabi’ pun datang sembah kepada Sultan itu “ya Tuhanku sembah Alim hambamu mendengar suatu hadits : “Nabiyaa Sallallahu Alaihi wassalama Addun’niyaa Bisiifatun Wathalibuha Qilabun” Artinya : “Bermula yang menuntut dunia itu seperti anjing menuntut barang busuk itu melainkan anjing”. Ya Sya’ah Alim Al-hammu daripada bangkai busuk itu hambamu barang siapa yakni akan hambamu ini seperti anjing di rumahku maka Sultan Abu Sa’id bewnar katamu ini ya Rabi’ sampai bertanya Sultan Abu Sa’id kepada Syekh empat orang itu dahulu itu Tanya kepada Syekh syariat, tahukah engkau pada jalan syari’at maka kata Syekh hamba tahu pada jalan syari’at maka disuruh Sultan mengambil tali kuda maka diikat punggungnya maka disuruh tarik janggut oleh Syekh maka barulah dihalalkan sebelah janggut maka syari’at rakian mka dilamakan Syekh itu maka sabda Sultan Abu Sa’id kepada Syekh Thoriqoh maka disuruh ambil kursi maka disuruh tikam pada dada maka barulah menakarlah mengatakan dirinya hamba tiada tahu pada jalan Thoriqoh rakian maka dilengafkan kepada Syekh itu maka sabda Sultan Abu Sa’id kepada Syekh Hakiqoh tahukah engkau pada jalan Hakiqoh maka ujar Syekh itu tahu hambamu pada jalan Hakiqoh maka disuruh ambil maka dimasukkan ke dalam maka di suruh buangkan ke dalam laut daharukan diselamkan ke dalam laut maka Syekh Hakiqoh itupun menakarlah mengatakan dirinya tiada rahu pada jalan Hakiqoh maka dilepaskan kepada Syekh itu maka kata Sultan Abu Sa’id kepada Syekh Ma’rifat maka disuruh ambil kayu sekira-kiranya sebuah rumah baiknya maka dibuba api maka disuruh masukkan ke dalam api maka barulah akan dimasukkan ke dalam api maka Syekh itupun menakarlah mengatakan dirinya tiada tahu pada jalan Ma’rifat setelah sudah dilepaskan Syekh empat orang disiasikan itu maka sabda Saidinah Abu Sa’id kepada Rabihan Al-Adawiyah hai Rabihan Al-Adawiyah tahukah engkau jalan syari’at maka ujar Rabi’ tahu hambamu pada jalan syari’at maka ujar Rabi’ tahu hambamu pada jalan syari’at dengan sempurnanya maka Rabi’a dengan sebenarnya maka di suruh ikat pada punggungnya dengan tali maka dahlia pada Rabi’a pun masuk pada huruf alif bila makan bila saman maka nia tiada tahu akan tali itu dan dahulu itu dan orang sekalian melainkan Allah Ta’alaa maka sabda Sultan Abu Sa’id ya nabi tahukah engkau pada jalan Thoriqoh maka ujar Rabi’a tahu hambamu pada jalan Thoriqoh dengan sempurnah maka di suruh ambil kursi ditikam pada dadanya tatkala akan ditikam itu maka ia pun masuk pada huruf awwalam bila makan walau saman illa yashsuhuh’llahu ta’alaa, tiada ia tahu akan ditikam dengan kursi itu melainkan Allah jua yang amat tahu lalu taruh kursi itu kepada dadanya kali seketikapun tiada luka dan lakunya pun tiada dikelihatan maka sabda Sultan Abu Sa’id sesungguhnya ya Rabi’a engkau tahu pada jalan haqiqoh maka kata Rabi’a insyaallah ta’alaa hamba kerjakan dengan nama Allah maka disuruh Sultan Abu Sa’id kepada nabinya diselamatkan ke dalam laut maka baru disalamkan maka Rubiyah pun masuk kepada huruf lama akhir maka barulah tepis seperti budak pada para ibunya maka ia tiada tahu akan dirinya dari itu melainkan Allah Subhanahuwata’ala juga yang tahu kepada Rubiyah seperti budak di dalam helawat tujuh malam di dalam air itu/lalu segeralah disuruh wali Sultan kepada rakyatnya berangkatan ilham akan Rubiyah di dalam air itu tiada dia mati sehelai rambutnya pun tiada kalah maka sabda Sultan Abu sa’id bahwasanya engkau tahu jalan hakiki maka sabda Sultan Sa’id Rubiyah engkau pun tahu jalan hakiki maka sabda Sultan Abu Sa’id Rubiyah engkau tahu pun jalan Ma’rifah dengan sempurnanya maka kata Rubiyah insyaallah ta’alaa hambamu tahu pun jalan ma’rifah dengan sempurnanya maka sabda sultan pada rakyatnya ambil kayu dengan sekiranya sebuah rumah maka sabda sultan pada rakyatnya ambil kayu kepada Rubiyah dimasukkan ke dalam api maka segeralah di ambil Subiyah dibuangkan ke dalam api bercalah-calah itu tatkala baru dibuangkan ke dalam api maka Rubiyah pun masuk ke dalam wali zaman lasya hati ghoirullah artinya tiada sehingga lain daripada Allah artinya tibakah lainnya kepada Allah ta’alaa rekannya maka Rubiyah pun kelihatan tubuhnya seperti mukanya gilang gemilang cahayanya sehelai rambutnya pun tiada hangus maka sabda sultan bahwasanya kita mau itu benar dan segala perbuatan guna benar dan segala lakumu. Lalu lebih daru pun segala perempuan seorang pun tiada harus akan suamimu melainkan kepada suaminya maka wajar Rubiyah Syekh Salam Sari Sultan Al-Malik Al-Karim Allah Ta’alaa Fil’alamin engkau yang ada adalah melainkan pun menikah dan berandai-andai pada engkau bermula aku tiada ridho’kan bersuami maka katanya pula ya Sultan Laa yatola’addun’niyaa Wal Akhiroh Laa Yatolaballahu Ta’alaa juga kata Subiyah ya Sultan tidakkah engkau firman Allah ta’alaa “Samaroduulii Muu Lii Humulhaqi” Artinya : “Semua kemudian kembali kepada ialah tuhan yang benar maka sabda sultan ya rubiyah tidakkah engkau dengar sabda nabi solallahu’alaihi wasallan adalah nikah habiballah utoola wa’aduwallah adalah nikah adalah yahaballah ta’alaa artinya tidakkah memaksakan nikah melainkan memaksakan Allah juga berkata sultan ya rubiyah tidakkah dengar firman Allah ta’alaa “waholaqna kama jaa madiina” Artinya : “pun akan bersuami juga maka ujar rubiyah “laa yatoolabaddun yaa bil fana’a laa ya tolaballahu baqo” Artinya : “Aku tidak menuntut dia yang binasa melainkan menuntut Allah yang kekal maka sabda sultan ya rubiyah “wa kuli maa holaqollahu yaa jaujah” Artinya : “Sekalian dijadikan tiap-tiap ya rabbi Tuhan Maha Tinggi dengan berseri juga maka sempurnalah dan tiada sampai hidupnya” jam didengar Rabbi’a sabda Sultan Abu Sa’id Hakim itu maka membicarakan dalam hatinya sepuluh hari dan sepuluh malam tiada makan dan tiada minum dan tiada tidur melainkan membicarakan dalam hatunya juga maka katanya Rabbi’a ya paduka Sri Sultan Sa’id halkim itu membicarakan di dalam hatiku maka ujar Rabbi’a ya Paduka Syekh Alam Sri Sultan Al-Hakim Al-Malik Al-Karim Dhola Allah Ta’alaa Fil’Alamin, maka sultan itupun berkhayal bukan Rabbi’a di luar rumah berdiri kepada huruf yafu maka perlakuan pada lima maka Rabbi’a bergerak segala anggotanya berdiri segala rambutnya dan rahmat kenalah akan dirinya adapun pintu surga dua puluh delapan pengikat maka tiada dikhobarkan dirinya seperti mayat disintarkan tujuh hari tujuh malam ia mi’raj kepada Tuhannya maka kembalikan nafsunya ulah sultan iapun gonilah daripada getah ,maka barulah nafasnya maka diberi Allah ta’alaa Sultan itu empat ratus rumpun yang dafilah kunudi Rabbi’a itu setelah datang kepada tujuh bulan lamanya dalam
Karya Fiksi
Karya fiksi dapat diartikan sebagai karya imajiner dan estetis. Prosa dalam pengertian kesusastraan juga disenbut fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discource) (dalam pendekatan struktural dan semiotik). Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan (cerham) / cerita khayalan. Hal itu disebabkan fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak mengarah pada kebenaran sejarah. (Abrams, 1981:61)
Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksi dengan Tuhan. Fiksi merupakan hasil dialog kontemplasi, realsi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Walaupun khayalan, fiksi merupakan perenungan. Selain itu fiksi merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagai karya seni. Fiksi menawarkan model kehidupan yang ideal bagi pengarang dan meneguhkan sosoknya sebagai karya seni yang berunsur estetik dominan.
”Prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan- hubungan antarmanusia. Pengarang mengungkapkan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.
Sigmund Freud mengatakan: “Seseorang mau membaca / ingin membaca suatu karya fiksi (karya kreatif) bukan sekedar ingin tahu isi cerita yang dibacanya, melainkan juga sebagai pembebasan ketegangan dalam jiwa. Pembebnasan ini merupakan kenikmatan.“
Adapun yang dimaksud dengan daya imajinasi itu sendiri adalah gift, anugerah atau bakat. Maya Angelou seorang penyair dan novelis Amerika Serikat yang juga dikenal sebagai penari dan sutradara film pertama perempuan di Negeri Paman Sam mengatakan “Jangan menjadi pengarang kalau malas atau malu-malu berimajinasi”. Dia juga menegaskan, bagi seorang pengarang, berimajinasi merupakan suatu keharusan. Modal utama pengarang memang daya imajinasi atau kemampuan berimajinasi. Tanpa adanya daya imajinasipengarang akan menjadi mandul alias tidak mampu menghasilkan karya.
Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa fiksi adalah karya imajiner (khayalan) dan estetis yang menceritakan dinamika kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, dan dengan Tuhan. Fiksi merupakan buah dari kontemplasi yang dilakukan oleh manusia tentang kehidupan yang dijalaninya. Fiksi juga dapat diartikan sebagai rekaan (cerham)/cerita khayalan, yang tidak sepenuhnya berangkat dari kenyataan atau sejarah. Bahkan seringkali karya fiksi di luar nalar berpikir manusia itu sendiri.
